GameFight: COD Ghosts VS Battlefield 4

Reading time:
November 11, 2013
gamefight-battlefield-4-vs-

Pertarungan paling panas tahun ini akhirnya berkobar lagi. Persaingan antara dua franchise FPS terbesar – Battlefield dan Call of Duty memang selalu menjadi fenomena yang menarik untuk disimak. Baik EA maupun Activision selalu mati-matian memastikan franchise andalan mereka ini berhasil menjadi yang terdepan, tidak hanya di sisi popularitas dan penjualan, tetapi juga kualitas. Pertempuran ini sendiri jauh lebih menarik di tahun 2013 ini, mengingat kehadiran konsol next-gen yang tentu saja menawarkan performa yang lebih kuat. Tidak lagi harus menahan diri dan menyesuaikan engine agar dapat dimainkan di konsol generasi saat ini yang lemah, baik EA dan Activision pun tampil habis-habisan di Battlefield 4 dan Call of Duty: Ghosts.

Performa yang lebih “nendang” ini juga terlihat dari hampir sebagian besar aspek yang ada, dari sekedar visual hingga penambahan fitur yang ditawarkan. Battlefield 4 membuka persaingan dengan waktu rilis yang lebih awal, memperkenalkan Frosbite Engine 3.0 sebagai engine next-gen andalan dari DICE. Sementara di sisi lain, Infinity Ward juga sempat mengklaim adaptasi engine yang lebih mumpuni untuk Ghosts, cukup untuk merepresentasikan kualitas visual next-gen. Plot dipermak, tetapi dengan ciri khas perang dalam skala masif yang selalu menjadi nilai jual yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan beragam amunis baru ini, kedua game ini menjadi kandidat terbaik untuk menjadi penantang terbaru di GameFight kali ini.

Call of Duty: Ghosts VS Battlefield 4, siapakah yang paling pantas untukmenjadi yang terbaik? Let the fight begins!

Plot

Call of Duty - Ghosts (3)Battlefield 4 single player (113)

MURICA!, satu kata kecil ini tampaknya sudah cukup untuk menyimpulkan plot utama yang ditawarkan oleh kedua game yang satu ini, baik Ghosts maupun Battlefield. Untuk kesekian kalinya, para developer game FPS tampaknya masih kesulitan untuk keluar dari pakem cerita yang menjadikan Amerika Serikat sebagai target utama, dimana Anda akan berperan sebagai kelompok pejuang kecil yang harus terlibat segudang aksi dan tampil sebagai penyelamat dengan porsi peran yang terhitung signifikan dalam memenangkan konflik yang ada. Namun jika harus memilih salah satu di antara keduanya, Call of Duty: Ghosts harus diakui tampil lebih baik. Walaupun tidak sekompleks Black Ops dan terkesan sangat linear, namun pencintraan sosok tim Ghosts sebagai pasukan elite, hubungan erat antara Logan dan Hesh, dan voice acts yang ada cukup menghidupkan seri dari Infinity Ward ini. Sementara di sisi lain, Battlefield 4 tampil terlalu “biasa”.

Call of Duty: Ghosts (1) VS Battlefield 4 (0)

 

Visualisasi

Call of Duty - Ghosts (130)Battlefield 4 single player (30)

Sama-sama mencitrakan diri sebagai game next-gen, visualisasi tentu saja menjadi salah satu indikator utama untuk membuktikan apakah keduanya berhasil melebihi standar visual generasi saat ini. Terlepas dari klaim yang diluncurkan Infinity Ward yang meyakinkan bahwa Ghosts akan hadir dengan engine yang lebih sempurna, game ini justru memperlihatkan banyak kelemahan yang terasa kentara di sisi visual. Tata cahaya yang lebih dramatis ternyata tidak menjamin pengalaman visual yang luar biasa, apalagi dengan segudang low-res texture yang masih mudah Anda temuka di begitu banyak level. Sementara di sisi lain, EA tampil habis-habisan dengan Frostbite Engine 3.0. Detail yang lebih baik, tata cahaya, hingga beragam efek visual yang belum pernah diterapkan di game-game manapun sebelumnya ditawarkan dengan optimal. Gamer mana yang tidak terpukau melihat jamur api yang melayang realistis ketika Anda berhasil memicu ledakan besar dalam permainan? Battlefield masih berhasil membuktikan diri sebagia salah satu game FPS dengan visual terbaik, hingga saat ini. DICE rules!

Call of Duty: Ghosts (1) VS Battlefield 4 (1)

 

Gameplay / Action

Call of Duty - Ghosts (169)Battlefield 4 single player (97)

Apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah game FPS? Dengan mekanik dasar yang serupa satu sama lain, hampir tidak ada inovasi signifikan yang bisa disertakan DICE dan Infinity Ward ke dalam game andalan mereka masing-masing tanpa melenceng dari akar military shooter yang mereka usung. Namun jika harus membicarakan aspek mekanik yang ia sertakan, Battlefield 4 masih memperlihatkan kualitas yang sulit untuk ditandingi. Recoil unik yang ditawarkan setiap senjata menghasilkan pengalaman yang lebih unik dan realistis, termasuk ketika Anda berkendara dengan tank di salah satu level. Sabar menanti kesempatan menyerang yang tepat, kebutuhan untuk melontarkan peluru secara presisi, dan kebebasan untuk menghancurkan rintangan yang menghalangi Anda menjadi pesona yang sulit untuk ditolak. Sementara di sisi lain, kesan arcade justru mengalir kian kentara di Ghosts. Hal ini kian diperparah dengan mekanik kendaraan di salah satu chapter yang terasa begitu licin dan tidak realistis. Battlefield 4 tampil lebih baik di level ini.

Call of Duty: Ghosts (1) VS Battlefield 4 (2)

 

Character Design

Call of Duty - Ghosts (64)Battlefield 4 single player (128)

Karakter adalah pintu utama bagi gamer untuk “masuk” ke dalam pengalaman gaming yang berusaha ditawarkan oleh developer. Lewat watak, peran, percakapan, dan aksi beragam karakter di dalam game inilah, gamer bisa merasakan keterkaitan emosional yang kuat. Tidak hanya dari voice acts dan karakteristik yang ada, desain visual juga menjadi nilai jual yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk urusan yang satu ini, Call of Duty masih mampu memperlihatkan tajinya. Desain pakaian pasukan khusus Ghosts yang kuat dengan identitas dan voice acts yang ditawarkan di dalamnya membuat perjalanan ini kian hidup. Sementara di Battlefield, terlepas dari penambahan Hannah sebagai pasukan wanita yang terhitung unik di genre FPS, hubungan antar para karakter terasa sangat hambar dan klise. Dari segi desain, tidak ada yang terasa spesial di pakaian Irish maupun Pac sendiri.

Call of Duty: Ghosts (2) VS Battlefield 4 (2)

Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…