Review Mafia 3: Tak Maksimal!

Reading time:
October 21, 2016
mafia-3-jagatplay-part-1-187

Di tengah hiruk pikuk game-game open-world yang menjual ragam aktivitas yang bisa dilakukan untuk bersenang-senang di atasnya, eksis sebuah franchise yang hadir dengan pendekatan serupa namun punya daya tarik yang benar-benar berbeda, Mafia. Game racikan 2K Czech di dua seri sebelumnya yang kemudian beralih ke Hangar13 untuk seri terbarunya tersebut selalu berakhir menjadi sebuah game yang menjadikan cerita dan karakternya yang terperangkap dalam organisasi kriminal masa lalu sebagai nilai jual. Atmosfer yang otentik, kisah yang tak kalah dengan film-film Hollywood dengan budget besar, serta alunan soundtrack yang dipilih dengan mantap menjadikan Mafia sebagai sebuah franchise dengan sepak terjang yang selalu diantisipasi.

Sayangnya, rilisnya sendiri tak “sesempurna” yang dibayangkan. Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya sepertinya sudah sedikit mengerti beberapa masalah yang ia bawa. Salah satu keluhan terbesar yang kami sertakan di sana adalah sistem AI yang bisa dibilang, mengecewakan. Tak seperti AI kebanyakan yang cukup sensitif untuk bereaksi dengan apa yang terjadi di sekitar mereka, AI ini rentan dieksploitasi dengan satu cara sederhana – stealth. Hasilnya? Tingkat kesulitan menjadi sesuatu yang tak relevan dalam waktu singkat. Namun seperti judul yang kami sertakan di preview tersebut, balas dendam bukanlah satu-satunya masalah yang harus Anda hadapi sebagai Lincoln Clay, si karakter utama. Mafia 3 punya banyak.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Mafia 3 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game open-world yang tak maksimal? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Anda berperan sebagai seorang veteran perang bernama Lincoln Clay
Anda berperan sebagai seorang veteran perang Vietnam bernama Lincoln Clay

Maka seperti yang bisa Anda prediksi dari sebuah game yang menyandang nama “Mafia” di dalamnya, Mafia  3 racikan Hangar13 dan 2K Czech ini juga menjadikan cerita dan karakter sebagai daya tarik utama. Hasilnya? Mereka melakukan tugas penting tersebut dengan sangat baik. Tak usah terlalu jauh sebelum jatuh hati, pendekatan cerita dengan menggunakan gaya film dokumenter dimana Anda bisa menikmati sepak terjang Clay dari kacamata karakter yang sempat dekat dengannya atau kesaksian di pengadilan membuat Anda seperti tengah menikmati sebuah film Hollywood berbudget besar. Dan memang, bagi para pecinta film Gangster Amerika klasik, tak ada lagi seri yang lebih sempurna untuk memenuhi mimpi tersebut.

Tumbuh besar bersama keluarga mafia kulit hitam, Clay langsung membantu membereskan beragam masalah yang langsung menjadikannya pusat perhatian.
Tumbuh besar bersama keluarga mafia kulit hitam, Clay langsung membantu membereskan beragam masalah yang langsung menjadikannya pusat perhatian.
Untuk menyelesaikan utang Sammy kepada kelompok mafia lebih besar - Sal Marcano, Clay ikut dalam misi merampok bank.
Untuk menyelesaikan utang Sammy kepada kelompok mafia lebih besar – Sal Marcano, Clay ikut dalam misi merampok bank.

Mengambil setting di tahun 1968, Anda berperan sebagai seorang veteran Perang Vietnam – Lincoln Clay yang akhirnya pulang ke kampung halaman, New Bordeaux. Dibesarkan di keluarga mafia kulit hitam, Clay yang sangat menghormati si boss – Sammy memutuskan untuk membantunya menyelesaikan masalah dengan kelompok mafia dari Haiti. Semuanya untuk membayar utang Sammy kepada kelompok mafia lebih besar yang dikepalai oleh Sal Marcano. Aksi Lincoln ini menarik perhatian Sal, yang kemudian memintanya untuk mengambil alih kelompok mafia kulit hitam dari Sammy sekaligus, membantunya merampok salah satu bank terbesar di sana. Lincoln memenuhi permintaan untuk membantu Sal membobol bank tersebut, namun tidak untuk mengkhianati Sammy.

Berhasilnya misi
Berhasilnya misi “mustahil” ini justru membuka Lincoln pada wajah buruk Sal Marcano.
Menolak mati, ia berhasil selamat dari pengkhianatan tersebut.
Menolak mati, ia berhasil selamat dari pengkhianatan tersebut.

Namun terlepas dari mulut manisnya, Sal Marcano ternyata tak menerima penolakan tersebut dengan baik. Ketika perampokan bank berhasil dilakukan dengan perayaan kecil di tempat Sammy, kelompok mafia Sal ternyata berakhir mengkhianati mereka. Peluru meluncur di sana-sini, menembus dada dan kepala anggota Sammy yang tak pernah mengira hal tersebut akan terjadi, termasuk Lincoln. Tubuh jatuh, darah membanjirinya, dan Lincoln terkapar tak sadarkan dirinya. Untungnya,  alih-alih menghabisinya, peluru ke kepala Lincoln ternyata meleset dengan menyisakan sebuah bekas luka di sisinya. Ia jatuh koma.

Berkat bantuan teman baiknya Father James, Lincoln memulihkan diri. Dari tubuh yang hampir tak bernyawa, menjadi seorang “monster” baru yang kini hidup dengan satu tujuan utama – balas dendam. Mengerti bahwa ia tak mampu melakukan hal tersebut sendirian, ia meminta bantuan teman laman yang juga berbagi kepentingan yang sama – John Donovan, seorang agen CIA yang ia kenal di perang Vietnam lalu. Donovan dan Lincoln  memulai “perang suci” mereka untuk merontokkan keping-keping kekuasaan Sal, perlahan namun pasti. Tak ada cara yang lebih baik untuk mencapai hal tersebut selain merekrut orang-orang kompeten yang juga tak berkeberatan untuk melihat mayat Sal – Thomas Burke, Cassandra ,dan si karakter dari seri Mafia sebelumnya – Vito Scaletta.

Familiar face..
Familiar face..
Let the revenge begin!
Let the revenge begin!

Di tengah kondisi sosial penduduk Amerika Serikat di kala itu yang masihpenuh dengan rasisme warna kulit, Lincoln pun memulai perjalanan balas dendamnya dari dasar. Mampukah ia menghancurkan kekuasaan Sal? Tantangan seperti apa yang harus ia hadapi? Bagaimana pula nasib Lincoln setelahnya? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan Mafia 3 ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…

PlayStation

September 14, 2021 - 0

Review DEATHLOOP: Kesenangan Berulang, Berulang, Berulang!

Kami yakin sebagian besar dari Anda tentu saja sudah familiar…
September 8, 2021 - 0

Review Tales of Arise: Dahaga yang Terpuaskan!

Salah satu seri JRPG yang paling konsisten lahir di industri…
August 27, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yasuhiro Kitao (Elden Ring)!

Impresi pertama yang begitu kuat dan mengagumkan, tidak ada lagi…
August 27, 2021 - 0

Impresi Elden Ring: Souls dengan Rasa Berpetualang!

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama From Software saat…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…