Review Mega Man 11: Sang Robot Biru yang Dirindukan!

Reading time:
October 11, 2018
Mega Man 11 jagatplay 11

Mighty No. 9, terlepas dari kualitas yang berada di bawah rata-rata adalah sebuah bentuk “pernyataan” yang jelas dari gamer. Bahwa di tangan harapan yang berhasil “dihempaskan” oleh Keiji Inafune begitu saja tersebut adalah teriakan dan tuntutan yang jelas pada Capcom bahwa saat ini, gamer masih menunggu sebuah kelanjutan kisah perjuangan sang robot biru – Mega Man. Apalagi di kala itu, Mighty No.9 berhasil memenuhi kuota pendanaan mereka via Kickstarter dengan kecepatan yang begitu tinggi, dengan jelas memperlihatkan antusiasme yang ada. Sayangnya, alih-alih merepson cepat, Capcom terlihat tidak banyak bergeming.

Untungnya, pelan tapi pasti bersama dengan kebijakan yang sepertinya mulai mengerti potensi franchise raksasa mereka, Capcom membawa kembali denyut jantung sang robot biru ikonik tersebut. Dimulai dari rilis ulang seri klasiknya dalam format Collection untuk merayakan ulang tahunnya yang percaya atau tidak, sudah memasuki angka 30 tahun, Capcom juga mengumumkan dan mempersiapkan game terbaru dari seri utamanya. Penantian dimulai dan dari semua screenshot, trailer, hingga demo yang meluncur, Mega Man 11 terlihat fantastis sebagai sebuah seri Mega Man yang selama ini Anda kenal. Sensasi klasik yang kini dibungkus dengan mekanik yang baru sekaligus sistem yang membuatnya jauh lebih bersahabat untuk gamer pendatang baru.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Mega Man 11 ini? Bagaimana sensasi kembalinya sang robot biru yang begitu dirindukan ini? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Mega Man 11 jagatplay 5
Plot klise yang diusung sepertinya tidak akan asing lagi dengan para penggemar Mega Man.

Bagi Anda yang sempat menikmati seri Mega Man sebelumnya, sepertinya sudah bukan rahasia lagi kira-kira konten cerita seperti apa yang akan Anda dapatkan di sini. Formatnya sendiri tidak banyak berubah, dimana Anda untuk kesekian kalinya, harus mengangkat senjata melawan Dr. Wily yang sepertinya tidak punya “batas moral” jika berbicara soal teknologi robotik itu sendiri.

Baik Dr. Light – pencipta Mega Man ataupun Dr. Wily di kala muda memimpikan sebuah masyarakat dimana manusia dan robot bisa hidup berdampingan. Namun keduanya menawarkan solusi yang berbeda. Jika Dr. Light lebih melihat bahwa harapan tersebut bisa dipenuhi dengan menyuntikkan AI yang lebih baik dan bebas untuk membuat mereka setara dengan manusia, Dr. Wily merasa bahwa satu-satunya cara agar manusia bisa menerima robot apa adanya adalah dengan membuat mereka tampil tidak ubahnya superhero. Oleh karena itu, Dr. Wily merancang sebuah teknologi yang disebut sebagai “Double Gear” untuk memungkinkan hal tersebut terjadi.

Mega Man 11 jagatplay 1
Dr. Light, pencipta Mega Man punya pendapat berbeda dengan Dr. Wily terkait integrasi robot dalam hidup manusia.
Mega Man 11 jagatplay 103
Dr. Wily kembali dan menjadi biang kerok untuk semua masalah.

Namun seperti yang bisa diprediksi, jalur yang dipilih Dr. Wily tersebut tidak mendapatkan dukungan dari rekan sejawat yang akhirnya berujung memberikan dana penelitian kepada Dr. Light. Double Gear diyakini justru akan menghasilkan efek negatif bagi para robot jika digunakan secara berkepanjangan, mengingat setiap dari mereka punya limitasi tertentu. Dr. Wily sempat menghilang. Tetapi seperti yang bisa Anda perkirakan, ia kembali. Tidak main-main, ia langsung merebut dan menguasai 8 robot terbaik Dr. Light untuk merencanakan aksi menguasai dunia. Mega Man pun kini harus turun tangan untuk menundukkan ambisi Dr. Wily.

Mega Man 11 jagatplay 19
Format 8 boss klasik Mega Man!

Lantas, pertempuran seperti apa yang harus  dilalui Mega Man? Mampukah ia menghalangi ambisi Dr. Wily? Anda tentu saja harus memainkan Mega Man 11 ini untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…