Review The Last Guardian: Calon Kuat Game Terbaik Tahun Ini!

Reading time:
December 6, 2016

Sayangnya, Tak Sempurna

Sayangnya, ia juga dipenuhi beberapa masalah teknis.
Sayangnya, ia juga dipenuhi beberapa masalah teknis.

Sayangnya, terlepas dari daya tarik yang ia tawarkan, The Last Guardian tetaplah bukan sebuah game yang sempurna. Feedback dari proyek klasiknya seperti ICO dan Shadow of Colossus sepertinya tak berkontribusi banyak pada apa yang menjadi fokus genDESIGN untuk proyek yang satu ini. Karena untuk sekali lagi, masalah klasik yang sempat mengemuka di proyek mereka sebelumnya di era Playstation 2 tersebut kembali mengemuka di sini. Benar sekali, kita berbicara soal framerate dan kamera.

Framerate untuk The Last Guardian memang tak bisa dibilang positif. Bahkan untuk menyentuh angka 30 saja, terutama di lingkungan terbuka dengan angin dan physics yang bekerja, Anda akan merasa perlambatan gerakan yang cukup signifikan. Berita buruknya? Ini bukan sesuatu yang jarang terjadi selama progress permainan yang membutuhkan waktu belasan jam untuk diselesaikan ini.

Masalah kedua yang lebih signifikan, adalah kamera yang terasa seperti ketinggalan zaman, hal sama yang juga Anda temukan di Shadow of Colossus. Untuk sebuah game puzzle tanpa clue yang membutuhkan Anda untuk melihat daerah yang ada dengan lebih luas untuk mencari tahu apa yang bisa Anda lakukan, sistem kamera The Last Guardian tak banyak berkontribusi.  Ketika si anak berada di posisi tertentu, kamera kadang bergerak terlalu dekat dan membuat Anda sulit untuk melihat dengan jelas. Apalagi ketika Anda memutuskan untuk memanjat tubuh Trico yang tengah berusaha bergerak di tempat sempit. Mimpi buruk.

Framerate dan kamera jadi masalah tersendiri.
Framerate dan kamera jadi masalah tersendiri.
Minimnya tutorial soal apa yang dihasilkan dari tiap perintah si anak pada Trico akan mudah membuat Anda merasa frustrasi.
Minimnya tutorial soal apa yang dihasilkan dari tiap perintah si anak pada Trico akan mudah membuat Anda merasa frustrasi.

Salah satu keluhan yang lain adalah masalah tutorial. Kontradiktif memang, namun game ini memuat terlalu sedikit dan terlalu banyak tutorial dalam satu ruang yang sama. Bagaimana mungkin? Minimnya tutorial meluncur dari fakta bahwa Anda tak pernah mendapatkan penjelasan pasti apa sebenarnya yang dilakukan oleh setiap perintah yang bisa Anda lemparkan pada Trico dan apa efeknya.

Kita mengerti ia memang seekor binatang, namun tak akan mencederai pengalaman untuk setidaknya memberikan sedikit pengertian soal apa yang bisa dipicu oleh perintah ini. Karena pada akhirnya, proses trial dan error yang terjadi terkadang tak memberikan penjelasan apapun. Seperti bagaimana caranya untuk meminta Trico, menyelam misalnya? Karena kami mulai sempat berpikir bahwa Trico menyelam secara  otomatis, setelah atas dasar frustrasi, kami menekan semua tombol perintah yang ada. Sementara ketika situasi yang serupa muncul lagi, tiba-tiba strategi seperti ini tak lagi berhasil. Apa yang bisa dipicu dan tidak? Itu yang butuh digarisbawahi jelas oleh genDESIGN dan menurut kami, tak akan berkontribusi negatif pada desain utama The Last Guardian yang berpusat pada sosok Trico yang begitu binatang. Lantas, mengapa kami menyebutnya juga terlalu banyak? Karena tutorial untuk aksi yang bisa Anda lakukan, seperti tombol untuk mengangkut objek misalnya, masih muncul di layar bahkan ketika Anda sudah bermain 10 jam dan melakukan aktivitas tersebut selama puluhan kali. Why?!

