NostalGame: Rampage World Tour

Reading time:
November 28, 2011
Rampage World Tour 2

Fiksi memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia anak-anak. Lewat berbagai konten yang menyimpang dari hukum dan kenyataan dunia yang seringkali membosankan inilah, anak-anak belajar untuk bermimpi atau bahkan belajar tentang nilai-nilai kehidupan tertentu. Dari semua film fiksi yang ada, cerita pertempuran antara tokoh utama dan monster sudah pasti menjadi konsumsi yang paling sering dinikmati. Apalagi jika mereka hadir dalam ukuran raksasa yang super besar, seperti layaknya Ultraman atau mode Robot di seri Sentai Jepang.

Dari semua film fiksi yang menawarkan pertarungan antar raksasa, Godzilla merupakan salah satu yang terbaik. Godzilla selalu menghadirkan pertempuran epik dan kehancuran kota yang paling desktruktif dibandingkan seri lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak anak-anak yang lahir di tahun 1980-an memuja monster yang satu ini. Apakah Anda termasuk salah satu di antaranya? Menjadi anak yang sempat bermain “sandiwara” sebagai Godzilla dan menendang beragam kotak kardus seolah gedung-gedung yang hancur berantakan? Keterbatasan teknologi di saat itu memang memaksa kita untuk bermain peran seperti ini. Namun dengan perkembangan teknologi yang ada? Pengalaman ini ditawarkan oleh video game.

Rampage World Tour 3

Salah satu game pertama yang mampu menghadirkan pengalaman paling mendekati menjadi seekor Godzilla, saya rasakan pada seri Rampage. Game yang pertama kali lahir untuk arcade ini mulai “merebut” hati para gamer setelah debut pertamanya di Playstation pada tahun 1997 silam. Rampage: World Tour di kala itu menawarkan gameplay unik yang belum pernah dijajal game manapun, dengan mengutamakan kehancuran dan fun sebagai nilai jual utamanya. Menghancurkan setiap gedung yang ada, memakan siapa saja yang berusaha menghalangi, dan memastikan sebuah kota rata dengan tanah. Tidak ada yang dapat mengalahkan sensasi seperti ini.

Rampage: World Tour memang bukan seri Rampage yang paling terkenal di antara semua seri yang sudah dirlis. Game ini masih menawarkan pilihan monster yang minim dan visualisasi yang terhitung cukup buruk. Namun bagi saya pribadi, seri ini menjadi yang paling memorable karena ia menjadi seri yang mengenalkan saya pada franchise Rampage secara keseluruhan. Jika Anda termasuk gamer yang mencintai game yang satu ini, jangan ragu untuk menggali kembali memori masa lalu dan benostalgia. Apalagi mengingat Hollywood akan merilis ulang game ini dalam film layar lebar.

Plot

Gamer yang memainkan Rampage setelah seri World Tour tentu akan langsung menyimpulkan bahwa monster-monster ikonik yang muncul di game ini sebenarnya merupakan manusia yang bereksperimen. Well, di seri original, ceritanya tidak berlaku demikian. Monster seperti Ralph, Lizzy, dan George di World Tour merupakan monster yang dikembangkan dari sebuah uji coba laboratorium. Mereka ada binatang yang sudah bermutasi, tak ubahnya seperti Godzilla.

Rampage World Tour 4

ScumLabs International Research Facility yang memuat ketiga monster ini ternyata mengalami insiden yang serius dan secara tidak sengaja melepaskan George, Ralph, dan Lizzy ke dunia luar. Dr. Veronica Demonic yang bertanggung jawab atasnya tentu berupaya untuk melumpuhkan mereka dengan segala cara. Sementara dari pihak para monster, ScumLabs International menjadi musuh yang harus dihancurkan. Ketiganya memutuskan untuk menjalani “World Tour” untuk menghancurkan 12 fasilitas lab ini di seluruh dunia. Sampai akhirnya mereka menemukan lawan sepadan – sang pemimpin perusahaan – Eustas Demonic yang mengubah dirinya sendiri menjadi monster yang sama besar. Pertarungan besar pun tak terelakkan.

