Menjajal Playstation VR Bersama Sony

Reading time:
October 19, 2016
SONY DSC

Hampir semua gamer sepertinya sempat merasakan betapa rasa haus yang begitu menggebu-gebu, ketika sebuah produk game – hardware ataupun software – yang sudah Anda antisipasi begitu lama berakhir tak bisa Anda nikmati secepatnya karena satu atau dua alasan. Bagi gamer Playstation 4 di Indonesia, Playstation VR mungkin jadi salah satunya. Hype yang begitu besar membuat produk ini berakhir tak bisa didapatkan oleh beberapa gamer yang bahkan sudah melakukan pre-order jauh-jauh hari, berakhir harus menunggu ekstra beberapa hari sebelum bisa mencicipinya. Sementara mereka yang terlambat mengikuti hype, menunggu batch selanjutnya adalah keharusan. Pertanyaannya kini, apakah memang hype tersebut sepadan?

Berita baiknya, walaupun JagatPlay sendiri masih belum memiliki Playstation VR, Sony Interactive Entertainment cabang Singapura membuka kesempatan bagi beragam media di Indonesia untuk menjajalnya secara langsung.

Bertempat di gedung 88 Kasablanka, Jakarta Selatan, event yang dimulai jam 2 siang tersebut dibuka oleh presentasi singkat dari PR Sony Interactive Entertainment Singapura yang juga bertanggung jawab atas pasar Playstation di kawasan SEA – Ian Purnomo. Ian menjelaskan sedikit soal Playstation VR, apa saja keunggulannya, dan langsung memberikan kesempatan bagi media untuk menjalalnya secara langsung. Tak tanggung-tanggung, tak kurang dari lima buah unit PSVR tersedia. Menariknya  lagi? Ia juga memuat dua buah game yang kami sendiri tak ragu, untuk memberikan dua jempol.

Ian Purnomo dari Sony Interactive Entertainment cabang Singapura memamerkan Playstation VR.
Ian Purnomo dari Sony Interactive Entertainment cabang Singapura memamerkan Playstation VR.
Setidaknya lima unit PSVR tersedia untuk dicicipi oleh media.
Setidaknya lima unit PSVR tersedia untuk dicicipi oleh media.

Di samping uji beragam demo disc dan PSVR Worlds, SIE Singapura membawa dua buah game keren ke arena demo ini. Pertama, tentu saja Batman Arkham VR yang berakhir jadi favorit kami. Berangkat dengan sedikit rasa pesimis bahwa game ini akan tampil memukau, kami berakhir jatuh hati dengan cara WB meracik konten yang ada untuk membuat Anda merasa bahwa Anda adalah seorang Bruce Wayne. Bertemu dengan Alfred, masuk ke Batcave, mengenakan kostum Batman Anda, menata belt dan menguji peralatan dari sana, Ia berhasil membuat Anda merasa bahwa Anda tengah berperan sebagai sang ksatria kegelapan.

Batman Arkham VR aka Simulasi-Tampar-Menampar-Sesuka-Hati-Pada-Alfred-yang-Malang.
Batman Arkham VR aka Simulasi-Tampar-Menampar-Sesuka-Hati-Pada-Alfred-yang-Malang.
Sesi ini juga memuat demo
Sesi ini juga memuat demo “Lantern” RE 7 pertama di luar presentasi Capcom di ajang TGS 2016 kemarin. Kami sendiri tak punya nyali untuk menjajalnya.

Sementara demo kedua? Adalah demo “Lantern” untuk Resident Evil 7. Event ini juga menjadi event pertama dimana demo tersebut bisa dicicipi “publik” di Asia Tenggara setelah presentasi Capcom yang menyeramkan di ajang TGS 2016 kemarin. Masih berperan sebagai salah satu karakter yang terperangkap dalam dunia “Tape”, Anda akhirnya mengenal siapa saja anggota The Family yang sepertinya akan memainkan peran cerita super penting di seri ketujuh ini. Playstation VR menyediakan kesempatan untuk menikmatinya dalam suasana yang lebih imersif, tetapi sekaligus juga, membuka ruang untuk mekanik gameplay yang berbeda. Dengan fitur tracking Playstation VR, Anda bisa menggerakkan kepala dan tubuh Anda untuk mengintip apa yang terjadi, atau mempersiapkan diri akan apa yang akan datang. Sayangnya, seperti yang Anda tahu, saya pribadi tak punya cukup nyali untuk mencicipinya. Lupa membawa ekstra popok, kami bersikap seolah Sony tak menawarkan demo ini sama sekali di acara yang sama.