Game Terbaik untuk Tahun Ini?

Terlepas dari semua kekurangan yang ada, The Last Guardian memang pantas menjadi kandidat terkuat Game of the Year untuk tahun ini.
Terlepas dari semua kekurangan yang ada, The Last Guardian memang pantas menjadi kandidat terkuat Game of the Year untuk tahun ini.

Jika memang game ini memuat begitu banyak keluhan dari sisi teknis, seperti masalah framerate dan kamera, mengapa kami tetap  menyebutnya sebagai salah satu kandidat terkuat Game of the Year untuk JagatPlay? Tak hanya karena toleransi kami yang sudah cukup tinggi karena sempat menjajal Shadow of Colossus dan ICO di masa lalu, tetapi karena dari perspektif kami, kelemahan-kelemahan tersebut tak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman yang ditawarkan oleh The Last Guardian itu sendiri.

Bahwa di tengah pertempuran game-game yang berusaha menghadirkan senjata paling canggih, ledakan paling besar, dan aksi dramatis yang mampu melampaui film Hollywood yang super epik sekalipun, kita bertemu dengan sebuah game yang justru dikembangkan dengan fokus yang lain – menikmati sebuah proses kedekatan emosional antara seorang anak dan binatang imut yang terus mengikutinya. Dan ketika bicara soal binatang, kita tak hanya bicara soal bentuk saja, tetapi juga tingkah lakunya yang unik. Di atasnya, ia disematkan dengan puzzle dan platforming yang tak hanya cukup untuk menantang Anda, tetapi juga memaksa Anda untuk bergerak dan berpikir di luar kotak solid yang sepertinya sudah terbangun kuat karena game-game mainstream selama ini. Ketika kami pribadi mulai hendak mengeluh soal absennya clue sama sekali, kami mulai bertanya ke diri sendiri, “Apakah ini karena desain buruk The Last Guardian itu sendiri atau kami kah yang mulai termanjakan dengan desain banyak game modern saat ini?”

Namun pada akhirnya, adalah hubungan emosional yang terbangun antara Anda dan Trico inilah yang membangun nilai plus yang tak tergantikan. Pelan tapi pasti, baik sebagai si Anak ataupun di dunia nyata, Anda mulai menempatkan porsi kepercayaan pada sosok Trico dan mulai melibatkannya dalam banyak hal, seperti sebuah variabel dalam persamaan matematika. Cerita yang menyentuh dan sikap binatang Trico bahkan cukup untuk membuat mulut kami terus berbicara dan berteriak setiap kali Trico melakukan sesuatu yang tak kami inginkan. “Ayolah Trico! Gua bukan mau ke sana!”, “Nih makan tong ini biar segeran”, dan beragam komentar yang secara otomatis muncul seperti ketika Anda berhadapan dengan binatang peliharaan Anda sendiri. Dan bagi kami, reaksi tersebut jadi sebuah testimoni tersendiri soal kualitas The Last Guardian.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

May 11, 2022 - 0

Review Rogue Legacy 2: Banyak Anak, Banyak Masalah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Rogue Legacy 2 ini?…
April 21, 2022 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Jeremy Hinton (Xbox Asia)!

Menyambut rilis PC Game Pass untuk Indonesia, kami berkesempatan untuk…
April 18, 2022 - 0

Review Grammarian Ltd: Indo Versus Inggris!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Grammarian Ltd ini? Mengapa kami…
January 13, 2022 - 0

Review God of War PC: Dewa di Rumah Baru!

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa Sony kini memang mulai…

PlayStation

March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…
March 21, 2022 - 0

Review Elden Ring: Cincin Menuntut Nyawa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan Elden Ring? Lantas, mengapa kami menyebutnya…
March 4, 2022 - 0

Preview Elden Ring: Senyum Merekah di Balik Tangis Darah!

Elden Ring akhirnya tersedia di pasaran dengan beberapa formula baru…

Nintendo

April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…