Review Mad Max: Mobil, Ledakan, dan Kegilaan!

Reading time:
September 15, 2015
Mad Max_20150913191652

Bayangkan jika Anda hidup di dalam sebuah dunia, dimana harapan tampaknya menjadi sebuah konsep yang terdengar begitu abstrak. Dunia dimana air minum, makanan anjing, atau sekedar belatung yang menggerogoti mayat di tengah jalan jadi kemewahan tersendiri. Dunia dimana tidak ada lagi norma yang jelas, dimana semua orang berlomba-lomba “membangun” agamanya sendiri dan bertindak layaknya nabi, dunia dimana karat dan pasir mendominasi hidup. Atmosfer post-apocalyptic keren inilah yang dibangun George Miller lewat franchise Mad Max-nya yang luar biasa. Film terakhirnya – Fury Road bahkan pantas dinominasikan sebagai calon film action terbaik tahun ini. Dan kini, gamer akhirnya berkesempatan untuk menyelami lebih dalam hidup seorang Mad Max.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tampaknya sudah punya sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh game ini. Sebagai sebuah game action mainstream, Mad Max memang tidak menawarkan sebuah elemen baru yang inovatif sama sekali. Anda bisa merasakan kedekatannya dengan seri Arkham Batman untuk sistem pertarungan. Walaupun demikian, Avalanche Studios – dev. yang juga dikkenal membangun Just Cause berhasil membangun dunia dan atmosfer yang begitu memesona. Dunia kering Mad Max, brutalitas di dalamnya, serta beragam kegilaan dipresentasikan secara eksplisit, tanpa menahan diri. Sensasi berbeda lainnya? Tentu saja mengakar pada mobil yang kini menjadi elemen permainan utama yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Mad Max ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang mengkombinasikan mobil, ledakan, dan kegilaan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda!

Plot

Mad Max versi video game ini sudah dipastikan tidak berhubungan dengan versi filmnya sekarang atau di masa lalu, dan hanya sekedar berbagi semesta yang sama. Jadi jangan heran jika wajahnya tak mirip Tom Hardy atau Mel Gibson.
Mad Max versi video game ini sudah dipastikan tidak berhubungan dengan versi filmnya sekarang atau di masa lalu, dan hanya sekedar berbagi semesta yang sama. Jadi jangan heran jika wajahnya tak mirip Tom Hardy atau Mel Gibson.

Walaupun dirilis di tahun yang sama dengan Mad Max: Fury Road, satu hal yang perlu Anda ingat sebelum mencicipi game ini adalah fakta bahwa ia sama sekali tidak berhubungan dengan versi film tersebut. Mad Max yang dikembangkan oleh Avalanche Studios ini hanyalah berbagi satu universe yang sama, namun tidak berperan sebagai sebuah game adaptasi ataupun sekuel dari media yang satunya lagi. Anda yang tidak menonton versi filmnya akan mendapatkan pengalaman bermain yang tercederai. Walaupun  harus diakui, menonton versi filmnya akan memberikan sedikit gambaran lebih jelas soal dunia Mad Max itu sendiri serta signifikansi masing-masing peran yang sayangnya, sebagian besar hanya dijelaskan sekedar lewat kata-kata di game yang satu ini.

Seperti namanya, Anda berperan sebagai Max yang saat itu hendak menjelajahi Plains of Silence. Namun sayangnya, di tengah perjalanan, ia dirampok oleh War Boys yang dikepalai oleh Scrotus.
Seperti namanya, Anda berperan sebagai Max yang saat itu hendak menjelajahi Plains of Silence. Namun sayangnya, di tengah perjalanan, ia dirampok oleh War Boys yang dikepalai oleh Scrotus.
Namun di tengah pertarungan sengit untuk mempertahankan resource-nya tersebut,  Max berhasil mencederai Scrotus.
Namun di tengah pertarungan sengit untuk mempertahankan resource-nya tersebut, Max berhasil mencederai Scrotus.

Seperti namanya, Anda tentu saja berperan sebagai Max di sini. Keinginannya untuk menyusuri sebuah tempat bernama Plains of Silence harus terhenti ketika mobilnya dirampok dan dihancurkan oleh segerombolan War Boys yang dipimpin oleh Scrotus – anak dari Immortan Joe. Dalam pertarungan sengit yang singkat, Max hampir membelah kepala Scrotus menjadi dua bagian. Namun nasib buruk memang tidak bisa terhindarkan. Max harus berakhir dengan hidup dengan semua senjata, pakaian dan resource yang ia miliki hilang dicuri oleh para War Boys. Nasibnya kian tidak jelas di dunia yang sudah gila ini.

Untungnya, Max bertemu dengan Chumbucket - seorang mekanik bungkuk jenius yang akan menemani petualangannya.
Untungnya, Max bertemu dengan Chumbucket – seorang mekanik bungkuk jenius yang akan menemani petualangannya.
Ia membiarkan Max menggunakan mobil yang begitu ia puja - Magnum Opus untuk mencapai misinya. Sebagai gantinya, Max harus memperbaiki dan menyempurnakan mobil tersebut.
Ia membiarkan Max menggunakan mobil yang begitu ia puja – Magnum Opus untuk mencapai misinya. Sebagai gantinya, Max harus memperbaiki dan menyempurnakan mobil tersebut.

Untungnya, di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang mekanik handal dengan tubuh bungkuk bernama Chumbucket. Chumbucket mengizinkan Max menggunakan kendaraan yang sudah ia puja bak agama dan malaikatnya sendiri – Magnum Opus. Sebagai gantinya, dalam misi balas dendam yang hendak dilancarkan Max, ia juga harus  membantu dirinya membangun dan menyempurnakan Magnum Opus. Max pun berkelana dengan menjadikan Gastown sebagai tujuan utama. Ia juga butuh memastikan Magnum Opus diperkuat dengan engine V8 untuk membantunya melewati Plains of Silence yang misterius. Max pun kembali menggila.

Seperti yang bisa diprediksi, perjalanan Max menuju ke Gastown untuk membalas dendam dan mengambil mesin V8 ini tak mudah.
Seperti yang bisa diprediksi, perjalanan Max menuju ke Gastown untuk membalas dendam dan mengambil mesin V8 ini tak mudah.
What the..
What the..

Namun seperti yang bisa diprediksi, tidak pernah ada sesuatu yang mudah untuk dilakukan Max di sini. Ia juga diminta untuk membantu para penguasa setiap region untuk lepas dari kuasa Scrotus yang tampaknya menolak tenggelam terlepas dari kematiannya di awal. Gastown menjadi sebuah perjalanan panjang nan melelahkan.

Lantas, tantangan seperti apa yang harus dihadapi oleh Max? Mampukah ia menemukan mesin yang ia cari dan menyempurnakan Magnum Opus itu sendiri? Siapa pula Chumbucket? Anda harus memainkan Mad Max ini untuk mendapatkan semua jawaban yang ada.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…