JagatPlay di TGS 2017: Wawancara dengan Tango Gameworks (The Evil Within 2)

Author
Jey Nelson
Reading time:
September 20, 2017
Bethesda - Tango Gameworks Jagatplay

Tiba sehari lebih cepat dibandingkan dengan event utama TGS 2017 yang baru akan dibuka untuk media, Sony Interactive Entertainment memberikan kesempatan untuk berbincang langsung dengan “Bapak Survival Horror” video game – Shinji Mikami secara langsung. Bertempat di kantor Tango Gameworks yang juga melebur bersama dengan kantor Bethesda Jepang, kami berkesempatan untuk berbincang-bincang bersama dengan media SEA lainnya.

Tidak hanya Shinji Mikami juga, dengan The Evil Within 2 sebagai fokus, kami juga berkesempatan untuk bertatap muka dengan John Johanas – Game Director untuk game survival horror dengan Sebastian kembali sebagai karakter utama ini, dan tentu saja Shinsaku Ohara yang terlibat dalam banyak game Bethesda yang kini juga berperan sebagai producer untuk produk yang satu ini. Tango Gameworks juga menawarkan kesempatan untuk menjajal game ini secara langsung, setidaknya untuk satu jam, dan mengitari kantor mereka yang memanjakan mata. Sesuatu yang akan kami bicarakan di artikel yang lain.

Sayangnya, sesi wawancara ini tidak diperkenankan untuk direkam dalam bentuk video. Jadi, apa yang dibicarakan oleh Mikami, Johanas, dan Ohara di sesi interview kami yang singkat ini?

Kami berbicara dengan Shinji Mikami (Producer)
Kami berbicara dengan Shinji Mikami (Producer), Shinsaku Ohara (Producer), dan John Johanas (Game Director) untuk The Evil Within 2.

Apa perbedaan paling signifikan antara (The Evil Within) yang pertama dan kedua?

John: Salah satu yang paling berbeda signifikan adalah ukuran peta yang kami tawarkan di seri ini. Kami tidak tahu apakah Anda melihatnya di sesi demo tadi, tapi beberapa level yang kami perlihatkan di demo sebelumnya menawarkan level yang lebih besar untuk mendorong proses eksplorasi. Semuanya lebih luas dibandingkan di versi pertama.

Dan seri kedua ini juga dikembangkan dengan pacing lebih baik, bergerak dari situasi yang keras dan menegangkan ke era yang lebih tenang. Kami juga menghabiskan banyak energi untuk mencapai titik kesimbangan antara sisi eksplorasi dan beragam aktivitas yang bisa Anda lakukan, sembari mempertahankan rasa tegang ketika bertemu musuh dan membuat Anda merasa memang tengah mejelajahi area yang lebih luas.

Apakah gamer harus memainkan yang pertama terlebih dahulu? Atau pendatang baru langsung bisa menikmati seri kedua ini?

“Anda bisa menikmati The Evil Within 2 ini tanpa mencicipi seri pertamanya”

John: Iya. Anda bisa langsung bisa mencicipi seri kedua ini dan menikmatinya.

(JagatPlay): Mengenai proses pengembangan terkait The Evil Within itu sendiri, proses seperti apa yang Anda tempuh? Apa Anda memilih cerita dulu, atau menciptakan monster terlebih dahulu dan membangun cerita di sekitarnya?

Mikami: Berbeda-beda. Di Resident Evil 4, semuanya dimulai dari desain monster dan dimulai dari sana. Tetapi untuk The Evil Within 2, cerita terlebih dahulu yang jadi fokus, dan sisanya dibangun untuknya.

(JagatPlay): Apa yang menjadi inspirasi utama Anda menciptakan The Evil Within?

“Menciptakan video game itu seperti buang air besar” – MIKAMI

Mikami: Inspirasi tersebut keluar secara alami. Daripada berpikir keras bahwa saya harus menciptakan sesuatu, prosesnya terasa seperti buang air. Ketika ia harus keluar, ia akan keluar. Tetapi ketika Anda sedang mengalami konstipasi, terlepas dari betapa kerasnya Anda mencoba, ia tidak akan keluar sama sekali. Jadi, biarkan dia mengalir secara natural.

