By

February 7, 2013   ·  

Berapa banyak dari Anda yang merasa kecewa dengan kualitas gameplay yang ditawarkan oleh Diablo 3? Kami sendiri boleh terbilang sebagai gamer yang merasa kurang puas dengan beragam elemen yang ditawarkan Blizzard di seri yang satu ini. Bagaimana tidak? Menjalani proses pengembangan selama bertahun-tahun dengan berbagai ekspektasi dan klaim yang meluncur, baik dari informasi resmi ataupun sekedar rumor, Diablo 3 justru datang dengan mekanisme yang mengikis akar identitas yang membuatnya begitu dicintai di masa lalu. Alih-alih memberikan kebebasan untuk menciptakan karakter, Diablo 3 didesain dengan format MMO yang terasa tanggung, lebih mengutamakan sekadar replayability di tingkat kesulitan dan farming equipment. “Celah” inilah yang kemudian mendorong banyak developer untuk menghidupkan kembali Diablo yang selama ini dikenal oleh gamer.

Sebagai seorang gamer yang begitu merindukan cita rasa Diablo 2 yang lebih bebas dan kompleks daripada sekedar melempar skill secara acak, kehadiran Torchlight II beberapa bulan setelah Diablo 3 menjadi oase di tengah keringnya game RPG isometrik yang mampu menawarkan sensasi yang serupa di masa lalu. Namun tidak hanya Torchlight II, sebuah game bergenre sama dari Grinding Gear Games – Path of Exile akhirnya siap untuk menjalani masa open beta. Tidak “seperti” Diablo ataupun Torchlight, distribusi Path of Exile memang didesain untuk mencerminkan sebuah MMO action RPG yang mampu memuat jumlah pemain secara masif dalam satu server. Perbedaan yang paling mendasar mungkin pada kemampuannya untuk merepresenatasikan setting dan pertempuran yang lebih real.

Lantas apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Path of Exile ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai “Diablo” yang bahkan lebih baik daripada Diablo 3? Apakah Anda pantas untuk menghabiskan bandiwth dan menjajalnya?

Visualisasi yang Lebih Realistik

Ketika game-game seperti Diablo dan Torchlight menawarkan visualisasi yang lebih mengesankan dunia fantasi yang lebih kartun, Path of Exiler menawarkan atmosfer yang lebih “serius” nan realistik.

Walaupun mengusung sistem pertempuran yang serupa dengan sebagian besar RPG isometrik yang dirilis ke pasaran, Path of Exile masih mengusung identitas yang berbeda dibandingkan dengan Diablo 3 maupun Torchlight II sekalipun. Salah satu yang paling menonjol? Tentu saja visualisasinya yang lebih dekat dengan setting yang lebih realistis dibandingkan dua judul yang lain. Desainnya sama sekali tidak mencerminkan sebuah kisah fantasi penuh warna yang mungkin akan memanjakan mata Anda. Namun satu yang pantas untuk diacungi jempol, engine buatan developer ini sendiri berhasil menawarkan kualitas grafis penuh detail. Tidak hanya dari setting dunia yang ada, tetapi juga dari desain setiap karakter yang hadir. Ini tentu saja menjadi nilai tambah yang mungkin menarik para penggemar Diablo maupun Torchlight.

RPG Isometrik dengan Beberapa Mekanisme Unik

Sebagai sebuah game RPG isometrik, Path of Exile memang masih menawarkan mekanisme battle yang serupa dengan mouse sebagai peripheral utama untuk menggerakkan dan memerintahkan sang karakter utama untuk menyerang.

Seperti layaknya sebagian besar game RPG isometrik yang beredar di pasaran, Anda akan diminta untuk memilih satu dari sekian job yang ditawarkan di awal permainan. Setiap pekerjaan dan kelas ini tentu saja tampil unik, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Beberapa menonjol di sisi kekuatan fisik, sementara yang lain lebih mengandalkan serangan magic secara masif. Anda tentu saja harus memilih kelas yang memang merepresentasikan gaya permainan Anda, setidaknya untuk memastikan Anda akan menikmati Path of Exile ini dalam pengalaman senyaman mungkin. Sebagai sebuah game MMO, karakter yang Anda pilih kemungkinan besar akan terus bertahan dengan Anda dalam waktu yang sangat lama.

Lantas bagaimana dengan sisi gameplaynya sendiri? Mekanismenya sendiri tidak banyak berbeda dengan beragam judul bergenre serupa yang sudah menyebar di industri game sebelumnya, termasuk Diablo dan Torchlight. Dengan sudut pandang yang terletak isometris di atas kepala, Anda dapat melihat lingkungan dengan jarak yang cukup luas, termasuk musuh-musuh yang harus Anda hadapi. Mouse akan memainkan peranan yang lebih penting, dengan gerak dan serang yang didasarkan pada point dan click. Tidak mungkin membicarakan sebuah game RPG isometrik tanpa menyinggung sistem skill yang memang didesain sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Path of Exile memungkinkan Anda untuk mengkustomisasi klik kiri, kanan, dan wheel untuk mengakses skill-skill andalan Anda dengan cepat. Sementara untuk ekstra skill berlebih? Anda bisa mengkustomisasinya di QWERTY. Sementara slot angka 1 – 5 akan digunakan untuk mengakses item yang dibutuhkan dengan cepat.

