Review Anthem: Seperti Istana Pasir!

Reading time:
March 13, 2019

Frostbite Engine di Game Open-World

Anthem jagatplay part 1 89
Seperti game berbasis Frostbite yang lain, Anthem terlihat indah.

Gamer mana yang belum pernah mendengar nama Frostbite Engine sebelumnya? Engine racikan DICE tersebut kini memang menjadi basis untuk hampir semua game yang diracik oleh EA, terlepas dari genre apapun yang mereka usung. Kita berbicara dari Battlefield V hingga FIFA 19. Namun untuk pertama kalinya Frostbite Engine dijadikan sebagai basis untuk membangun game open-world, sebuah game dengan wilayah luar biasa luas yang harus diakui, memang tidak pernah difokuskan oleh EA sebelumnya. Dan kini, Bioware Edmonton lah yang punya tanggung jawab untuk membuktikan bahwa fleksibiltas Frostbite memang tidak perlu lagi diragukan.

Maka seperti game-game berbasis Frostbite yang lain, Anthem secara detail terlihat indah. Melihat para Javelin, apapun yang Anda gunakan, basah terkena terpaan hujan badai di beberapa titik atau sekedar terbang ke arah sumber cahaya untuk efek dramatis yang ada tetap menghasilkan pengalaman yang memanjakan mata, apalagi jika Anda memiliki PC yang cukup mumpuni untuk memainkannya di kualitas visualisasi paling maksimal. Melihat bagaimana efek ledakan super destruktif terjadi ketika Anda menggunakan serangan ultimate Ranger atau Storm misalnya, masih terasa memuaskan secara visual terlepas dari betapa seringnya Anda menggunakannya. Namun sayangnya, terlepas dari kualitas Frostbite yang mumpuni, dunia Anthem terhitung membosankan.

Anthem jagatplay part 1 230
BOOM! BOOM! BOOM!
Anthem jagatplay part 1 9
Anthem menawarkan variasi terrain yang begitu minim.

Memang ia terasa padat lewat beragam vegetasi dan ekosistem yang cukup terasa hidup di dalamnya, namun sulit rasanya untuk tidak mengkritisi desain dunia yang ditawarkan Anthem. Salah satunya adalah masalah variasi terrain. Bahwa terlepas dari visualisasinya yang memesona, hampir sebagian besar tempat yang Anda kunjungi akan berakhir menjadi hutan penuh warna hijau, sedikit wilayah kosong yang berisikan reruntuhan ataupun markas musuh, dan beberapa gua yang berperan sebagai dungeon. Variasi terbaik yang Anda temukan hanyalah sebuah tempat ber-magma di akhir permainan yang memesona, tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Tidak ada padang pasir, tidak ada pertempuran dalam laut (mengingat Javelin bisa berenang), tidak ada gunung bersalju, tidak ada gurun kering dengan bebatuan misalnya. Dunia Anthem seperti membuat Anda tertahan di sebuah hutan tropis yang ketika diamati lebih menjauh, sebenarnya tidak seberapa luas pula untuk ukuran game open-world.

Menginginkan variasi dunia seperti ini tentu bukan sesuatu yang tidak rasional. Karena bukan game single player open-world saja yang bisa melakukannya, game-game multiplayer co-op dengan konsep loot shooter juga terbukti mampu mengeksekusinya dengan manis. Game seperti Destiny misalnya, walaupun tidak mengusung konsep open-world seperti Anthem, tetap menawarkan kesempatan eksplorasi bagi Anda untuk bertarung di planet dan terrain berbeda. Dari Venus yang punya warna cerah dan atmosfer yang aneh hingga pesawat luar angkasa raksasa yang berisikan begitu banyak metal gelap di dalamnya. Variasi tidak hanya meminimalisir resiko sensasi repetisi saja, tetapi juga menangkap gambaran lebih jelas soal dunia yang hendak ditawarkan oleh video game itu sendiri. Di sini, Anthem sedikit mengecewakan. Menghabiskan puluhan hingga ratusan jam di tempat yang itu-itu saja? Ini seolah menguatkan kesan bahwa Shapers – ras yang membentuk dunianya berdasarkan lore memang tidak terlalu kreatif.

