Review Final Fantasy XII – The Zodiac Age: Masih Salah Satu JRPG Terbaik!

Reading time:
July 25, 2017
FF XII Zodiac Age jagatplay (1)

Seperti permata yang tak pernah mendapatkan apresiasi yang sepantasnya, ini mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan nama Final Fantasy XII tidak hanya di sepanjang sejarah franchise Final Fantasy saja, tetapi juga genre JRPG secara keseluruhan. Terlepas dari fakta bahwa ia menawarkan begitu banyak hal baru dengan eksekusi mekanik gameplay yang berujung pantas untuk diacungi jempol, ia tak pernah meraih popularitas cukup tinggi untuk terus dibicarakan. Diskusi terkait Final Fantasy selalu berputar pada satu atau dua seri sama yang lebih punya nilai nostalgia dibandingkan dengan seri kedua belas ini. Tidak mengherankan jika banyak gamer, termasuk kami, menyambut dengan tangan terbuka si seri Remaster – Final Fantasy XII: The Zodiac Age yang akhirnya kini, tersedia di pasaran.

Anda yang sempat membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah mendapatkan sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh seri Remaster yang satu ini. Seperti proyek Remaster khas Square Enix yang mereka terapkan di FF X / FF X-2 HD dan Final Fantasy Type-0 HD, ia memang berhasil membuatnya terlihat relevan untuk platform generasi saat ini lewat peningkatan tekstur ke definisi tinggi dan implementasi ragam efek visual yang lain. Namun yang menarik adalah fakta bahwa ia akhirnya mengimplementasikan ragam sistem dan perbaikan dari versi International Zodiac System yang sempat dirilis hanya untuk pasar Jepang saja ketika Playstation 2 berada di masa keemasannya. Bagi gamer yang menikmati versi Inggris, seperti kami, ada sensasi berbeda di sana.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang masih berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu game JRPG terbaik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Dalmasca, kerajaan yang seharusnya hidup damai, menjadi korban
Dalmasca, kerajaan yang seharusnya hidup damai, menjadi korban “invasi” Archadia.

Punya muatan politik yang cukup kuat, ini mungkin kesan pertama yang muncul ketika Anda berbicara soal Final Fantasy XII. Ketika beberapa seri sebelumnya difokuskan pada aksi anak-anak muda untuk menyelamatkan dunia dari satu atau dua sumber kekuatan jahat yang secara eksplisit, memperlihatkan motivasi tersebut, Final Fantasy XII membungkusnya dalam konflik kerajaan yang kompleks. Dimana perang, kematian, dan rasa putus asa menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Final Fantasy XII sendiri mengambil setting di sebuah dunia bernama Ivalice, dunia sama yang juga menjadi basis game Square Enix yang lain seperti Final Fantasy Tactics dan Vagrant Stroy. Rabanastre, ibu kota dari Kerajaan bernama Dalmasca menjadi fokus dari sisi cerita. Kerajaan kuat yang damai ini harus jatuh di tangan Archadia setelah sang raja harus tewas di tangan pengkhianat, sang putra mahkota gugur dalam perang, dan sang putri yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena beban hidup yang tak bisa lagi ia pikul.  Hanya dalam waktu singkat, Dalmasca yang kini berada di bawah bendera Archadia pun berubah menjadi negara boneka.

Lewat pengkhianatan dan perang, sosok penting Dalmasca berakhir tak mampu melindungi kerajaan ini.
Lewat pengkhianatan dan perang, sosok penting Dalmasca berakhir tak mampu melindungi kerajaan ini.
Di bawah kepemimpinan Vayne Solidor, Archadia tak punya rencana untuk melepaskan cengkeramannya.
Di bawah kepemimpinan Vayne Solidor, Archadia tak punya rencana untuk melepaskan cengkeramannya.

