By

February 4, 2013   ·  

 

Tahun 2013 memang akan menjadi tahun yang menarik untuk industri game. Selain kedatangan game-game berkualitas tinggi yang menarik untuk dijajal, beragam platform baru juga bersiap untuk bersaing di dalamnya. Tidak lagi hanya dikuasai oleh Nintendo, Sony, dan Microsoft, Valve juga memutuskan untuk ikut andil dalam “pertempuran” ini. Dengan produk andalan mereka – Steam Box yang dinamis, Valve berusaha melakukan penetrasi pasar jauh lebih dalam. Sebagian besar gamer tentu akan langsung menyimpulkannya sebagai petarung baru yang akan berhadapan dengan konsol-konsol populer. Namun nyatanya? Valve justru lebih melihat Apple sebagai saingan terberat.

Gabe Newell, pentolan Valve mengemukakan kekhawatirannya ini di sela-sela seminarnya di University of Texas. Bukannya takut pada Sony, Nintendo, ataupun Microsoft, Valve justru lebih melihat Apple sebagai saingan terberat untuk Steam Box. Apa pasal? Walaupun belum ada konfirmasi dari pihak Apple sendiri, Valve yakin perusahaan dengan pangsa pasar mobile yang cukup masif ini akan menuju ke ruang tamu dengan platform yang dibangun khusus. Apalagi Apple selalu dikenal sebagai trend-setter yang mampu mengubah jalur pasar ke arah yang sulit untuk diprediksi. Newell khawatir bahwa Apple akan mampu melakukan hal tersebut bahkan sebelum industri PC mampu bersatu dan tumbuh menjadi platform gaming yang lebih diminati.

Daripada melihat konsol-konsol racikan Sony, Microsoft, dan Nintendo yang sudah menguasai pasar sejak lama sebagai ancaman, Valve justru lebih “takut” kepada Apple karena kemampuannya untuk merubah trend pasar. Apple juga dapat memastikan platform gaming yang mereka rilis sukses dengan pasar masif yang berada di belakangnya. Apakah ketakutan Valve ini beralasan?

Apple sendiri memang sempat beberapa kali dirumorkan akan menciptakan platform gaming dengan memaksimalkan perangkat Apple TV yang ada, namun tidak pernah dikonfirmasikan secara resmi. Apakah keputusan Valve untuk melihat Apple sebagai ancaman yang lebih besar daripada Sony, Microsoft, dan Nintendo cukup beralasan? Atau sekedar paranoia? Bagaimana menurut Anda sendiri?

Related Articles:

Tags: , , , , ,

Comments


Readers Comments ()