Anthem jagatplay part 1 184
Hutan lagi, hijau lagi.
Anthem jagatplay part 1 280
Kami jatuh hati pada desain Javelin dan musuh yang Anda hadapi di Anthem.

Namun setidaknya, Anda akan sedikit terobati dengan desain yang mereka unjuk untuk setiap Javelin yang bisa Anda gunakan ataupun beragam ras musuh yang akan Anda lawan. Baik Anda menggunakan Ranger, Interceptor, Storm, ataupun Colossus (yang perannya akan kita bahas nanti), mereka masing-masing punya animasi unik dan desain yang mendukung peran mereka di dalam pertarungan. Interceptor misalnya, terlepas dari apakah Anda menggunakan karakter pria ataupun wanita, ia selalu diposisikan sebagai Javelin dengan bentuk ramping yang secara rasional memang mendukung sifatnya yang berfokus pada agility. Bentuk armor yang proporsional, desain kepala yang elegan, dengan kesempatan modifikasi kosmetik berdasarkan material dan warna membuat kami jatuh hati. Acungan jempol juga pantas untuk diarahkan pada ras musuh yang cukup punya banyak varian, termasuk beberapa jenis Elite yang salah satunya bahkan merupakan pilot Javelin / Lancer sendiri. Satu ras musuh yang cukup mengecewakan hanyalah para serangga yang terlihat begitu biasa dan kurang mengancam.

Sementara dari desain audio, semuannya fantastis. Bunyi tembakan dari setiap senjata Anda hingga sekedar suara jetpack ala Iron Man yang Anda picu untuk terbang cepat melintasi dunianya yang terbuka akan berakhir dengan pengalaman audio yang fantastis. Apalagi jika Anda menggunakan beragam serangan elemental dari Storm misalnya, dari api hingga listrik yang juga hadir memesona. Hal sama juga pantas diarahkan pada sisi musik yang juga tidak kalah mumpuni untuk membangun mood dan atmosfer yang ada, bahkan dari pertama kali Anda melihat title screen sekalipun. Sayangnya, sisi audio ini tidak banyak memberikan clue dan informasi soal gameplay ataupun situasi saat Anda sibuk bertempur. Tidak ada efek suara yang signifikan misalnya untuk sekedar memperingatkan Anda soal kehadiran tipe musuh spesifik yang berbahaya dalam pertempuran atau ketika teman Anda butuh bantuan untuk dihidupkan kembali.

Sayangnya, Anthem juga dirudung beberapa masalah lain dari sisi desain dan presentasi yang cukup membingungkan. Salah satu yang paling parah tentu saja loading screen. Bahwa ketika banyak game open-world sudah menerapkan sistem yang seamless untuk bergerak masuk dan keluar wilayah atau mengakses menu yang ada, Anthem membutuhkan banyak proses loading yang pelan tapi pasti menyebalkan. Kita tidak sekedar berbicara soal jumlah loading screen yang Anda hadapi saja, tetapi soal minimnya kreativitas mereka untuk membuatnya tidak membosankan. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana beberapa game biasanya menyiasati waktu loading dengan sekedar menambahkan ekstra animasi tidak penting untuknya (seperti animasi perpindahan dunia dengan Bifrosft di God of War) atau menggunakannya untuk berbagi artwork atau wallpaper dengan informasi penting lore di atasnya. Menyematkan sekedar perpindahan gambar seperti tentu saja, terasa malas.

Anthem jagatplay part 1 75
Bersiaplah untuk “Loading Screen Simulator”
Anthem jagatplay part 1 176
User-interface seperti di Forge misalnya, memang elegan. Tapi apakah memuat informasi yang Anda butuhkan? Sayangnya, tidak.

