By

January 22, 2013   ·  

Welcoming the “New” Dante!

Please welcome the “new” Dante!

Sebagian besar penggemar franchise Devil May Cry memang harus diakui, menjadikan sosok Dante yang baru sebagai kambing hitam dan sumber ketakutan bahwa seri reboot yang satu ini akan membawa esensi yang menyimpang dari franchise yang mereka kenal selama ini. Namun benarkah demikian? Semakin jauh JagatPlay menjajal dan terlibat dalam cerita yang ada, maka semakin terlihat dan dapat dimengerti pula lah keputusan Ninja Theory untuk merombak keseluruhan tampilan sang karakter utama ini. Bagaimana tidak? Dengan mengusung cerita, setting, dan timeline yang baru, kehadiran Dante yang “baru” ini menjadi begitu esensial.

Ninja Theory sendiri menjadikan “amarah” gamer ini sebagai sebuah lelucon lewat easter egg, tidak hanya diposisikan sebagai humor satir, tetapi juga seolah memberikan legitimasi mengapa mereka butuh untuk menciptakan desain Dante yang baru. Tidak sampai 1 jam sejak awal permainan, Dante yang tengah bertempur melawan para iblis tidak sengaja menemukan sebuah wig ala Dante lama yang jatuh di atas rambutnya. Harus diakui, memaksakan desain Dante lama ke dalam DmC ini boleh jadi akan menjadi sebuah blunder. Bagaimana tidak? Untuk sebuah setting dunia yang merepresentasikan kondisi nyata, Dante versi lawas yang lebih dekat pada dunia fiksi dan fantasi tentu saja akan terlihat absurd. Capcom butuh sosok baru yang merepresentasikan karakter “lebih manusia” yang cocok dengan tema ini.

Ninja Theory menjadikan cercaan gamer di masa lalu sebagai humor satir di salah satu easter egg yang ada. Apa jadinya jika NInja Theory memutuskan untuk mempertahankan desain lawas Capcom? Absurd!

Desain Dante yang “baru” ini bukanlah sekedar lahir dari kebutuhan Ninja Theory untuk melahirkan sensasi dan popularitas semata, tetapi juga untuk menciptakan atmosfer yang tepat sesuai dengan timeline dan setting baru yang ada.

Sementara untuk Anda yang terus berteriak menuntut rambut putih untuk Dante, Ninja Theory juga menjawab harapan tersebut. Bagaimana caranya? Anda harus mencari tahu sendiri.

Jika dibandingkan, hampir tidak ada perbedaan yang mendasar pada “identitas” sang Dante baru dan Dante lama, khususnya yang mewakili usia mudanya di Devil May Cry 3. Keduanya sama-sama kuat luar biasa, namun dengan tingkat kesombongan yang tidak perlu diragukan lagi. Alih-alih dingin dan serius seperti di dua seri pertama, Dante muda ini lebih playful dengan semangat masa muda yang terpancar kuat dari sosoknya. Satu-satunya yang membuatnya berbeda hanya ada pada kosakata kasar yang tampaknya tidak bisa lepas dari sosok baru ini. Untuk semua gamer yang sempat pesimis dan terus mengeluhkan perubahan desain pada sosok Dante di seri reboot ini, Anda hanya butuh 10 menit untuk menjajal game ini untuk langsung memahami bahwa perubahan ini bukanlah cara Ninja Theory untuk sekedar mengejar popularitas instan, tetapi menjadi bagian yang tidak bisa lagi terpisahkan.

Kesimpulan

Terlepas dari semua kekurangan yang ia tunjukkan, DmC telah berhasil membuktikan diri sebagai sebuah seri reboot yang menakjubkan. Ia berhasil menciptakan sebuah atmosfer baru yang menyegarkan, tetapi sekaligus juga menyempurnakan identitas lama yang membuat franchise ini begitu dicintai.

Tidak mudah memang untuk meluncurkan seri reboot dari sebuah franchise yang sudah memiliki basis fans yang masif, bahkan dapat dikatakan tumbuh menjadi identitas yang tidak terpisahkan dari industri game sendiri. Namun Ninja Theory dan Capcom membuktikan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan. DmC menjadi bukti yang nyata akan hal tersebut. Meramunya dalam sebuah timeline, setting, dan desain karakter yang benar-benar baru, DmC masih menawarkan esensi gameplay yang sama, yang membuatnya begitu dicintai di masa lalu. Ia bahkan menyempurnakannya lewat sebuah sistem pertarungan yang lebih dinamis, cepat, dan animasi gerakan yang lebih memanjakan mata. Dengan kualitas visualisasi yang lebih baik dan soundtrack yang mendukung, tidak ada alasan untuk tidak mencintai seri reboot ini.

Salah satu kelemahan yang mungkin cukup dirasakan adalah tingkat kesulitan yang boleh terbilang, menjadi jauh lebih mudah. Bermain di tingkat kesulitan normal, DmC bukanlah game yang sulit untuk diselesaikan, bahkan tanpa menggunakan item sekalipun. Hampir semua musuh memiliki pola serangan yang mudah ditebak dan memiliki kelemahan dan pola serangan yang mudah untuk dipelajari. Mencari rating style dengan beragam kombinasi serangan juga bukan lagi sebuah privilege yang hanya mampu dicapai oleh mereka yang benar-benar menguasai game ini. Dengan rajin berganti mode dan membuka serangan terkuat tiap-tiap senjata, maka rating “SSS” sudah pasti di tangan. Desain Boss yang tidak lagi seepik seri-seri dahulu juga menjadi sesuatu yang sangat disayangkan.

Terlepas dari semua kekurangan yang ia tunjukkan, DmC telah berhasil membuktikan diri sebagai sebuah seri reboot yang menakjubkan. Ia berhasil menciptakan sebuah atmosfer baru yang menyegarkan, tetapi sekaligus juga menyempurnakan identitas lama yang membuat franchise ini begitu dicintai. Tidak hanya menghapus keraguan, Ninja Theory dan Capcom berhasil menciptakan sebuah seri Devil May Cry dengan kualitas superb yang pantas untuk diantisipasi di masa depan. Menjadi dasar untuk sebuah sekuel seri yang baru? Bring it on!

Kelebihan

Animasi serangan yang ditawarkan di DmC terbaru ini terasa lebih keren dan “halus” dibandingkan seri-seri sebelumnya. Sinematik, tetapi juga dengan kesan destruktif yang kental.

  • Visualisasi yang lebih baik
  • BGM dan soundtrack mumpuni
  • Angel-mode dan Devil-Mode yang menawarkan pertarungan lebih dinamis
  • Plot yang pantas untuk diacungi jempol
  • Desain karakter baru yang tetap memesona
  • Sistem upgrade dan item yang kini terpisah
  • Replayability dengan tingkat kesulitan lebih tinggi
  • Animasi serangan yang lebih keren

Kekurangan

Dibandingkan dengan seri-seri terdahulu, DmC ini memang harus diakui terasa lebih mudah.

  • Gameplay yang terasa lebih mudah jika dibandingkan seri-seri sebelumnya
  • Desain Boss yang tidak seepik dan semenarik dulu
  • Sistem kamera yang mungkin mengganggu di beberapa titik

Cocok untuk: penggemar Devil May Cry, pencinta game stylish hack and slash, penggemar game action

Tidak cocok untuk gamer: yang masih bertahan dan menggerutu soal desain Dante yang berubah.

 

Pages: 1 2 3

Related Articles:

Tags: , , , , , , , ,

Comments


Readers Comments ()