By

January 23, 2013   ·  

Saling bertukar ide dan menggabungkan beragam konsep ke dalam sebuah produk kreatif memang bukan lagi kebijakan yang asing di industri hiburan. Dua cabang industri hiburan yang paling sering melakukan ini? Tentu saja adalah industri game dan film. Kemiripan yang kentara di antara keduanya tidak jarang membuat mereka harus bersinergi untuk menciptakan karya yang ditujukan untuk menarik pangsa pasar yang lebih besar untuk masing-masing franchise. Sayangnya, proses kerjasama ini justru lebih sering berakhir menjadi mimpi buruk daripada kesuksesan. Kita justru lebih sering melihat film adaptasi video game yang terlalu menyimpang dari akarnya dan akhirnya, mengecewakan.

Walaupun seringkali berakhir pada hasil yang buruk, bukan berarti tidak ada film adaptasi video game yang mampu tampil memesona dan menarik hati para gamer. Beberapa berhasil merepresentasikan nilai dan atmosfer yang serupa dengan yang ditawarkan oleh versi gamenya, lewat usaha untuk mempertahankan orisinalitas desain setting, cerita, dan karakter. Walaupun ini terhitung sebagai kejadian yang jarang terjadi di Hollywood, orisinalitas seperti ini boleh terbilang menjadi makanan wajib untuk proses sama yang dilakukan oleh sineas film Jepang, bahkan beberapa judul yang lahir dari tangan sang publisher game sendiri. Beberapa di antaranya divisualisasikan lewat aktor, namun tidak sedikit pula yang menggunakan teknologi CGI sebagai pondasi utama. Satu yang pasti, film-film ini berhasil menangkap esensi yang diharapkan oleh gamer.

Jadi dari segudang film adaptasi video game yang bertebaran di pasaran, film-film apa saja yang berhasil membuktikan diri sebagai yang terbaik?

10. Resident Evil: Degeneration

Sebagian besar penggemar Resident Evil tentu sangat mengantisipasi kehadiran RE versi Hollywood ketika pertama kali diluncurkan. Namun keputusan untuk menciptakan timeline cerita yang berbeda dengan karakter “fiktif” – Alice sebagai fokus utama dirasa mencederai harapan para gamer. Untungnya, Capcom juga melahirkan sebuah seri CGI yang tetap mempertahankan orisinalitas yang ada. Resident Evil: Degeneration dan Damnation yang menjadikan Leon sebagai tokoh sentral menawarkan semua hal yang membuatnya lebih pantas sebagai sebuah film Resident Evil yang “sebenarnya”. Hampir sebagian besar gamer yang setia pada franchise ini tentu akan lebih memilih versi asli Capcom ini daripada mimpi buruk yang ditelurkan oleh Hollywood.

9. Tomb Raider

Siapa yang tidak mengenal sosok ikonik Lara Croft dan franchise kebesarannya – Tomb Raider? Menjadikan cerita perburuan harta karun dengan karakter utama wanita yang sensual, Tomb Raider memang menawarkan elemen-elemen dasar yang membuatnya mudah untuk dicintai. Paras cantik Angelina Jolie, kemampuannya membawakan karakter British yang kental, dengan plot perburuan menyusuri misteri-misteri relic yang misterius membuat versi fillm ini tetap mengakar kuat pada esensi versi video gamenya. Karena alasan ini pulalah, Tomb Raider pantas mendapatkan posisi di dalam list ini.

8. Ryu Ga Gotoku (Like A Dragon)

 

Mengusung cerita dunia kriminal bawah tanah Jepang lewat kacamata seorang Yakuza, Sega berhasil membangun sebuah franchise yang sukses untuk dua generasi konsol Sony – Playstation 2 dan Playstation 3. Di tangan sutradara Jepang – Takashi Miike, game ini diadaptasikan menjadi sebuah film yang tetap mengakar kuat pada versi video gamenya, tidak hanya dari sisi desain karakter, tetapi juga setting dan cerita. Pertarungan, efek, bahkan visualisasi karakter benar-benar merepresentasikan franchise yang sudah mencapai seri kelima ini. Satu-satunya yang cukup disayangkan? Hanyalah bentuk sang karakter utama – Kiryu yang tidak sama gagahnya jika dibandingkan dengan versi video gamenya. If only they find someone more….bulky..

7. Assassin’s Creed: Embers

Selama beberapa tahun terakhir ini, gamer yang menggemari franchise Ubisoft – Assassin’s Creed memang tidak hanya sekedar disuguhkan sebuah drama dan aksi yang menakjubkan dari sosok seorang Assassin bernama Ezio, tetapi juga membawa gamer “tumbuh bersama” dengan sosok ini selama kurang lebih tiga seri. Bertempur, berpetualangan, dan akhirnya menyelesaikan misi terakhir bersama memang menghasilkan pengalaman emosional yang unik. Ubisoft seolah tak ingin berhenti. Lewat sebuah film pendek – Assassin’s Creed: Embers, gamer dibawa pada saat-saat terakhir Ezio yang kini sudah lebih jauh menua. Perjalanan pendek yang menjadi sebuah akhir, sekaligus juga kesimpulan dari pengalaman emosional yang sudah terbangun dengan baik selama ini.

6. Silent Hill

Berangkat dengan tanpa ekspektasi sama sekali, Silent Hill justru berhasil tampil memukau dan membuktikan bagaimana sebuah film adaptasi video game seharusnya dikerjakan. Walaupun tidak memesona di sisi akting dan beragam penyesuaian plot yang memang cukup berbeda dibandingkan versi gamenya, film Silent Hill pertama ini berhasil menangkap esensi versi video gamenya sendiri. Atmosfer yang tercipta lewat kabut, hujan abu, dan sirine akan cukup untuk membuat setiap gamer yang sempat mencicipi franchise survival horror Konami ini untuk tersenyum puas. Sensasi horror dan ketakutan intens yang ia tawarkan patut diacungi jempol, dengan desain beragam musuh ikonik yang juga tetap dipertahankan. One of the best!

Pages: 1 2

Related Articles:

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Comments


Readers Comments ()