User-interface pada saat Anda mengakses menu Forge yang notabene merupakan halaman Anda untuk mempersiapkan Javelin Anda dengan mengakses senjata dan skill juga sama buruknya. Walaupun terlihat elegan dan minimalis dengan hanya memperlihatkan Javelin Anda dan bagian-bagiannya, user-interface-nya tidak menyediakan informasi mendetail yang seharusnya esensial untuk memberikan pengetahuan lebih mendalam soal skala kekuatan Javelin Anda saat ini. Butuh informasi seperti damage, HP, ataupun Shield dalam bentu angka dan bukan sekedar sebuah bar kecil untuk memperlihatkan seberapa tinggi level equipment Anda. Informasi seperti ini mungkin membuat halaman Forge terlihat cantik, tetapi akan sangat membantu posisinya sebagai game action RPG.

Maka dari semua sisi presentasi yang ditawarkan EA dan Bioware di Anthem, tidak kesemuanya bisa dibilang berhasil. Apalagi ada spekulasi bahwa beragam masalah teknis yang dihadapi oleh Anthem saat ini, terutama dari sisi framerate dan crash terjadi karena Frosbite memang tidak optimal untuk tipe game dengan genre seperti ini. Namun tentu saja, mengingat pengetahuan teknis kami yang terbatas, tidak ada cara untuk membuktikan pernyataan yang satu ini.

Cerita Khas Bioware

Anthem jagatplay part 1 292
Salah satu hal yang berhasil dilakukan Anthem adalah meracik cita rasa single-player game yang sejatinya adalah sebuah game multiplayer kooperatif.

Salah satu aspek tersulit dari membangun game shooter multiplayer yang berkualitas adalah menyajikan cerita yang menarik dan menggugah di saat yang sama. Bercermin pada apa yang ditawarkan Bungie dengan Destiny ataupun Ubisoft dengan The Division, plot hadir tidak lebih dari sekedar alasan mengapa Anda diperkaya dengan lebih banyak misi utama dan misi sampingan yang pada akhirnya – berakhir dengan lebih banyak aktivitas yang terus membuat Anda sibuk. Cerita tidak pernah memainkan peran yang benar-benar penting dan bahkan ditangani dengan setengah hati. Kasus Destiny 1 misalnya dimana lore lebih banyak ditawarkan via kartu Grimoire alih-alih disajikan ala cut-scene seperti halnya Destiny 2 menjadi contoh. Bahkan di Destiny 2 sekalipun, sisi cerita tidak terasa seberapa memesona walaupun punya struktur lebih jelas.

Cerita mungkin adalah satu dari sedikit alasan kami jatuh hati pada Anthem. Ia mungkin tidak menawarkan formula khas game action RPG klasik khas Bioware di masa lalu dengan opsi dan konsekuensi yang menentukan sisi cerita, tetapi setidaknya, mereka masih menaruh perhatian besar padanya. Bahkan, kami berani mengklaim bahwa dari semua game multiplayer kooperatif dengan loot-based sejauh ini, Anthem jadi satu-satunya yang datang dengan pendekatan ala game single-player. Percaya atau tidak, sistem ini ternyata bekerja dengan baik.

Anthem jagatplay part 1 30
Fort Tarsis – rumah “personal” Anda berhasil menawarkan ilusi tersebut.
Anthem jagatplay part 1 138
Anthem terasa seperti game single-player hingga di titik proses matchmaking diperlukan untuk menyelesaikan misi yang ada.

Hingga cukup untuk membuat kami merasa bahwa klaim Bioware terkait Anthem adalah game yang dikembangkan dengan fokus single-player experience selama ini bukanlah omong kosong belaka. Efek ini mereka hasilkan dengan membuat fitur co-op multiplayer terjadi setelah Anda memilih misi dan bukannya ketika Anda menikmati cerita yang ada. Sebagian besar waktu Anda akan dihabiskan di dalam Fort Tarsis dalam kacamata orang pertama, dimana Anda bisa berinteraksi dengan beragam NPC baik untuk keperluan berbelanja ataupun sekedar untuk berbincang-bincang terkait tema yang biasanya berbeda. Walaupun opsi percakapan tidak banyak memberikan konsekuensi yang berbeda.