Game ini tentu saja menawarkan beragam karakter default dengan kelas berbeda yang bisa Anda pilih di awal permainan. Masing-masing kelas ini tentu saja memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri.

Beragam shortcut andalan yang sering Anda gunakan dapat Anda sematkan di tiga tombol utama mouse. Punya skill berlebih? Anda bisa men-setnya di tombol QWERTY.

Namun berbeda dengan game RPG isometrik lain yang memberikan dan membagi skill berdasarkan kelas masing-masing karakter, Path of Exile menawarkannya dalam bentuk beragam gem yang dapat disematkan dalam slot equipment Anda. Tidak hanya itu saja, semakin sering sebuah skill digunakan, maka semakin bertambah kuat pulalah ia.

Namun ada satu mekanisme yang cukup berbeda pada Path of Exile dibandingkan dengan RPG isometrik yang lain. Menjual kebebasan semaksimal mungkin sebagai nilai jual yang paling utama, sang developer – Grinding Gear Games juga menerapkan hal tersebut untuk bagian skill. Terlepas dari kelas apapun yang Anda gunakan, Anda tetap memiliki kesempatan untuk menggunakan skill dari kelas yang lain, bahkan mengkombinasikannya untuk menerapkan gaya permainan yang Anda inginkan. Benar sekali, sistem skillnya tidak “menempel” pada kelas yang Anda gunakan. Mereka disematkan dalam bentuk gem-gem beragam warna yang harus Anda pasang di slot equipment yang Anda kenakan. Setiap gem ini akan berisi skill-skill yang secara otomatis akan dapat Anda gunakan. Gem ini akan memuat informasi yang cukup jelas, untuk membantu gambaran kelas, sistem, dan cara penggunaannya. Semakin sering Anda menggunakan skill yang ada, maka kuat pula skill tersebut. Ia menganut sistem experience points dan leveling.

Kesan MMO yang kental juga diperkuat dengan penerapan sistem item penyembuh yang ada. Tidak lagi langsung habis digunakan dan harus dibeli berulang kali, setiap flask potion baik untuk health, mana, maupun kecepatan dapat beregenerasi dalam waktu tertentu. Oleh karena itu, tidak perlu menahan diri untuk menggunakannya. Anda dapat membeli dan mencari flask yang lebih besar untuk proses penyembuhan yang lebih cepat dalam sekali minum, dan tentu saja, berburu flask dengan tingkat regenerasi yang lebih tinggi. Flask habis? Anda bisa lari dari pertempuran untuk memulai proses regenerasi natural untuk mana dan health, sekaligus juga menunggu flask Anda untuk penuh kembali. Fitur menarik ini tentu saja akan memudahkan Anda untuk melakukan grinding exp dan equipment secara maksimal.

Ada segudang side quest yang bisa anda tempuh. Map yang ditawarkan juga cukup membantu Anda mencari arah dimana quest harus dilakukan.

Jangan takut untuk kehabisan health, mana, dan speed potion. Mengusung sistem flask yang dapat digunakan berulang kali dan beregenerasi, Path of Exile akan memastikan Anda dapat berjuang lebih lama di dalam pertempuran.

Alih-alih menggunakan sistem uang konvensional, game ini mengusung sistem barter. Ini berarti, dalam proses jual-beli, barang Anda akan ditukar dengan barang lain yang dianggap memiliki nilai yang serupa. Barang yang ditukar biasanya cukup penting, sehingga meninggalkan dilema tersendiri.

Money is the source of the all evil, namun Grinding Gear Games tampaknya punya cara baru untuk memastikan sistem permainan yang lebih balance, setidaknya untuk memastikan bahwa para pendatang baru di Path of Exile memiliki kesempatan yang sama untuk membeli item-item yang dibutuhkan. Percaya atau tidak, mereka memutuskan untuk menghilangkan konsep uang dan mengusung mekanisme yang lebih “purba” – barter. Benar sekali, alih-alih menuntut uang dalam jumlah tertentu, setiap benda yang Anda inginkan akan membutuhkan syarat untuk ditukarkan dengan item-item umum. Sebagai contoh? Anda bisa “membeli” sebuah armor dengan menukarkan dua scroll of identity dan sebuah scroll of portal, misalnya. Dilema tentu muncul karena sebagian besar item yang harus ditukarkan ini biasanya memang sangat dibutuhkan dan hanya bisa didapatkan lewat drop monster secara random. Hal yang sama pula juga akan terjadi ketika Anda berusaha menjual item sisa yang Anda dapatkan. Maka yang Anda dapatkan hanyalah item lain yang mungkin tidak Anda inginkan. Oleh karena itu, akan jauh lebih menguntungkan jika Anda melakukan pertukaran item yang Anda butuhkan dengan player yang lain.

Pages: 1 2 3

Related Articles:

Tags: , , , , , , ,

Comments


Readers Comments ()