By

April 15, 2013   ·  

Mengumpulkan ribuan gamer di dalam sebuah dunia, bertempur dan berpetualang bersama, berinteraksi dan bekerjasama untuk mencapai misi dan visi yang satu, siapa yang mengira bahwa konsep seperti ini akan mampu terwujud 10 tahun yang lalu. Namun dengan semakin pesatnya pertumbuhan internet, konsep gaming sendiri mulai mengalami perubahan yang signifikan. Darinya lahirlah sebuah genre yang terhitung dinamis dan adiktif, dan tentu saja berbeda dengan game-game yang selama ini mondar mandir di industri game – MMO. Sesuai dengan namanya “Massively Multiplayer Online”, nilai jual genre ini terletak pada jumlah pemain masif serta interaksi unik yang dapat muncul darinya, bahkan mampu mensimulasikan kehidupan sosial dalam skala tertentu. Maraknya format Free to Play juga menjadi salah satu jet pendorong bangkitnya genre yang satu ini.

Setiap produk yang bersaing di industri MMO memang berusaha menciptakan identitasnya sendiri, membuatnya berbeda satu sama lain. Kesamaan mekanik yang menuntut Anda untuk bergerak dari satu quest ke satu quest lainnya, mencari loot terbaik, bekerja sama untuk menundukkan Boss yang masif, dan berinteraksi sosial memang berpotensi untuk menciptakan sensasi yang monoton. Perbedaan diciptakan tidak hanya dari tema, dunia, desain karakter, hingga beberapa penambahan fitur yang menarik, tetapi juga kebebasan untuk mensimulasikan sebuah dunia maya yang kompleks. Namun tidak sedikit game online yang lebih menyuntikkan sesuatu yang lebih dangkal sebagai nilai jual utama. Untuk urusan yang satu ini – Scarlet Blade menjadi bukti yang paling nyata.

Mengudang kontroversi di dunia maya, Scarlet Blade memang harus diakui tampil sebagai sebuah game yang super unik, tidak dari inovasi mekanik gameplay, tetapi tampilan yang ada. Seolah untuk memuaskan hasrat “gamer” yang haus akan fan-service, Aeria Games menyuntikkan Scarlet Blade dengan tingkat sensualitas yang luar biasa. Kita tidak hanya sekedar membicarakan konsep desain pakaian dan tubuh karakter wanitanya yang mendukung hal tersebut, tetapi juga keseluruhan atmosfer yang ada. Scarlet Blade menjadi monumen yang menyoroti bagaimana “Tubuh” justru menjadi fokus yang lebih diperhatikan daripada unsur yang seharusnya lebih esensial – “Gameplay”.

Hadir dengan Mekanisme MMO yang Mainstream

Ketika dunia berada di ambang kehancuran dan umat manusia mulai punah, usaha untuk bertahan hidup dan masa depan hanya terletak pada satu nama – Arkana. Program klon super-soldier yang satu ini diharapkan mampu menjadi ujung tombak, tidak hanya untuk melahirkan kembali umat manusia, tetapi juga mengusir para alien yang menjadi alasan di balik tragedi ini. Dan anehnya, semua Arkana adalah wanita.

Berperan sebagai Arkana, klon pasukan super yang menjadi harapan terakhir bumi, Anda dapat memilih satu dari dua kubu yang ditawarkan – Royal Guards dan Free Knights.

Tidak hanya ras, ada beragam kelas yang ditawarkan.

Seperti halnya game MMORPG yang lain, Anda akan diminta untuk memilih satu di antara dua kubu yang tersedia: Royal Guard yang diposisikan sebagai harapan “Mother” untuk melahirkan kembali dunia, serta Free Knights yang tidak terikat pada konsep ideal yang satu ini. Selain kebebasan untuk mengkustomisasi tampilan (dan Anda akan langsung menyadari “nilai jual” game yang satu ini), Scarlet Blade juga memungkinkan Anda untuk memilih satu dari enam job yang disediakan, yang tentu saja dengan beragam senjata dan skill uniknya masing-masing. Membaca deskripsi yang ada, tidak sulit untuk mengasosiasikan job-job ini dengan job MMO lain yang bertebaran di pasaran.

Mekanik gameplay-nya sendiri tidak berbeda. Grinding dan menyelesaikan quest secara beruntut akan menciptakan pengalaman adiksi tersendiri. Sayangnya – variasinya sedikit. Anda akan lebih banyak diminta untuk menghabisi monster dalam jumlah tertentu.