Kerennya lagi, Fort Tarsis juga jadi “rumah” yang dinamis. Aksi yang Anda lakukan pada saat berpetualang dan menikmati proses matchmaking akan berpengaruh pada bentuk Fort Tarsis itu sendiri lewat reward sistem faksi yang dibagi ke dalam tiga kelompok besar dengan misi mereka masing-masing. Tidak hanya itu saja beberapa NPC yang Anda ajak bicara juga bisa menghasilkan perbedaan tersendiri, seperti tambahan air mancur aktif misalnya di dalam kota. Tidak banyak mempengaruhi gameplay memang, namun setidaknya,  cukup untuk mengesankan kuat bahwa seperti halnya game single-player, aksi Anda bisa mempengaruhi dunia di sekitar Anda. Kekuatan dan daya tarik beberapa NPC juga menguatkan kesan single-player-yang-kebetulan-punya-elemen-multiplayer-kooperatif ini.

Ada dua NPC yang jadi terfavorit kami dan menjadi bukti mumpuni kemampuan tulis cerita milik Bioware. Pertama adalah NPC pria super mengganggu yang selalu menunggu Anda untuk mampir dan berbagi soal rumor dan gosip tidak penting dan akurat seputar apa yang terjadi di Fort Tarsis. Selalu memuaskan bagaimana karakter Anda selalu punya opsi untuk membantah semua omong kosong tersebut. Sementara karakter kedua adalah seorang ibu dengan demensia yang mengira kita, adalah anak yang ia sayangi. Pelan tapi pasti Anda akan mendapatkan latar belakang cerita yang cukup memilu untuk sosok ibu yang satu ini. Ada opsi untuk terus bermain peran sebagai anak sang ibu atau langsung membantah dan membiarkan harapannya mati begitu saja. Sekali lagi, tidak berpengaruh penting pada cerita atau gameplay Anda memang, tetapi menguatkan sensasi bermain peran di dalam Anthem itu sendiri.

Anthem jagatplay part 1 279
Beberapa NPC punya cerita solid, seperti ibu malang yang satu ini.

Dengan pendekatan dan kualitas seperti ini, terutama lewat dunia yang punya lore jelas seperti sepak terjang Tarsis sebagai pejuang legendaris hingga kemampuan mumpuni Anthem of Creation yang jadi fokus cerita hingga ragam plot-twist yang berhasil membuat ceritanya lebih menarik dari yang Anda bayangkan, kami cukup bersyukur Bioware tidak lantas melebur segala sesuatunya ke dalam hub. Format Fort Tarsis yang terasa seperti sebuah game single-player adalah sebuah inovasi yang kami rasa bisa diterapkan ke banyak game loot shooter di masa depan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
November 29, 2024 - 0

Palworld Dan Terraria Crossover Event Akan Hadir Pada 2025

Palworld dan Terraria umumkan event crossover yang akan digelar pada…

PlayStation

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
December 7, 2024 - 0

Preview Infinity Nikki: Game Indah Di Mana Baju Adalah Pedangmu

Kesan pertama kami setelah memainkan Infinity Nikki selama beberapa jam;…

Nintendo

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 30, 2025 - 0

Review Nintendo Switch 2: Upgrade Terbaik Untuk Console Terlaris Nintendo

Nintendo Switch 2 merupakan upgrade positif yang telah lama ditunggu…
July 28, 2023 - 0

Review Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Tak Sesempurna yang Dibicarakan!

Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang tak sesempurna yang dibicarakan…
May 19, 2023 - 0

Preview Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Kian Menggila dengan Logika!

Apa yang ditawarkan oleh Legend of Zelda: Tears of the…