Gameplay yang diusung oleh Rampage: World Tour sebenarnya sederhana. Anda hanya diminta untuk menghancurkan setiap bangunan yang ada di setiap level. Caranya? Tentu saja kekuatan fisik para monster. Setiap gamer biasanya memiliki gaya menghancurkan yang berbeda satu sama lain. Ada yang lebih nyaman menghancurkannya dari bagian teratas gedung, tetapi tidak sedikit pula yang berusaha melakukannya dari sisi samping. Tugas ini tentu saja tidak mudah. Kota yang Anda “singgahi” sudah pasti akan melakukan perlawanan yang berat, dari masyarakat yang marah hingga peralatan militer canggih diarahkan untuk memastikan kematian para monster. Hancurkan semua yang di depan mata sekaligus memastikan diri selamat dari gempuran senjata adalah objektif yang harus Anda tempuh.

Apa yang Saya Sukai dari Rampage: World Tour?

 

Hancurkan Semuanya!!

Rampage World Tour 236

Apa yang paling saya sukai dari Rampage? Tentu saja gameplay utama yang diusung. Ketika game lain meminta Anda untuk melindungi dunia dan manusia, Rampage memberikan kesempatan untuk memutarbalikkan kesemuanya itu. Anda bisa dengan seenaknya menghancurkan bangunan yang ada, meratakannya, membuat kekacauan, memastikan korban jiwa yang banyak, dan menunjukkan superioritas Anda sebagai seekor monster yang disegani. Tunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada satupun yang mampu menghalangi Anda. Sebagai salah satu game pertama yang mengusung genre seperti ini, Rampage benar-benar berhasil memancing adiksi lewat gameplay unik ini. Harus diakui, memang tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada menghancurkan apapun yang dibangun oleh orang lain.

 

Ralph sang Serigala

Rampage World Tour 6

Dari ketiga monster yang ada, Ralph merupakan favorit abadi saya, bahkan setelah Rampage hadir di seri selanjutnya dengan jumlah karakter yang lebih banyak. Desainnnya yang ciamik sebagai seekor serigala raksasa membuatnya tampil sebagai seekor monster yang tidak hanya menyeramkan, tetapi juga karismatik di saat yang sama. Dibandingkan dengan desain George dan Lizzy yang lebih sederhana, Ralph seolah divisualisasikan seolah sebagai karakter monster yang dingin dan elegan. Walaupun pada dasarnya tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan antara ketiga karakter ini, entah mengapa, Ralph menarik bagi saya pribadi.

 

Variasi Reaksi yang Dimunculkan

Rampage World Tour 301 Rampage World Tour 173

Salah satu nilai plus yang dimiliki Rampage: World Tour adalah kesan komikal yang mampu dihadirkan oleh sang developer – Midway di tengah sebuah sistem gameplay yang sebenarnya brutal. Hal ini dimunculkan lewat beragam reaksi yang dimunculkan oleh para monster ketika sedang beraksi. Beragam ekspresi mampu tergambarkan dengan baik. Anda bisa melihat dengan reaksi yang cukup lucu ketika karakter Anda tidak sengaja memakan sesuatu yang beracun, kesakitan karena ditembak, ataupun hanya karena jatuh dari ketinggian. Untuk sebuah game yang masih sederhana, variasi reaksi ini benar-benar menjadi poin plus yang membuat Rampage tampil semakin maksimal.

Apa yang Saya Benci dari Rampage: World Tour?

 

Salah Makan!

