Review Nintendo Switch: Inovasi Butuh Bukti!

Reading time:
March 23, 2017
Nintendo Switch preview jagatplay (48)

Tak pernah ikut gelombang untuk hanya mengasosiasikan kehadiran platform baru dengan sekedar peningkatan performa, inilah identitas yang selalu ditawarkan oleh Nintendo di setiap rilis konsol terbaru. Selalu berhasil? Tidak juga. Fantastis di Nintendo Wii yang menawarkan kontroler sensor gerak sebagai daya tarik dengan puluhan juta unit terjual semasa hidupnya, tetapi berakhir gagal di Wii U yang berakhir tak punya cukup banyak library game untuk tampil menarik. Namun tak menyerah begitu saja, Nintendo tetap “keras kepala” untuk tetap menyasar pasar di luar Playstation 4, Xbox One, dan PC itu sendiri dengan platform terbarunya – Nintendo Switch.

Anda yang sudah membaca preview kami sebelumnya sepertinya sudah mengerti apa yang ditawarkan oleh konsol yang satu ini. Tetap mempertahankan daya tarik sensor gerak lewat kontroler bernama Joy-Con yang kini bahkan sudah diperkuat dengan teknologi yang lebih mutakhir, identitas utama Switch tetap mengakar pada statusnya sebagai sebuah konsol hybrid. Benar sekali, tak hanya bisa dimainkan secara konvensional di layar lebar, Anda juga bisa menggunakannya sebagai sebuah handheld yang bisa Anda bawa kemanapun Anda inginkan. Sebuah inovasi yang di sisi lain, mengorbankan sisi performa yang perbedaannya tak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan Wii U.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Nintendo Switch – si platform gaming yang baru ini. Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah konsol dengan inovasi yang butuh bukti? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Apa itu Nintendo Switch?

Switch merupakan teknologi hybrid yang sebenarnya sudah ditawarkan NVIDIA via Shield, namun kini dengan sentuhan
Switch merupakan teknologi hybrid yang sebenarnya sudah ditawarkan NVIDIA via Shield, namun kini dengan sentuhan “magis” kualitas Nintendo.

Cara paling sederhana untuk menjelaskan Nintendo Switch adalah menyebutnya sebagai sebuah platform hybrid antara konsol dan handheld. Konsep dasar pengembangannya sederhana, menciptakan sebuah platform yang memenuhi fungsi konsol konvensional tetapi juga bisa dibawa layaknya sebuah handheld. Memainkan game favorit Anda dimanapun Anda berada, kapanpun Anda inginkan, dengan siapapun teman seperjuangan Anda adalah kunci dari Switch itu sendiri. Nintendo melakukan apa yang sempat berusaha dilakukan NVIDIA dengan Shield, berbasiskan prosesor yang sama, namun kini dengan ekstra sentuhan “magis” Nintendo yang membuatnya terasa istimewa.

Lantas, apakah mereka berhasil? Menjajal konsol ini selama beberapa minggu membuat kami yakin bahwa Nintendo terhitung sukses mengeksekusi apa yang ingin mereka capai. Dengan paket penjualan yang sudah memuat hampir semua jenis perangkat untuk mengoptimalkan fungsinya, Switch berakhir menjadi sebuah perangkat hybrid yang sesungguhnya tanpa banyak masalah. Anda ingin memainkannya di mode televisi? Tinggal letakkan Switch Anda di dock yang disediakan, dan voila! Anda akan langsung melihat user-interface di layar televisi Anda tanpa harus melewati layar loading dan sejenisnya. Jika Anda ingin masuk ke handheld, tinggal sematkan Joy-Con dan tarik Switch dari dock, dan Anda langsung bisa menikmatinya.

Menjual diri sebagai konsol hybrid handheld, Nintendo berhasil mengeksekusi konsep tersebut dengan baik.
Menjual diri sebagai konsol hybrid handheld, Nintendo berhasil mengeksekusi konsep tersebut dengan baik.
User-interface yang kini lebih ringkas dan sederhana.
User-interface yang kini lebih ringkas dan sederhana.