Lantas, bagaimana dengan impresinya sendiri? Sebagai gamer dengan ukuran kepala yang cukup besar (tidak dalam pengertian metafora) dan berkacamata, ada sedikit kekhawatiran bahwa pengalaman VR dengan PSVR ini akan berakhir buruk. Untungnya, tak berakhir demikian. Dengan bentuk yang bisa diatur sedemikian rupa dan memfasilitasi kondisi tersebut dengan sangat baik, perangkat ini berakhir tak terasa menekan kepala sama sekali, walaupun kami mengenakannya dengan memakai kacamata di baliknya. Proses tracking dan beragam hal teknis lainnya juga bekerja dengan sangat baik, termasuk bagaimana PS Camera berakhir menerjemahkan semua gerak PS Move kami dengan presisi tinggi, yang cukup membuat kami bisa “memaksa” Batman di Batman VR sedikit berdansa ketika berkaca.

Punya ukuran kepala besar dan berkacamata? No probs.
Punya ukuran kepala besar dan berkacamata? No probs.

Namun performa Playstation 4 yang mendorong batas untuk bisa menangani VR memang harus hadir dengan beberapa kompensasi, yang jelas terlihat di demo “Lantern” Resident Evil 7. Anda yang sempat membaca soal demo Resident Evil 7 kami tentu masih ingat soal betapa mumpuninya implementasi RE Engine yang digunakan Capcom di seri terbaru ini. Seolah bisa menyaingi apa yang bisa dilakukan Fox Engine di P.T., RE Engine memperlihatkan visualisasi dalam ruangan dengan objek yang penuh detail realistis dan kualitas tata cahaya mumpuni. Namun di Lantern, untuk mengejar framerate ideal 90Hz VR, kompensasi dari sisi visual terlihat jelas. RE Engine tak terlihat sejernih versi demo tanpa VR dengan resolusi yang juga lebih rendah.

Sayangnya, sesi demo bersama dengan Sony ini gagal menjawab rasa penasaran kami akan Cinematic Mode yang seharusnya juga jadi salah satu andalan. Walaupun tak bisa memastikan apapun saat ini, namun besar harapan artikel preview dan review yang lebih lengkap akan meluncur dalam waktu dekat ini untuk membantu Anda mendapatkan sedikit gambaran lebih solid soal Playstation VR itu sendiri.

Load Comments

PC Games

January 20, 2023 - 0

Review A Space for the Unbound: Standar Tertinggi Game Indonesia Saat Ini!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh A Space for the Unbound?…
October 18, 2022 - 0

Review Uncharted Legacy of Thieves (PC): Drake Pindah Rumah!

Seperti apa performa dan fitur yang ditawarkan oleh Uncharted Legacy…
September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…

PlayStation

January 30, 2023 - 0

Review Dead Space Remake: Isak Tangis di Luar Angkasa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dead Space Remake ini? Apa…
December 22, 2022 - 0

Review Crisis Core – Final Fantasy VII Reunion: Reunian dengan Muka Baru!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Crisis Core – Final Fantasy…
December 8, 2022 - 0

Review Star Ocean – The Divine Force: Bukan Melesat, Malah Meleset!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Star Ocean: The Divine Force?…
December 7, 2022 - 0

Review The Callisto Protocol: Permulaan yang Menjanjikan!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Callisto Protocol ini? Mengapa…

Nintendo

November 2, 2022 - 0

Review Bayonetta 3: Tak Cukup Satu Tante!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Bayonetta 3? Mengapa kami menyebutnya…
September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…