Gaming VIP: Hideo Kojima

Reading time:
November 10, 2011

Dunia gaming memang lahir dari basis ide dan kreativitas para pelaku yang bekerja di belakang layar. Tidak jarang proses ini memakan waktu hingga tahunan untuk mendapatkan sebuah kualitas yang pantas untuk tiba di mesin gaming Anda. Tidak sekadar bekerja keras dan kreativitas, mewujudkan sebuah angan menjadi sebuah hasil karya yang nyata juga butuh komitmen dan konsistensi yang sudah pasti melelahkan. Pada akhirnya? Mereka yang bertahan melalui proses panjang inilah yang akan dikenal sebagai bibit berkualitas di industri game. Kualitas yang tidak hanya sekadar “kualitas”, namun yang mampu memberikan sebuah nilai lebih dan inovasi.

Di antara tokoh sentral industri game yang mampu melakukan hal tersebut, nama Hideo Kojima layak disandingkan di dalamnya. Siapa yang tidak mengenal si jenius yang satu ini? Saat publisher lain berlomba-lomba untuk menghadirkan game dengan plot dan gameplay yang konvensional, Kojima hadir dengan sebuah konsep yang lebih inovatif. Ia juga dikenal atas karya-karyanya yang mampu menampilkan visualisasi yang epik lewat dramatisasi yang tak ubahnya sebuah film Hollywood. Sebuah kualitas yang hingga kini masih mampu memukau gamer dan kritikus.

Mungkin hampir semua gamer mengenal sosok Hideo Kojima, walaupun tidak semuanya mengagumi sosoknya. Konsep gaming pria Jepang berkacamata ini memang lebih menitiberatkan ke sisi plot sehingga tidak jarang terkesan berbelit-belit dan kompleks. Belum lagi ia memang terkenal selalu menghadirkan cut-scene yang hampir mengisi setengah dari keseluruhan game yang diusung. Gaya penyampaiannya memang sinematik dan memanjakan mata, namun bagi gamer yang ingin segera menjajal lebih banyak aksi, konsep Kojima ini tidak terlalu populer. Hideo Kojima juga seringkali menyuntikkan berbagai paham filosofis yang membuat game karyanya semakin terasa berat.

Untuk memberikan sedikit tribut dan menyelami peran Hideo Kojima di dalam industri game, tidak ada salahnya kita mengetahui sedikit sejarah di balik semua kreativitas dan karya yang sudah ia wujudkan. Apakah ia pantas atau tidak menjadi seorang Gaming VIP? Saya yakin kita sepakat tentang hal yang satu ini. Tidak ada yang lebih pantas daripada seorang Hideo Kojima.

Siapa itu Hideo Kojima?

Hideo Kojima dilahirkan di Tokyo, 24 Agustus 1963. Lahir dari keluarga pekerja, Kojima menjalani masa kecil yang tidak mudah. Jika anak-anak sebayanya seringkali ditemani orangtuanya, Kojima kecil sudah berjuang untuk bersahabat dengan kesendiriannya. Kedua orangtuanya yang pekerja membuat rumah seringkali sepi setiap kali ia pulang dari sekolah. Dari sanalah ia belajar untuk mengurus dirinya sendiri. Rasa sepi ini ternyata membawa dampak psikologis yang cukup berat untuk diri Kojima hingga saat ini.

Tidak cukup bekerja, keluarga Kojima juga termasuk keluarga yang sering berpindah tempat tinggal. Dilahirkan di Tokyo, Kojima sempat pindah dan tinggal di kota kecil bernama Shirasaki dan kemudian bergerak kembali ke Kawanishi yang terletak di daerah Kansai. Kesendirian yang ia rasakan kemudian perlahan membangun sisi “sentimentil” dan kreativitasnya yang besar. Hideo Kojima mulai tertarik kepada hal-hal yang artistik, seperti menulis, ilustrasi, dan sinematografi. Ketiga hal yang akan membuat namanya terkenal di seluruh dunia, khususnya kalangan gamer.

Sebuah Sejarah Lahir

Hideo Kojima tidak serta-merta langsung berhasil secara ajaib di industri game begitu saja. Bahkan pada awalnya, ia sama sekali tidak berminat dengan dunia yang satu ini. Fokus utamanya justru terletak di dunia tulis-menulis. Di masa mudanya, ia sempat menulis sebuah cerita pendek sepanjang 400 halaman, namun tidak pernah berhasil menarik hati para penerbit. Dari kekecewaan inilah, ia kemudian memutuskan untuk membanting setir dan lebih fokus menjajal sinematografi bersama dengan teman kuliahnya.

Mengaku terinspirasi dari begitu banyak anime yang ia tonton selama masa mudanya, Hideo Kojima hidup dengan penuh “ide gila” di kepalanya. Cara terbaik untuk menyalurkannya? Hijrah ke industri game yang memang butuh lebih banyak pekerja seperti dirinya. Usaha pertama Kojima untuk masuk lewat Konami ternyata berbuntut kegagalan akibat konsepnya yang sulit diterima. Namun, usaha dan kerja keras Kojima akhirnya membawa ia masuk ke dalam MSX home computer division milik Konami di tahun 1986. Pekerjaannya? Sebagai seorang desainer dan planner. Pekerjaan yang memaksimalkan bakatnya.

