Review ROG Strix Wireless: Terlalu Lengkap untuk Ditolak!

Reading time:
December 7, 2017
ROG Strix Wireless jagatplay 64
ROG Strix Wireless.

Hampir mustahil sepertinya Anda tidak pernah mendengar nama ASUS sebelumnya. Perusahaan besar yang satu ini memang menawarkan banyak produk teknologi. Beberapa dari Anda mungkin mengenalnya dari perangkat ponsel pintar, beberapa lebih familiar dengan perangkat komponen rakit PC, sementara tidak sedikit pula yang mulai tertarik dengan label ROG alias Republic of Gamers yang ia usung untuk perangkat berbasis gaming mereka. Asus via ROG sendiri menelurkan banyak produk menarik yang ditawarkan untuk meningkatkan performa gaming, dari sekedar menawarkan kemudahan hingga kenyamanan. Salah satunya? Adalah headset gaming yang tak lagi berusia muda – ROG Strix Wireless.

(Diuji dan di-review dengan SI HITAM MK.I)

Desain dan Fitur

ROG Strix Wireless jagatplay 21
Sekilas pandang, Anda sudah bisa memerhatikan desainnya yang unik. Kedua titik orange laksana mata burung hantu tersemat di kedua sisi.

Dari sisi desain, ROG Strix Wireless ini memang tidak terlihat cukup unik. Yang ia tawarkan adalah daya tarik sang burung hantu yang memang menjadi maskot untuk jajaran produk yang satu ini. Dengan bagian sisi kiri dan kanan yang diisi dengan sebuah roda berwarna orange yang mengingatkan Anda pada mata burung hantu, dibalut dengan warna hitam legam yang mendominasi adalah identitas utama headset gaming yang satu ini. Namun untuk urusan kosmetik yang lain, ia memang tidak menawarkan hal tersebut. Tidak ada RGB, tidak ada lampu LED yang menarik “norak” di sekeliling produk yang ada. Satu-satunya LED yang Anda temui hanyalah di tombol Power untuk mengindikasikan apakah ia menyala, sedang di-charge, atau di-charge dalam keadaan mati. Tidak ada yang berlebihan di sini.

ROG Strix Wireless jagatplay 57
Bentuknya memang terkesan bongsor dan garang.
ROG Strix Wireless jagatplay 16
Tidak ada pernak-pernik kosmetik berbasis LED RGB di sini.

Bentuknya sendiri cukup “bongsor” untuk ukuran headset gaming, terutama untuk penopang yang ada. Ada kesan kuat bahwa ia hendak terlihat garang dari bentuk garis desain yang dilempar, dan sejauh ini, terlihat berhasil. Terlepas dari bahan plastik yang mendominasi, ia terlihat cukup kokoh. Lapisan busa juga disertakan untuk membantu kepala Anda tetap nyaman untuk penggunaan dalam waktu yang lama, tanpa keringat berlebih. Ukuran pads yang cukup besar juga akan menutup hampir sebagian besar daun telinga user di luar sana, selama masih punya bentuk yang proporsional. Secara garis besar, ia hadir dengan desain yang unik, tetapi di sisi lain, tidak berakhir berlebihan. Anda yang menginginkan kosmetik berbasis RGB mungkin tidak akan mendapatkan apa yang Anda butuhkan di sini.

ROG Strix Wireless jagatplay 15
Penopang kepala yang nyaman.
ROG Strix Wireless jagatplay 30
Paket kelengkapan fantastis. Tidak hanya bisa dinikmati secara wireless, Anda juga akan dibekali kabel jack untuk menjadikannya sebagai headset gaming yang reliable untuk platform gaming lain, termasuk Switch.

