Review HP Omen Mindframe: Dingin-Dingin Empuk!

Reading time:
August 15, 2019
HP Omen Mindframe

Berusaha berinovasi, menawarkan sebuah fungsi yang memang mengamplifikasi fungsi atau kenyamanan penggunanya, sembari menawarkan semua fungsi standar lain yang memang dinginkan dan dibutuhkan, menarik untuk melihat apa yang berusaha ditawarkan oleh penyedia peripheral gaming di setiap iterasi produk yang mereka tawarkan. Walaupun ketidaksemuanya memang berfungsi seharusnya dan berakhir sekedar gimmick, tidak sedikit pula yang mampu mengusung teknologi yang menarik untuk dibicarakan. Salah satu yang menarik dan baru tiba di meja uji kami? HP Omen Mindrame. Bahwa fitur “tergila’ yang ia tawarkan ternyata berakhir seperti apa yang dipromosikan selama ini.

Desain dan Fitur

Seksi, keren, dan elegan, ini mungkin dua kesan pertama yang Anda temui ketika berbicara soal Omen Mindframe, apalagi untuk varian putih yang menjadi pondasi artikel review kami kali ini. Menyiratkan kesan yang kuat sebagai sebuah headset yang ditujukan untuk gaming, desain keren ini juga untungnya, menjanjikan kenyamanan. Menghadirkan material yang fleksibel, ia akan langsung menyesuaikan diri dengan besar kepala Anda begitu digunakan, yang kerennya bahkan mampu memfasilitasi kepala kami yang di standar orang Indonesia – sudah terhitung besar. Kita tentu saja bicara soal hitungan fisik dan bukan soal ungkapan metafora.

Bersama dengan warna putih yang siap mencuri perhatian siapapun yang melihatnya ini, HP juga menyuntikkan sedikit elemen kosmetik di bagian kiri dan kanan headset yang dihiasi dengan LED strip berbentuk persegi di setiap sisi. Dengan menggunakan perangkat lunak yang akan kami bahas nantinya, Anda bisa mengatur cara kerja LED yang menjalankan tugasnya dengan baik – menguatkan konsep gaming yang ia usung namun tidak berakhir norak sama sekali. Anda bisa membuatnya bereaksi sesuai dengan bunyi yang muncul atau sekedar merotasi warna RGB yang beragam.

Dengan desain penopang kepala yang fleksibel dan nyaman, ia akan terasa cocok di kepala Anda, berapa besar pun ukurannya. Tentu saja kita bicara soal sesuatu yang harfiah dan bukan metafora.
LED RGB dihadirkan di kedua sisi atas nama kosmetik. Efektif dan tidak terlihat norak.

Maka dengan kombinasi seperti ini, apalagi dengan bahan busa yang mengelilingi telinga Anda, HP jelas tetap berfokus untuk menawarkan kenyamanan di balik kualitas desainnnya yang secara kasat mata, memang pantas untuk diacungi jempol. Ada kesan futuristik yang mengalir kuat dari pilihan warna dan bentuk, yang juga didukung dengan bentuk mic pipih yang tersedia di sana. Dengan sedikit LED di bagian ujung untuk memberikan informasi apakah ia tengah aktif atau tidak, maka Omen Mindframe ini memiliki sisi presentasi yang pantas untuk diacungi jempol. Sebuah headset yang tidak akan malu untuk Anda bawa, kenakann, jadikan andalan selama sesi gaming Anda, privat ataupun publik.

Namun apa yang membuat headset ini istimewa dan menjadi fokus pembicaraan kami di awal artikel review kali ini? Tentu saja karena ia mengusung sebuah fitur yang terdengar seperti gimmick omong kosong dan berakhir menjadi fitur yang benar-benar bisa Anda andalkan. Omen menyebut teknologi ini sebagai “Frostcap Technology” dimana ear cup yang berdekatan dengan daun telinga Anda memiliki teknologi pendinginnya sendiri. Teorinya adalah memastikan fitur ini berakhir membuat telinga Anda terus dingin yang akan meminimalisir keringat. Pada akhirnya, membuat Anda bisa menggunakan dan menikmati kualitas suara Omen Mindframe untuk waktu yang panjang.

Selain busa yang nyaman, ada fitur keren di Omen Mindframe yang mungkin terdengar seperti omong kosong namun berakhir memiliki fungsi nyata.