Kita sudah mendengar beragam perubahan signifikan untuk The Evil Within 2 ini, seperti yang sempat Anda bilang sebelumnya, seperti level yang lebih besar misalnya. Sementara dari sisi cerita, ada sedikit elemen personal di dalamnya. Jadi melompat dari seri pertama ke seri kedua, apakah ini akan langsung menjadi sekedar kelanjutan saja? Ataukah ia merefleksikan perbaikan yang berusaha Anda tawarkan dibandingkan seri pertamanya?

John: Pertama, kami tentu ingin memperbaiki elemen buruk dari seri pertamanya terlebih dahulu. Di The Evil Within pertama, ia benar-benar game yang sulit. Jadi sekarang (di The Evil Within 2), jika Anda memilih tingkat kesulitan “Casual”, ia akan terasa seperti game casual. Ia akan berakhir menjadi game yang bisa lebih dinikmati untuk orang-orang yang memang tidak mahir bermain game. Sementara tingkat kesulitan lebih tinggi akan tetap menggoda untuk gamer-gamer yang mencintai sulitnya si seri pertama.

Dan untuk tantangan barunya, kami bergerak ke area yang kini lebih terbuka, sembari mempertahankan daya tarik horror dari seri pertamanya.

Jadi di game pertama, “The Keeper” berakhir jadi monster yang cukup ikonik. Apakah The Keeper atau monster serupa akan muncul di seri sekuel ini?

John: Kami mendesain banyak musuh baru kali ini. Beberapa dari monster sudah kami perlihatkan di trailer. Kami juga punya dua musuh utama – Stefano dan Theodore, yang walaupun bentuknya memang manusia, mereka punya monster di bawah mereka yang akan merepresentasikan kepribadian dan dunia mereka masing-masing. Dan semoga saja akan meninggalkan impresi sama kuatnya dengan The Keeper. Sementara untuk gamer yang sempat mencicipi seri pertamanya, akan ada sesi yang akan membuat Anda merasa nostalgic.

the keeper

VR dan Horror biasanya saling melengkapi dengan baik. Apakah Anda punya rencana untuk membuat spin-off atau meracik seri baru dengan VR ini?

Mikami: Saya juga merasa bahwa horror dan VR memang sangat cocok. Oleh karena itu, selalu terbuka kemungkinan kami akan menciptakan sesuatu yang baru dengannya.

Apakah ada penyempurnaan untuk versi Playstation 4 Pro?

John: Kami sendiri belum bisa berbicara dengan detail terkait hal itu. Kami mungkin akan melemparkan pengumuman resmi ketika waktunya tepat.

Bisakah Anda memberikan kami, setidaknya tiga kunci yang membuat seri sekuel ini menarik untuk para penggemar horror?

John: Yang pertama mungkin cerita. Masuk ke dalam kisah yang mungkin belum pernah Anda lihat sebelumnya di genre survival horror. Kedua mungkin sisi eksplorasi yang mungkin akan terasa familiar untuk Anda penggemar klasik game survival horror di masa lalu. Anda bisa membuka banyak misteri. Yang ketiga, adalah kebebasan yang bisa Anda ambil untuk memainkan game. Kami memastikan Anda tidak terkunci pada gaya bermain tertentu dan Anda bisa membangun strategi tersendiri dengan senjata dan item yang Anda dapatkan, termasuk aspek mana yang ingin Anda perkuat dari sosok Sebastian. Dan semoga, berakhir dengan pengalaman unik seiring dengan Anda bermain. Tentu, lebih dari seri pertamanya.

Cerita, eksplorasi, dan kebebasan gameplay adalah tiga daya tarik utama The Evil Within 2.
Cerita, eksplorasi, dan kebebasan gameplay adalah tiga daya tarik utama The Evil Within 2.

Selalu ada bahaya di game open-world yang membuat pengalaman horror terkadang, berakhir menjadi negatif. Bagaimana cara Anda menyeimbangkannya?

Mikami: Buat saja yang lebih seram.

John: The Evil Within 2 bukan game open world. Hanya saja kami punya sesi yang lebih terbuka, tapi ini bukan game open-world. Tapi yeah, kami membuat sesi yang seharusnya menyeramkan, seseram mungkin.

Maksud saya, jika Anda punya side-quest yang bisa memperkuat karakter, biasanya ia akan berakhir menjadi karakter yang jauh lebih kuat dari seharusnya.

John: Ya memang agak sulit untuk menyeimbangkannya. Tetapi Anda tetap harus mendapatkan penghargaan yang pantas ketika menghabiskan waktu menyelesaikan quest yang ada. Tetapi kami membuatnya lebih seimbang untuk memastikan Anda tidak menemukan pengalaman itu.