Namun ROG Strix Wireless ini memang berujung sulit untuk ditolak. Salah satu alasan utamanya adalah fleksibilitas.. Tidak hanya itu saja, mereka bahkan memfasilitasi hal tersebut lewat serangkaian kelengkapan yang ia sertakan dalam paket penjualan. Kita berbicara soal headset wireless / tanpa kabel yang bisa digunakan di PC dan Playstation 4 begitu saja, headset sama yang juga menyediakan kabel jack untuk Anda yang ingin menikmatinya di perangkat mobile atau bahkan Nintendo Switch, sekaligus hadir dengan kesempatan untuk memodifikasi efek hasil suara lewat perangkat lunak yang tersedia. Masih kurang? Dengan desain mic yang bisa dicabut pasang, Anda bahkan bisa menjadikannya sebagai perangkat audio Anda ketika berpergian, terlepas apakah Anda menggunakannya untuk kepentingan gaming atau tidak. ASUS ROG sepertinya sudah memikirkan kira-kira kebutuhan seperti apa yang Anda mungkin telurkan, dan kemudian beradaptasi dengan itu.

ROG Strix Wireless jagatplay 27
Mic yang bisa dicabut pasang dan dibengkokkan juga jadi highlight tersendiri.

Di atas semua desain tersebut, Anda juga akan menemukan ekstra tombol di bagian salah satu headset yang memungkinkan Anda untuk mengatur serangkaian fungsi secara instan, dari volume, mematikan mic, hingga tombol power itu sendiri. Semua slot untuk ragam kabel yang ingin Anda sematkan juga didesain sedikit menjorok ke dalam untuk memastikan kemungkinan terlepas karena satu alasan tertentu. Sayangnya, selama proses review, kami menemukan satu masalah – yakni dongle wireless yang ternyata cukup rentan. Menganggapnya akan tahan banting, bentuk dongle yang cukup panjang ini ternyata berakhir bengkok ketika kami cukup percaya diri menempatkanya di USB Si Hitam MK.I di bagian teratas. Kami sendiri tidak menyadari bahwa dongle tersebut sudah bengkok sebelum kami memutuskan untuk membawa headset ini ke ruang foto. Walaupun fungsi masih berjalan sempurna, misteri bengkoknya dongle ini masih jadi tanda tanya, terutama soal penyebabnya, mengingat kami tidak pernah merasa sempat melihat atau merasakan insiden apapun yang berkaitan dengan dongle yang satu ini. Sensitif? Rentan? Atau ada kecelakaan yang tak kami perhatikan dengan serius? Masih jadi misteri.

ROG Strix Wireless jagatplay 67
Dongle wireless bisa langsung digunakan di Playstation 4.

Namun dengan semua kelengkapan yang ia tawarkan, ROG Strix Wireless menjadi satu paket lengkap untuk perangkat audio gaming yang Anda butuhkan, terlepas dari platform apapun yang Anda miliki. Wireless? Anda bisa menggunakannya untuk Playstation 4 dan PC itu sendiri. Dengan menggunakan kabel jack yang ada, Anda bisa menggunakannya secara universal untuk platform gaming manapun yang mendukung port tersebut, termasuk Nintendo Switch sekalipun. Proses pergantiannya sendiri juga sama sekali tidak menyulitkan mengingat semua kabel yang Anda butuhkan, bahkan untuk memanfaatkan mic-nya sekalipun, sudah tersedia di paket penjualan.

Lantas, apa saja yang ia tawarkan di dalamnya? Inilah spesifikasi teknis yang ditawarkan oleh ROG Strix Wireless:

  • Connector: USB, 3.5mm connector Audio/mic combo, 3.5mm connector Audio/mic separate
  • Driver: 60mm Neodymium Magnet
  • Impedance: 32 Ohm
  • Microphone: Uni-directional
  • Frequency Response (headphones): 20-20.000Hz
  • Sensitivity (headphones): 98 dB
  • Frequence Response (mic): 50-16.000Hz
  • Sensitivity (mic): -40dB
  • Cable: Braided
  • Cable Length: 1.5 meter
  • Weight: 0.77lb
Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…
July 22, 2022 - 0

Review As Dusk Falls: Ini Baru Game Drama Berkualitas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh As Dusk Falls ini?…
June 28, 2022 - 0

Review My Lovely Wife: Pilih Istri atau Iblis-Iblis Seksi!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh My Lovely Wife ini?…

PlayStation

July 18, 2022 - 0

Review STRAY: Kocheng Oren Mah Bebas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh STRAY? Mengapa kami menyebutnya…
March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…
March 21, 2022 - 0

Review Elden Ring: Cincin Menuntut Nyawa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan Elden Ring? Lantas, mengapa kami menyebutnya…

Nintendo

August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…