Preview Dying Light: Kombinasi Dead Island dan Mirror’s Edge!

Reading time:
January 30, 2015
Dying Light jagatplay (1)

Apakah zombie sudah jadi tema yang terlalu usang untuk terus dieksploitasi di industri game? Minimnya variasi gameplay yang bisa ditawarkan ternyata tidak menjadi halangan. Banyak developer yang masih berlomba-lomba berusaha menawarkan sesuatu yang berbeda lewat tema yang satu ini, baik sekedar meraciknya sebagai game super menyenangkan ala Dead Rising atau memosisikannya sebagai makhluk menyeramkan yang bisa membunuh Anda dengan mudahnya ala Resident Evil klasik atau ZombiU. Tapi satu yang pasti, tema ini memang butuh suntikan inovasi baru untuk tetap melemparkan daya tarik yang baru. Techland menjawab tantangan tersebut lewat sebuah proyek baru yang sudah lama mereka dengungkan – Dying Light. Setelah menanti cukup lama, kesempatan untuk mencicipi game ini secara langsung akhirnya hadir!

Kesan Pertama

Sejak awal diperkenalkan, Dying Light memang sudah diperkenalkan sebagai sebuah game zombie yang befokus pada konsep open-world. Namun berbeda dengan proyek mereka sebelumnya – Dead Island, Techland menambahkan bumbu horror yang lebih kentara serta kemampuan untuk bergerak dengan lebih efektif lewat kemampuan parkour yang ada. Jika harus disimpulkan secara sederhana, Dying Light bisa disebut sebagai perpaduan Dead Island dan Mirror’s Edge. Anda bisa bertarung melawan zombie yang ada lewat serangkaian senjata dan item yang Anda dapatkan atau racik sendiri, atau Anda bisa lari mereka dengan fungsi parkour yang mudah diakses. Anda hanya tinggal mengarahkan kamera ke ujung objek yang ingin Anda raih sembari melompat, maka sang karakter utama yang Anda gunakan akan berusaha menggapai dan memanjatnya. Animasi gerakannya sendiri terasa cukup mengalir dengan terrain yang juga tidak membuat frustrasi.

Anda yang melihat screenshot kami di bawah ini tampaknya sudah mengetahui bahwa Dying Light yang akan kami review ini merupakan versi bajakan PC – Reloaded. Mengapa bajakan? Karena entah karena alasan “bodoh” apa, Warner Bros sebagai pihak publisher memutuskan untuk menunda rilis fisik untuk Playstation 4, Xbox One, dan PC hingga akhir Februari 2015 mendatang. Sementara di sisi lain, mempertahankan rilis versi digital sesuai dengan rencana awal. Kami sendiri sempat berencana me-review game ini dengan versi Playstation 4 Reg 3 yang ternyata juga mengalami penundaan. Tidak ingin kehilangan hype, kami akhirnya memutuskan untuk menjadikan versi bajakan ini sebagai basis untuk review. Ada hal menarik yang kami temukan. Dying Light versi bajakan ini ternyata bisa dimainkan multiplayer hingga 4 orang secara LAN! Setidaknya kami bisa menceritakan pengalaman tersebut di review nanti.

Techland juga punya pekerjaan yang berat untuk memastikan Dying Light versi PC ini berjalan lebih optimal. Untuk sebuah port PC, ia terasa sangat berat, walaupun kualitas visualisasi yang ia tawarkan memang cukup pantas diacungi jempol. Penurunan framerate yang cukup drastis seolah jadi pemandangan umum yang kami temui, apalagi setelah berpindah dari dalam ruang ke luar ruangan atau setelah mengalami cut-scene tertentu. Butuh ekstra usaha untuk melakukan sedikit tweak setting untuk memastikan pengalaman Anda tidak tecerai-berai karena masalah teknis yang satu ini. Salah satu yang cukup membantu kami adalah dengan menurunkan tingkat View Distance ke level terendah. Setidaknya meminimalisir efek penurunan FPS yang terjadi.

Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review dan mencegah agar kami tidak terlambat mereview game ini hingga akhir bulan Februari mendatang, izinkan kami memberikan melemparkan segudang screenshot di bawah ini untuk membantu Anda mendapatkan sedikit gambaran soal Dying Light. Anda bisa melihat kualitas visualisasi seperti apa yang disuntikkan oleh Techland di dalamnya, dengan efek grain yang cukup terasa di beberapa momen tertentu.

PS: Klik Gambar untuk Memperbesar!

Dying Light jagatplay (36) Dying Light jagatplay (8) Dying Light jagatplay (11) Dying Light jagatplay (42) Dying Light jagatplay (56) Dying Light jagatplay (65) Dying Light jagatplay (84) Dying Light jagatplay (92) Dying Light jagatplay (126) Dying Light jagatplay (127) Dying Light jagatplay (145) Dying Light jagatplay (170) Dying Light jagatplay (197) Dying Light jagatplay (216)
Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…