Rampage World Tour 54

Bayangkan jika Anda menjadi seorang monster dengan ukuran lambung yang hampir sebesar rumah. Nafsu makan yang besar tentu tidak terelakkan, apalagi ketika Anda butuh energi ekstra untuk menghancurkan semua gedung dan menahan semua peluru yang ditembakkan. Oleh karena itu, saya pribadi tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menghancurkan setiap sisi gedung untuk mencari makanan yang bisa dicerna dengan baik. Namun sayangnya, karena gerakan repetitif yang terlalu cepat, tidak jarang sang monster harus berakhir memakan sesuatu yang salah. Keracunan makanan? Selama kontroler game berada di tangan saya pribadi, ini akan menjadi masalah yang akan sering sang monster temukan.

 

Variasi Stage yang Minim

Rampage World Tour 92

Seri-seri Rampage setelah World Tour pertama ini memang sudah hadir dengan desain stage yang cukup bervariasi dengan penuh tema-tema tertentu. Sebagai seri originalnya, seri yang satu ini tentu belum menghadirkan  “kemewahan” yang sama. Walaupun dalam plot, Anda sedang diceritakan sedang bergerak menyusuri 12 kota yang berbeda, namun desain level yang ada akan menghasilkan kesan seolah Anda tidak bergerak ke mana-mana. Gedung-gedung yang butuh dihancurkan masih hadir dengan desain yang serupa satu sama lain, dengan variasi tingkat kesulitan yang juga tidak banyak berbeda.

 

Militer? Help Me!

Rampage World Tour 232 Rampage World Tour 307

Dari semua hambatan yang ada di setiap level, para anggota militer mungkin menjadi penghalang yang paling menyebalkan. Jika hanya hadir dalam gerombolan tentara dan senjata mesin di tangan, militer tak ubahnya makanan ringan di siang hari. Namun ketika mereka mulai datang dengan beragam kendaraan berat dan persenjataan tempur canggih, maka tidak ada opsi yang lebih cerdas selain berusaha menyelamatkan diri. Untung saja di seri World Tour pertama ini, militer belum tampil sebrutal seri setelahnya. Mereka masih menjadi ancaman yang bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Bergerak ke puncak bangunan tinggi selalu jadi opsi yang paling baik untuk bertahan dan sekaligus menyerang balik melawan beragam ancaman yang dilemparkan pihak militer kepada monster Anda. Berlari dan berfokus pada satu target yang memberikan damage paling besar juga seringkali efektif.

 

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali

Rampage World Tour 311

Memainkan Rampage kembali benar-benar membuat saya berharap dapat melihatnya kembali dalam tampilan mumpuni teknologi gaming saat ini. tentu saja dengan tetap mempertahankan orisinalitas gameplay yang ada.  Membayangkan memainkan Rampage dalam kualitas grafis dan visualisasi ala PC, Playstation 3, maupun XBOX 360 akan menjadi sebuah impian yang menjadi kenyataan. Namun sayangnya, mimpi ini tampaknya tak akan mudah terwujud. Sampai sekarang, belum ada developer yang memperlihatkan ketertarikan untuk menghidupkan franchise ini kembali.

Pilihan saya untuk memilih Rampage World Tour yang pertama sebagai media nostalgia tampaknya menjadi pilihan yang buruk. Ia memang menjadi seri pertama yang memperkenalkan saya pada franchise Rampage. Sensasi nostalgia yang ada memang terasa begitu kental, namun untuk masalah kenyamanan bermain, seri pertama ini tak banyak memenuhi ekspektasi. Konsepnya yang masih sederhana dan tampilannya yang belum begitu bagus akan membuat Anda kecewa. Jadi jika Anda ingin memilih bernostalgia dengan Rampage, pilihlah seri setelah World Tour ini untuk pengalaman yang lebih maksimal.

Walaupun game-game seperti ini terhitung sudah berusia tua, Rampage masih membuktikan diri sebagai sebuah game yang fun. Setidaknya cukup untuk membuat Anda melepaskan stress yang ada. Menghancurkan gedung dan memakan manusia tampaknya bisa menjadi media terapi yang baik untuk menyalurkan emosi yang terpendam. Alternatif yang lebih baik daripada Anda menghancurkan gedung dan memakan manusia di dunia nyata.

Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…