Kemudahan untuk menguasai Switch sebagai sebuah perangkat gaming juga tercermin lewat user-interface yang kini lebih sederhana. Tak seperti Wii U yang dipisahkan ke dalam blok-blok kecil, Nintendo kini menyederhanakannya dengan membuat semua ikon tersebut tampil menyamping. Dengan hanya sekilas memandang saja, Anda akan menemukan hampir semua hal esensial yang Anda butuhkan untuk memaksimalkan konsol ini, dari sekedar setting yang memungkinkan Anda untuk mengubah beragam fungsi, akses e-Shop untuk konten digital, pairing Joy-Con, hingga game-game yang Anda miliki. Beberapa kelengkapan lain seperti port jack bagi Anda yang ingin menggunakan headset favorit Anda juga disediakan, di samping ekstra uang di bagian kanan yang digunakan untuk memasukkan atau melepas catridge game Switch itu sendiri.

Ada dua pertanyaan yang sering kami dengar terkait Switch: soal kebisingan dan juga daya tahan baterai. Walaupun kami tidak menguji berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisinya dari kosong hingga penuh, namun kami berhasil memainkan Breath of the Wild – game “terberat” Switch saat ini selama hampir 2 jam 45 menit dari 100% hingga bersisa 1% dengan peringatan soal pengisian baterai. Dengan port USB-C yang ia usung, Anda juga bisa mengandalkan powerbank dengan output tertentu untuk menjadi baterai “cadangan” Switch, membuat mode handheld ini bisa bertahan lebih lama. Namun tentu saja, seperti perangkat pintar Anda, beratnya aplikasi akan menentukan daya tahan baterai itu sendiri dengan Breath of the Wild sebagai contoh paling ekstrim saat ini. Game lebih ringan akan membuatnya bertahan lebih lama.

Dari kondisi baterai 100%, butuh waktu 2 jam 45 menit memainkan Breath of the Wild tanpa istirahat untuk membawanya ke level 1%. Waktu yang cukup lama, tentu saja.
Dari kondisi baterai 100%, butuh waktu 2 jam 45 menit memainkan Breath of the Wild tanpa istirahat untuk membawanya ke level 1%. Waktu yang cukup lama, tentu saja.
Exhaust yang tidak bising dan panas.
Exhaust yang tidak bising dan panas.

Sementara untuk soal kebisingan kipas dan panas, sejauh ini tak ada yang perlu dikeluhkan. Kipas pendingin untuk jeroan Switch terhitung sangat hening, bahkan ketika ia tengah menangani game seberat Breath of the Wild sekalipun. Panas yang ia hasilkan juga tidak akan cukup untuk membuat tangan Anda yang secara natural, beberapa jarinya akan terus disematkan di bagian belakang terasa tak nyaman. Keheningan kipas dan panas yang ia hasilkan memang pantas untuk diacungi jempol.

Salah satu yang menarik dari Switch adalah ukuran yang ia usung. Dengan layar yang ukurannya mirip dengan gamepad Wii U namun dengan ukuran yang lebih panjang, ia tetap nyaman digenggam ketika masuk ke dalam mode handheld. Namun ini tentu saja akan sangat bergantung pada ukuran tangan, mengingat standar tangan kami memang terhitung cukup besar untuk mampu menggenggamnya dengan nyaman. Anda dengan tangan berukuran kecil mungkin akan merasa canggung di awal, namun akan merasa sedikit lebih nyaman setelah diyakini dengan build quality dan ketahanan Joy-Con yang terpasang di kedua sisi yang membuat Anda bisa menggenggamnya dengan lebih bebas. Desain yang juga pantas untuk diacungi jempol.

Ukuran yang tetap nyaman di tangan untuk mode handheld.
Ukuran yang tetap nyaman di tangan untuk mode handheld.
Ukuran docking yang tetap membuat Switch lebih kecil dibandingkan PS4 atau Xbox One sekalipun. Membuatnya mudah ditempatkan dimanapun Anda mau.
Ukuran docking yang tetap membuat Switch lebih kecil dibandingkan PS4 atau Xbox One sekalipun. Membuatnya mudah ditempatkan dimanapun Anda mau.

Namun sayangnya, ada satu catatan ekstra yang mesti diambil dari paket penjualan yang disertakan Nintendo di Switch. Bahwa ternyata docking yang digunakan untuk menghubungkan Switch Anda ke televisi tak lebih dari sekedar plastik dengan komponen minim di dalamnya. Bentuk besar dengan logo Switch yang ada membuatnya tak lebih dari sekedar kosmetik. Tetapi setidaknya, bahkan ketika dihubungkan dengan Switch sekalipun, ukuran docking ini jauh lebih kecil dibandingkan PS4 dan Xbox One sekalipun.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…