Untuk cerita itu sendiri, apakah ia akan linear atau akan ada jalur dan ending berbeda?

John: Tidak ada ending berbeda. Tetapi akan ada misi sampingan untuk karakter berbeda yang menghasilkan konsekuensi unik untuk mereka, jadi ada itu. Jadi ceritanya sendiri linear.

Apakah Anda punya rencana DLC, setidaknya untuk kuartal pertama game in dirilis?

Mikami: Itu akan jadi pertanyaan bagus untuk dilemparkan ke Bethesda. Kami tidak bisa mengumumkan apapun.

Mikami menyebut dirinya tertarik mengadaptasikan film seri Westworld menjadi video game.
Mikami menyebut dirinya tertarik mengadaptasikan film seri Westworld menjadi video game.

(JagatPlay): Kami tahu ini mungkin akan sedikit melenceng dari konteks, apa yang menjadi sumber inspirasi untuk Anda? Apakah ada yang ingin Anda rekomendasikan pada kami, dari manga, film, atau anime?

Mikami: Banyak film. Exorcist, Dawn of the Dead, Aliens, Texas Chainsaw Massacre, The Walking Dead.

(JagatPlay): Adakah darinya yang ingin Anda adaptasi menjadi video game?

Mikami: Westworld. Seri TV-nya juga bagus, tetapi saya juga suka dengan versi originalnya.

(JagatPlay): Asia Tenggara itu terkenal dengan begitu banyak cerita hantu dan kejadian paranormal. Apakah itu sempat menginspirasi Anda untuk menciptakan sesuatu darinya?

Mikami: Saya sendiri belum pernah membuat video game yang memang didasari pada hantu berbasis spiritual. Namun saya tertarik untuk mencobanya di masa depan.

Chainsaw itu bisa dibilang sebagai senjata khas “horror”. Saya agak kecewa dengan fakta kalau chainsaw tidak bisa dipakai di seri pertama. Apakah ada kemungkinan ia bisa digunakan di seri kedua ini?

John: Anda harus memainkan game ini sendiri untuk mendapatkan jawabannya.

Bagaimana dengan replayability-nya?

John: Saya rasa akan mirip dengan seri pertama. Akan ada New Game + yang memungkinkan Anda bermain ulang dengan semua item yang sudah Anda dapatkan sebelumnya. Kami juga akan punya tingkat kesulitan super tinggi yang bisa dibuka. Jadi ada sesuatu yang bisa Anda perjuangkan.

Akan ada New Game + setelah Anda menyelesaikan seri pertamanya.
Akan ada New Game + setelah Anda menyelesaikannya.

Di game pertama, hampir mustahil untuk memaksimalkan karakter Anda di playthrough pertama. Hanya bisa dilakukan di playthrough kedua. Apakah mungkin memaksimalkan karakter di playthrough pertama untuk The Evil Within 2 ini?

John: Playthrough pertama? Sepertinya tidak mungkin.

Jika boleh bertanya soal intensi terkait franchise The Evil Within ini. Apakah ini akan seri yang akan terus mengikuti sepak terjang Sebastian? Ataukah ini akan jadi semesta yang ingin Anda eksplorasi lebih jauh?

Mikami: Kami bahkan belum memikirkan sebuah seri sekuel saat ini. Tetapi jika saatnya memang tepat, kami akan memikirkannya.

(JagatPlay): Apa yang mendefinisikan sebuah genre sebagai survival horror menurut Anda?

Mikami: Di masa lalu, action adventure itu adalah satu genre, namun tidak lagi seperti itu saat ini. Bagi saya, survival horror adalah genre apapun yang memuat gamer senang. Ada banyak game saat ini dimana Anda tidak bisa melawan musuh yang ada. Survival horror adalah dimana Anda bisa melawan musuh yang ada. Walaupun saat ini, game dimana Anda tidak bisa melawan memang lebih populer.

John: Saya setuju bahwa survival horror selalu soal bahwa Anda berada dalam posisi yang terdesak, tetapi selalu ada kemampuan untuk menundukkan musuh dengan cara apapun, dan kemudian menguat dengan menggunakan senjata yang lebih baik atau sejenisnya. The Evil Within 2 juga mengusung konsep yang sama.

Can't believe we are here..
Can’t believe we are here..
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…