Ada fitur auto-travel yang memungkinkan Anda bergerak ke berbagai quest secara otomatis. Jadi tidak perlu lelah untuk menavigasinya.

Konsep grinding untuk mendapatkan level dan loot memang sudah lama ditinggalkan oleh MMO dan berganti pada pengalaman berkelanjutan dari menyelesaikan satu quest ke quest lainnya. Hal yang sama juga diterapkan Aeria untuk Scarlet Blade ini. Sejak awal permainan Anda akan dibekali dengan serangkaian quest yang tidak akan pernah selesai. Menyelesaikannya tidak hanya akan membantu Anda mendapatkan experience, tetapi juga memperoleh beberapa loot terbaik sesuai dengan progress permainan Anda. Namun berbeda dengan sebagian besar MMO yang mengharuskan Anda berbicara dengan NPC terlebih dahulu, main dan side quest ini akan hadir secara terus-menerus, dan muncul dalam bentuk ikon kecil di atas item, memungkinkan Anda untuk bergerak cepat dari satu titik ke titik lainnya. Bagian terbaiknya? Tidak perlu bingung untuk mencari quest yang dibutuhkan, game ini juga menyediakan fitur auto-travel yang memungkinkan karakter Anda bergerak menuju tempat quest secara otomatis.

Lantas bagaimana dengan sistem battle-nya sendiri? Seperti layaknya game MMO yang lain, Anda akan sangat bergantung pada skill untuk menyelesaikan setiap pertempuran yang ada. Skill akan menjadi mata pedang yang akan menghapus setiap ancaman dengan cepat, apalagi jika Anda memang mengkombinasikannya dengan sangat baik. Bar Health Point dan Skill Point Anda juga akan beregenerasi ketika berada di luar battle dan akan diperkuat ketika Anda mengaktifkan mode duduk. Berhasil mendapatkan pets dan memperkuatnya, maka Anda akan mendapatkan beberapa buff ekstra selama ia diaktifkan. Tidak hanya bertempur dalam mode normal, Anda juga dapat mengaktifkan mode Mecha untuk waktu yang terbatas, memungkinkan Anda untuk berubah menjadi robot ekstra besar yang mampu melemparkan damage yang lebih masif. Bar untuk mengaktifkan mode ini juga akan beregenerasi seperti yang terjadi pada HP dan SP.

Salah satu keunikan Scarlet Blade? Setiap karakter dapat berubah menjadi mecha untuk waktu yang terbatas untuk menghasilkan damage yang lebih besar dan skill yang unik.

Sebagai sebuah game F2P, Scarlet Blade juga menyediakan opsi item mall yang dapat dibeli dengan mata uang khusus bernama “AP”. USD 1 = 100 AP.

Berbagai elemen khas MMO juga tetap dipertahankan. Looting menjadi elemen yang krusial dengan kesempatan untuk melakukan proses synthesis dan mendapatkan equipment yang lebih maksimal, tentu dengan resiko tertentu. Namun sebagai sebuah game yang mengusung MMO dengan karakteristik Free to Play, Aeria juga menyuntikkan item mall ke dalam Scarlet Blade. Menggunakan uang nyata, Anda bisa membeli mata uang khusus bernama “AP” untuk mendapatkan serangkaian item dan equipment yang ada secara instan, baik untuk memberikan tambahan status secara permanen atau sekedar “mempercantik” sisi kosmetik setiap karakter yang ada. Sebuah ekstra fitur untuk sebuah elemen yang memang menjadi nilai jual utama game yang satu ini.

Tidak ada mekanisme distribusi poin pada atribut, keunikan tiap karakter ditentukan dari skill yang diambil.

Untuk setiap kenaikan level yang Anda dapatkan, Anda akan berkesempatan untuk mendistribusikan skill points yang ada untuk memperkuat atau mendapatkan skill yang cukup bervariasi, dari yang sifatnya aktif dan pasif. Sayangnya tidak ada fitur untuk menciptakan karakter yang Anda inginkan dengan memodifikasi sisi atribut karakter karena ia akan secara otomatis naik begitu Anda mendapatkan level. Dengan equipment yang juga didapatkan dari quest, tidak mengherankan jika Anda akan menemukan desain antar karakter yang terlihat mirip secara visual, terlepas dari bentuk wajah dan skill yang mereka pilih.

Pages: 1 2 3

Related Articles:

Tags: , , , , ,

Comments


Readers Comments ()