Perjalanan awalnya tak mudah, berbagai ide yang ia tawarkan di proyek-proyek awal lebih sering berakhir ke penolakan dari otoritas yang lebih tinggi. Kesempatan emas datang ketika ia diminta untuk mengambil alih pekerjaan sebagai pengawas sebuah title proyek baru bernama Metal Gear. Di sinilah Kojima memainkan kreativitasnya. Ia menyertakan seorang karakter bernama Solid Snake dalam sebuah genre yang masih langka di kala itu, sebuah game stealh-action. Sebagai salah satu game pertama yang hadir dengan gameplay ini, Metal Gear berhasil menarik perhatian industri game di kala itu.

Hideo Kojima melahirkan lebih banyak game fenomenal setelah itu. Sebut saja Snatcher, sebuah graphic adventure game yang hingga kini masih diakui sebagai salah satu yang terbaik. Berbagai pilihan aksi, kebebasan, hingga voice acts game ini berhasil mengundang decak kagum. Konsep dunia masa depan yang kelam dengan plot politik dan konspirasi yang berat, Snatcher membuat banyak gamer jatuh cinta pada Kojima. Sebuah masterpiece yang tidak mungkin dilupakan.

Industri game tumbuh semakin hidup dan teknologi yang diusungnya terus berkembang. Bagi Kojima, ini adalah kesempatan yang lebih baik untuk membuktikan diri. Metal Gear 2: Solid Snake dan SD Snatcher di kala itu berhasil mengundang pujian dan kritik positif dari kalangan industri game. Pada tahun 1994, Kojima melahirkan salah satu game sci-fi paling memorable di masanya, Policenauts. Game yang sempat diriilis untuk 3D0, Playstation, dan Sega Saturn ini berhasil membawa nama Kojima lebih tinggi.

Namun jika kita membicarakan tonggak popularitas Kojima di industri game, Metal Gear Solid (MGS) yang dirilis di masa kejayaan Playstation lah yang membuat namanya semakin dikenal. Sebuah game stealth-action dengan model 3D, voice acting, plot yang berat, desain karakter antagonis dan protagonis yang keren, sistem senjata yang lengkap, humor-humor ringan, gameplay yang menarik, dan cut-scene yang sinematik tentu saja menarik perhatian industri game. MGS merupakan salah satu franchise game terbaik sepanjang masa, bahkan hingga saat ini. Metal Gear Solid Playstation ini menjadi basis akan kesuksesan selanjutnya yang tidak terbendung.

Lebih banyak judul Metal Gear hadir setelah Sony merilis konsol generasi selanjutnya, Playstation 2. Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty juga mencapai kesuksesan yang luar biasa dengan respon industri game yang sangat positif. Grafis yang superb di kala itu, berbagai physics yang berjalan sempurna, desain karakter, hingga plot yang kini lebih filosofis dan berat membuat game ini semakin dicintai. Mengekor seri sebelumnya, Metal Gear Solid 3: Snake’s Eater yang merupakan sebuah prekuel juga menjadi sebuah game yang fenomenal. Hideo Kojima menyuntikkan elemen baru seperti kamuflase dan makanan ke dalam seri ini. Namun satu hal yang tak bisa dikalahkan, MGS 3 menghadirkan banyak cut-scene sinematik yang mengundang decak kagum. Sebuah signature-move ala Hideo Kojima yang masih valid untuk memukau gamer hingga saat ini.

Apakah Hideo Kojima hanya terkenal lewat seri Metal Gear Solid belaka? Tentu saja tidak. Sembari mengerjakan konsep untuk MGS 2 dan 3 di Playstation 2, Hideo Kojima juga melahirkan sebuah franchise sci-fi mecha baru bernama Zone of the Enders. Pertarungan yang bergerak cepat dan epik serta desain mecha yang keren menjadi nilai jual Z.O.E. Tentu saja Kojima tetap mempertahankan gaya pembawaan plot yang sinematik ke dalamnya. Petualangan Jehuty di kala itu semakin membuat banyak gamer mengenal nama Hideo Kojima dan menjadi pengikutnya yang setia. Zone of Enders sendiri sudah dirilis dalam dua seri di Playstation 2.

Langkah-langkah berani Kojima tentu berlanjut hingga saat ini. Menutup keseluruhan seri Metal Gear Solid dengan Metal Gear Solid 4: Guns of Patriots merupakan sebuah langkah yang berani. Memberikan kematian bagi Solid Snake yang sudah menemani dirinya lebih dari 20 tahun tentu bukan pekerjaan yang mudah. Namun, Kojima berhasil melakukannya dengan cara yang elegan, sekaligus tetap mempertahankan identitas “unik”nya. Sebuah langkah yang dianggap sebagai kesempurnaan oleh berbagai media, penutup tetralogi yang ciamik.

