JagatPlay: Game of the Year 2015

Reading time:
December 21, 2015
game-of-the-year

Tidak terasa, kita sudah hampir melewati 365 hari yang terhitung fenomenal untuk industri game tahun ini. Terasa lebih istimewa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 memang pantas untuk menyandang predikat sebagai salah satu tahun terbaik yang pernah dimiliki oleh industri game. Bagaimana tidak? Selama kurun waktu 12 bulan ini, gamer tidak hanya dihidangkan dengan segudang franchise anyar yang baru hendak membangun popularitas, tetapi juga seri-seri terbaru dari franchise raksasa yang sudah begitu diantisipasi.  Apalagi dengan kehadiran dua konsol generasi terbaru – Playstation 4 dan Xbox One yang kian matang. Tidak perlu diragukan lagi, tahun ini adalah salah satu tahun terlengkap dan termanis untuk para gamer sebagai sebuah komunitas. Lantas, siapa yang pantas menyandang gelar sebagai yang terbaik? Berikut adalah pilihan kami.

Untuk  membuat penilaian yang lebih objektif dan adil, JagatPlay akan membaginya ke dalam berbagai kategori yang didasarkan pada genre dan berbagai elemen dasar yang membentuk sebuah game. Kami juga menyertakan alasan pemilihan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengapa game-game ini berhasil memenangkan setiap kategori yang ada. Pemilihan pemenang tentu saja didasarkan pada game-game yang pernah kami jajal secara langsung, baik yang sempat kami review maupun tidak sempat kami luncurkan dalam bentuk review. Satu yang pasti, semua game yang masuk ke dalam list pemenang ini memang berhasil meninggalkan kesan yang kuat dan pengalaman unik tersendiri. Bagi Anda, ini bisa menjadi list “must play”, apalagi bagi Anda yang bahkan pernah mendengar nama tersebut sebelumnya.

Jadi game apa saja yang masuk dalam kategori JagatPlay’s Best Games of 2015 ini? Here we go:

Best Console Exclusive: Bloodborne

Bloodborne The Old Hunters (30)

Tak perlu mengubah banyak formula yang ditawarkan, From Software tampaknya mengerti apa yang gamer inginkan dari proyek eksklusif Playstation 4 mereka – Bloodborne.  Hasilnya? Luar biasa. Di satu sisi, ia menawarkan sensasi dan tingkat kesulitan yang bisa dibandingkan dengan dua seri Dark Souls sebelumnya, namun di sisi lain – menawarkan sebuah sensasi yang baru yang juga berbeda. Ia menawarkan sebuah mekanisme baru dan sensasi pertarungan yang lebih cepat dan dinamis. Dikombinasikan dengan varian senjata dan build yang bisa dimaksimalkan, lengkap dengan tantangan di dungeon acak dan DLC – The Old Hunters yang bahkan lebih sulit, Bloodborne menawarkan apa yang dicintai gamer dari From Software dan membawanya setingkat lebih jauh. Anda akan merasa frustrasi, putus asa, dan marah,  namun di sisi lain terus menerima semua penderitaan tersebut dengan senyum lebar. Di tahun 2015, ia adalah salah satu alasan terkuat untuk melirik Playstation 4.

Best Remaster: Resident Evil HD Remaster

Resident Evil HD Remaster JagatPlay (20)

Apa yang paling Anda inginkan dari sebuah game HD Remaster? Sebagian besar dari kita tampaknya setuju bahwa kita selalu memimpikan sebuah sensasi nostalgia di atas kualitas visualisasi yang lebih modern. Namun sayangnya, popularitas proses seperti ini justru jadi “gudang uang” baru bagi banyak publisher yang tak malu untuk merilis ulang game mereka yang baru berusia 2-3 tahun tanpa nilai jual yang kuat. Untungnya, kasus ini berbeda dengan langkah Capcom yang pantas untuk diapresiasi – Resident Evil HD Remaster yang meluncur awal tahun. Keputusan untuk tidak mengubah apapun dari sisi gameplay, menjadikannya tetap sebuah game Resident Evil yang “kaku” dan sulit di saat yang sama adalah keputusan terbaik yang bisa mereka ambil. Kerennya lagi? Untuk sebuah game Remake dari sebuah franchise lawas, proses Remaster yang dilakukan juga bisa dibilang, tepat sasaran. Kualitas tekstur karakter utama dan sistem cahaya terlihat lebih baik secara signifikan, sementara di sisi lain, ada sedikit sensasi game lawas dari tekstur background yang tetap kabur. Intinya? Proyek HD Remaster ini adalah kombinasi yang nyaris sempurna.

Best Multiplayer: Rocket League

Rocket League jagatplay (108)

Tahun 2015 bisa dibilang sebagai “tahunnya” game-game yang hanya menjual multiplayer sebagai daya tarik utama. Kita membicarakan game-game seperti Evolve, Star Wars Battlefront, dan yang terbaru – Rainbow Six Siege. Namun apakah game-game AAA memenuhi harapan yang Anda ingin dan butuhkan dari sebuah game multiplayer? Bagi kami pribadi, sensasi multiplayer terbaik tahun ini justru muncul dari satu nama game dengan skala lebih kecil – Rocket League. Game sepakbola dengan mobil ini memang menawarkan kesempatan interaktif yang terbatas, namun di sisi lain, menyediakan pengalaman multiplayer terbaik yang kami rasakan tahun ini. Perpindahan dari satu match ke match lain yang begitu cepat, semangat kompetitif tanpa komentar miring dan atmosfer yang positif, menyenangkan dan gila di saat yang sama, dengan eksekusi beragam konten tambahan yang juga diracik tanpa terkesan mata duitan. Rocket League mengeksekusi banyak elemen tersebut dengan begitu baik.

Worst Game of the Year: Tony Hawk’s Pro Skater 5

THPS 5 new visual - cell shading (7)

Bagaimana mungkin JagatPlay menentukan posisi game terburuk di tahun 2015 ini untuk sebuah game yang bahkan tak pernah mereka cicipi langsung atau bahkan review sama sekali? Bukankah itu terkesan mengada-ngada? Dari kacamata kami, keengganan kami untuk mengeluarkan uang sebesar harga sebuah game AAA kebanyakan untuk sebuah game yang mendapatkan respon begitu negatif dari komunitas dan media gaming yang lain, visualisasi yang tak menggambarkan teknologi generasi saat ini, penuh dengan bug dan glitch, dan terkesan seperti usaha Activision untuk sekedar mengeksploitasi franchise ini sebelum hak guna dagang mereka berakhir tahun ini tampaknya jadi justifikasi dan alasan yang pantas mengapa Tony Hawk’s Pro Skater 5 pantas untuk menjadi game terburuk JagatPlay tahun 2015 ini.

Pages: 1 2 3 4 5 6
Load Comments

PC Games

June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…

PlayStation

June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…