Namun kehidupan tentu saja, tidak berhenti di sana begitu saja. Masyarakat Dalmasca, termasuk Vaan, masih berusaha untuk menyambung hidup dengan cara apapun yang bisa mereka lakukan, termasuk mencuri. Namun aksi nekat Vaan untuk mencuri harta terpenting di kastil Rabanastre ternyata membuatnya jatuh ke sebuah garis nasib yang jauh lebih besar. Sebuah batu bercahaya dengan energi besar. Di tengah kondisi kacau yang terjadi, Vaan bertemu dengan pasangan perompak angkasa – Balthier dan Fran yang juga mengincar batu yang sama. Berusaha kabur dari kejaran pasukan Archadia, Balthier, Fran, dan Vaan justru bertemu dengan Asche, sang putri kerajaan Dalmasca yang sempat disinyalir tewas.

Penduduk Rabanastre, ibukota Dalmasca berusaha menjalani kehidupan mereka secara normal. Termasuk Vaan, sang yatim paitu yang terkenal dengan aksi kriminal ringannya.
Penduduk Rabanastre, ibukota Dalmasca berusaha menjalani kehidupan mereka secara normal. Termasuk Vaan, sang yatim paitu yang terkenal dengan aksi kriminal ringannya.
Aksinya untuk mencuri sebuah harta penting justru menyedotnya ke dalam pusaran takdir yang lebih besar.
Aksinya untuk mencuri sebuah harta penting justru menyedotnya ke dalam pusaran takdir yang lebih besar.

Tak lagi ingin membiarkan Archadia menguasai Dalmasca begitu saja, Asche pun berusaha mengembalikan kekuasaannya sebagai yang berhak. Namun Archadia ternyata menyimpan misteri lebih dari apa yang mereka lihat di permukaan. Di tangan para Judge dan Dr. Cid, mereka tengah mengembangkan sebuah seenjata bernama “Nethicite”, yang mampu melepas energi bernama Mist dalam jumlah besar, membuat manusia mendapatkan kekuatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun ternyata, ada kekuatan lebih tinggi lagi yang bergerak di balik konflik antara Archadia dan Dalmasca. Apalagi, kerajaan pihak ketiga – Rozarrian juga memperlihatkan ketertarikan yang tinggi pada konflik ini.

Final Fantasy XII memuat kisah soal perjuangan, balas dendam, dan juga pengorbanan.
Final Fantasy XII memuat kisah soal perjuangan, balas dendam, dan juga pengorbanan.

Lantas, perjuangan seperti apa yang harus dihadapi oleh Vaan dkk? Mampukah mereka mengusir Archadia dari Dalmasca? Apa pula itu Nethicite? Kekuatan apa yang menjadi dalang di balik konflik ini? Anda bisa mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan tersebut dengan mencicipi Final Fantasy XII: The Zodiac Age ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

January 20, 2023 - 0

Review A Space for the Unbound: Standar Tertinggi Game Indonesia Saat Ini!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh A Space for the Unbound?…
October 18, 2022 - 0

Review Uncharted Legacy of Thieves (PC): Drake Pindah Rumah!

Seperti apa performa dan fitur yang ditawarkan oleh Uncharted Legacy…
September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…

PlayStation

January 30, 2023 - 0

Review Dead Space Remake: Isak Tangis di Luar Angkasa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dead Space Remake ini? Apa…
December 22, 2022 - 0

Review Crisis Core – Final Fantasy VII Reunion: Reunian dengan Muka Baru!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Crisis Core – Final Fantasy…
December 8, 2022 - 0

Review Star Ocean – The Divine Force: Bukan Melesat, Malah Meleset!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Star Ocean: The Divine Force?…
December 7, 2022 - 0

Review The Callisto Protocol: Permulaan yang Menjanjikan!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Callisto Protocol ini? Mengapa…

Nintendo

November 2, 2022 - 0

Review Bayonetta 3: Tak Cukup Satu Tante!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Bayonetta 3? Mengapa kami menyebutnya…
September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…