Mengapa Hideo Kojima Layak Menjadi Gaming VIP?

Jika Anda mengajukan pertanyaan ini untuk sosok seperti Hideo Kojima, jawaban yang muncul seolah menjadi ketetapan yang absolut, sesuatu yang tidak bisa disangsikan atau dipercayakan. Tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan kepantasan kojima menjadi gaming VIP. Anda cukup melihat jajaran karya yang sudah ia hasilkan dari mesin gaming masa lampau hingga saat ini. Jika tidak ada satu pun yang sempat menarik perhatian dan insting gaming Anda sama sekali, masalahnya terletak di Anda.

Kemampuan dan konsistensi Hideo Kojima dalam melahirkan inovasi-inovasi fenomenal di jagat gaming menjadi poin yang paling utama. Kreativitas di balik otak jeniusnya memang tak tertandingi. Ketika semua game hadir konvensional, ia membawa stealth-action ke permukaan industri dan menarik perhatian. Ketika yang lain mengekor, ia datang membawa konsep Snatcher yang kompleks dan berat. Ketika konsep Snatcher menjadi sesuatu yang terlalu maintstream di industri game, ia membawa semua elemen dengan kualitas superb ke game Metal Gear Solid (MGS) di Playstation yang melambungkan namanya. Bahkan harus diakui, hingga kini belum ada satupun director atau producer yang mampu menghasilkan efek sinematik sebaik dan sebagus Kojima di dalam karya-karyanya. Empat seri Metal Gear Solid dan dua seri Zone of Enders menjadi bukti yang paling nyata.

Penghargaan yang ia dapatkan juga menjadi monumen kepantasan ini. Pada tahun 2002, Newsweek menobatkannya sebagai Top Ten People of 2002. Di tahun 2008, Next-Gen menempatkan di posisi ketujuh dari 100 developer terbaik di tahun 2008. IGN, salah satu situs gaming populer, bahkan menobatkannya di posisi keenam dari 100 Pencipta Game Terbaik Sepanjang Masa. MTV menganugerahkan dirinya title “Lifetime Achievement Award”, seperti yang dilakukan Game Developers Conference di tahun 2009. Wow!

Satu hal lagi yang pantas membuat Kojima di Gaming VIP adalah sikap yang ia tunjukkan. Ia sempat menyatakan bahwa ia tidak akan mundur dari industri game selama ini masih mampu bernapas. Tidak hanya berkata belaka, Hideo Kojima juga membuktikannya dalam tindakan-tindakan nyata. Ia tak pernah berhenti berinovasi untuk menciptakan sebuah pengalaman baru dalam kegiatan gaming. Tidak harus dalam bentuk sebuah video game, tetapi juga elemen-elemen yang membangunnya. Tahun 2003 dan 2004, Ia melahirkan Boktai, sebuah seri game yang menggunakan fitur photometric sensor di Game Boy Advance sebagai sumber gameplay. Alat yang diperlukan untuk menangkap sinar matahari menghadirkan sebuah pengalaman bermain yang baru. Berperan sebagai seorang vampire hunter, gamer perlu menggunakan photometric sensor ini di bawah sinar matahari untuk memancing aksi sang hero melakukan charge pada senjatanya. Sebuah konsep yang menarik. Inovasi terbaru Kojima kini juga menyangkut perangkat lunak dasar yang dibutuhkan untuk membangun sebuah video game. Sebuah engine grafis baru bernama Fox Engine yang diklaim mampu menampilkan ekspresi wajah lebih baik dan visualisasi yang lebih sempurna kini sedang dikembangkan oleh Kojima dan timnya.

Dengan semua prestasi yang sudah ia torehkan, tidak heran jika pada awal tahun 2011 kemarin, Konami menunjuk Hideo Kojima sebagai Wakil Presiden untuk Konami Digital Entertainment. Ia tidak lantas berkutat hanya pada tugas-tugas birokratik. Hideo Kojima tetap mencurahkan kreativitasnya untuk game-game berkualitas yang akan terus kita nikmati di masa depan.

The human body is supposed to be 70 percent water. I consider myself 70 percent film.

Hideo Kojima

Hideo Kojima, we salute you!

Source: Wikipedia, Mylot

Source Gambar: Google

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

February 20, 2021 - 0

Review Playstation 5 (Software): Indah, Elegan, Cepat!

Diskusi terkait konsol generasi terbaru memang lebih banyak didominasi soal…
February 17, 2021 - 0

Menjajal BETA Guilty Gear Strive: Siap Menjadi yang Terbaik!

Seperti halnya posisi Codemasters di dunia game racing, nama Arc…
February 15, 2021 - 0

Review Atelier Ryza 2: Terasa Seperti Petualangan Sampingan!

Sesuatu yang positif atau tidak, namun jadi fakta yang tidak…
February 11, 2021 - 0

Review Destruction AllStars: Butuh Misil dan Bom!

Game-game apa yang akan menemani rilis sebuah konsol generasi terbaru?…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…