Preview Fire Emblem – Three Houses: Tak Cukup Sekali!

Reading time:
August 6, 2019

Tampil habis-habisan, hanya dalam kurun waktu 1 bulan saja, Nintendo sudah melepas dua judul yang tampil sebagai game eksklusif untuk konsol hybrid miliknya – Switch. Selain Marvel Ultimate Alliance 3 yang menawarkan cita rasa gameplay klasik seperti yang kita ingat selama ini, Nintendo juga akhirnya mengembalikan game strategi andalan mereka – Fire Emblem. Tetap dikembangkan oleh Intelligent Systems untuk platform yang tentu saja lebih kuat dibandingkan Nintendo 3DS, potensinya memang terasa besar. Apalagi sejak pengenalannya, ia juga menjanjikan tiga cabang cerita utama dari perspektif tiga kelompok karakter yang bisa Anda pilih. Lantas, bagaimana kesan pertama yang ia tawarkan?

Kesan Pertama

Fantastis adalah kata yang akan kami pilih untuk menjelaskan “kesan pertama” yang berhasil ditawarkan oleh Fire Emblem: Three Houses yang satu ini. Menikmati kualitas visualisasi lebih baik berkat performa Switch yang lebih kuat menawarkan dunia yang setidaknya lebih hidup, bersama dengan karakter-karakternya yang sejak seri di masa lalu, memang terkenal memiliki kepribadian yang kuat. Tenang, kita juga bicara soal waifu-waifu yang tidak terelakkan dari franchise ini. Maka lewat mekanik strategi yang solid, Anda akan dibawa pada kisah soal cinta, persahabatan, politik, dan juga pengkhianatan. Semuanya disajikan dalam perspektif tiga karakter dan tiga kelompok yang walaupun berbagi satu benang merah cerita yang sama (setidaknya dari sejauh kami mencicipinya), tetap menawarkan perspektif yang berbeda.

Sementara dari sistem gameplay, Nintendo sepertinya memahami akan ada banyak gamer pendatang baru yang baru akan terjun masuk ke “dunia” Fire Emblem lewat seri Three Houses ini. Oleh karena itu, mereka juga menawarkan sistem kematian “Casual” – yang sepertinya namanya memungkinkan karakter yang tewas di medan pertempuran untuk terus kembali. Namun untuk pengalaman yang lebih maksimal, terlepas dari tingkat kesulitan yang Anda pilih di awal, kami lebih merkomendasikan Anda untuk memainkannya di mode “Classic” yang menawarkan sistem kematian permanen. Resiko kehilangan anggota member selamanya memberikan nilai apresiasi yang lebih tinggi pada kehadiran mereka di dalam tim, baik ketika bertarung ataupun sekedar bersenda gurau saat cut-scene.

Yang menarik adalah status dimana Anda diposisikan sebagai seorang guru sekolah besar yang membawahi para bangsawan ini. Karena alih-alih sekedar sebagai citra di dalam cerita saja, Intelligent Systems terhitung berhasil mengintegrasikannya dengan baik ke dalam sisi gameplay. Bahwa di luar medan pertempuran yang harus Anda tundukkan, Anda juga akan menjalani “kehidupan sehari-hari”, dimana Anda harus berinteraksi dengan murid Anda, mengajar, membangun skill yang dibutuhkan, melakukan re-stock, bahkan melakukan ragam aktivitas ekstra untuk menambah motivasi belajar murid seperti makan atau berlatih paduan suara bersama. Dengan limitasi waktu yang disuntikkan, dimana Anda terkadang juga harus memilih prioritas Anda sendiri, ini menjadi sistem yang tak sulit untuk membuat kami jatuh hati.

Kami sendiri sebenarnya sudah menyelesaikan Fire Emblem: Three Houses setidaknya dari 1 skenario saja. Namun mengingat kebutuhan untuk memahami perbedaan yang didapatkan dari skenario yang lain, apalagi mengingat ketiganya terikat satu sama lain, kami sendiri berambisi untuk setidaknya menyelesaikan satu lagi skenario untuk setidaknya mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Berita baiknya? Fire Emblem: Three Houses mengusung sistem New Game+ yang memungkinkan Anda untuk membawa beberapa progress dari playthrough sebelumnya, demi mencetak progress yang lebih cepat.

Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review, terutama untuk menyelesaikan playthrough kedua kami, izinkan kami melemparkan segudang screenshot fresh from oven di bawah ini untuk membantu Anda mendapatkan sedikit gambaran apa itu Fire Emblem: Three Houses. Ini adalah game penyita waktu yang sepertinya tak akan bisa Anda mainkan hanya sekali saja!

RAW Screenshot

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…

PlayStation

April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…
March 9, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Housemarque (RETURNAL)!

Housemarque dan rilis konsol terbaru Playstation memang jadi kombinasi tidak…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…