FrostCap Technology ini sendiri menggunakan teknologi thermoelectric yang cara kerjanya memang berfokus pada perpindahan panas dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Di Omen Mindframe, ia akan mendinginkan bagian driver dimana suara akan keluar dan menyalurkan panas yang dihasilkan keluar dari headset menuju ke bagian sisi dimana LED strip yang kami bicarakan sebelumnya, berada. Fungsi pendinginan ini tidak ditujukan langsung untuk menyentuh daun telinga Anda dan menyentuhnya, yang notabene bisa meninggalkan rasa yang tidak nyaman. Tujuannya adlah mendinginkan udara yang terperangkap di sekitar telinga, dan karenanya, mendinginkan telinga Anda secara tidak langsung.

Kondisi pada saat fitur FrostCap dimatikan dan setelah digunakan untuk mendengarkan lagu.
Ketika FrostCap diaktifkan dan dinyalakan dengan fungsi paling maksimal.
Namun konsekuensinya? Panas yang seharusnya terkumpul kini dialihkan ke kedua sisi luar headset yang kini memang lebih panas.

Berita baiknya? Segila fitur ini terdengar, ia bukan sekedar gimmick. Fitur FrostCap ini baru akan aktif dan terasa begitu headset ini sudah mendapatkan pasokan suara, baik dari PC ataupun Playstation 4 setelah beberapa menit. Menggunakan kamera thermal – FLIR yang hasilnya kami sertakan di bawah ini, Anda bisa melihat perbedaan suhu yang signifikan. Ketika fitur FrostCap ini tidak aktif, Anda bisa melihat bahwa suhu yang mengitari earcup yang ada setara dengan bagian Omen Mindframe yang lain. Namun ketika fitur ini aktif, ia benar-benar dingin, dengan suhu yang tidak sulit menyentuh angka hingga 19 derajat Celcius – setidaknya 8 derajat lebih rendah dibandingkan suhu sekitar. Namun konsekuensinya, seperti yang kami bicarakan sebelumnya, panas menjadi lebih tinggi di sisi luar, yang kini bahkan hingga menyentuh angka 32 derajat.

Teknologi ini bekerja selayaknya apa yang dipromosikan HP Omen di halaman utama produk Mindframe. Bahwa teknologi Thermoelectric yang ia usung ini bekerja seperti seharusnya, menghasilkan sensasi dingin yang kuat di kedua sisi headset namun tidak sebegitu ekstrimnya hingga membuat telinga Anda tidak nyaman. Ia memastikan bahwa sesi gaming panjang dengan headset yang satu ini tidak akan berakhir dengan kondisi telinga yang panas dan penuh keringat. Namun mengingat ia butuh sumber daya untuk bisa aktif, maka rasional bagi Omen Mindframe untuk hanya menyediakan konektor USB di sini. Keputusan yang membuatnya tentu tidak akan bisa digunakan di kebanyakan perangkat mobile, terutama smartphone andalan Anda. Namun untuk konsol, setidaknya di Playstation 4, ia berfungsi sempurna bersama dengan fitur Frostcap yang ia usung.

Mic “bersih” dengan bentuk pipuh yang menyiratkan kesan futuristik.
Mengingat ia ditenagai USB, Omen Mindframe dan fungsi FrostCap-nya ini juga bisa digunakan di Playstation 4.

Salah satu bagian lain yang cukup mengejutkan kami darinya adalah proses penguncian suara yang harus diakui, juga lebih baik daripada headset gaming kebanyakan. Terlepas dari bahan busa yang ia usung, suara yang keluar kencang dari headset tidak serta-merta akan bocor keluar, bahkan di volume maksimal sekalipun. Untuk suara keras yang di headset gaming lain berakhir menjadi tak ubahnya sebuah speaker kecil, Omen Mindframe masih mampu mengunci suara yang sama dengan begitu baik. Karenanya, Anda yang senang mendengar musik dengan dentuman keras di volume maksimal bisa menggunakannya di ruang publik, tanpa takut dihardik, misalnya.

Anda juga bisa mengatur level dinginnya fitur FrostCap ini via perangkat lunak pendukung – Omen Command Center.

Bersama dengan desain nyaman dan fitur non-gimmick yang bekerja dengan baik ini, Omen Mindframe juga menyediakan dukungan perangkat lunak – Omen Command Center yang memungkinkan Anda untuk mengatur beberapa hal di dalamnya. Selain sisi kosmetik berupa ragam efek LED yang bisa Anda “mainkan”, termasuk kesempatan untuk membuatnya tersinkronisasi dengan efek suara yang keluar. Anda juga bisa mengaktifkan ataupun menonaktifkan fitur FrostCap via perangkat lunak ini bergantung pada preferensi kenyamanan Anda. Sisanya? Tentu saja ragam efek suara yang ingin Anda hasilkan.

Pages: 1 2
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 20, 2021 - 0

Review Outriders: Loot-Shooter Memuaskan!

Tidak mudah dikembangkan, jarang memuaskan, dan akan ikut tewas bersama…
April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…