JagatPlay di TGS 2019: Menjajal Final Fantasy VII Remake!

Reading time:
September 15, 2019
03 FFVIIR SS

Sebuah seri yang membekas di hati banyak gamer, tidak ada lagi kalimat yang lebih tepat untuk menjelaskan posisi Final Fantasy VII di industri game. Bersama dengan peralihan generasi dari era 16 bit ke 32 bit, yang juga diikuti dengan pergantian format dalam bentuk keping disc yang mampu menampung lebih banyak data, Final Fantasy VII menjadi game JRPG pertama yang menjadikan model tiga dimensi sebagai basis. Walaupun ia terlihat begitu kaku dan menyedihkan jika dibandingkan dengan apa yang bisa ditawarkan industri game saat ini, apa yang ditawarkan Square Enix (dulu, Squaresoft) adalah sesuatu yang revolusioner. Apalagi selain visual yang fantastis tersebut, Square Enix juga berhasil membangun cerita, karakter, dunia, hingga sistem gameplay yang masih pantas untuk dibicarakan hingga saat ini.

Status “istimewa” Final Fantasy VII ini jugalah yang membuat Square Enix enggan bersinggungan dengan kata-kata Remake untuk waktu yang sangat lama, terlepas dari permintaan fans yang cukup kuat di kala itu. Permintaan tersebut semakin menguat setelah ia juga sempat dijadikan sebagai demo kemampuan Playstation 3 hampir satu dekade yang lalu. Square Enix sepertinya mengerti bahwa berusaha membangun ulang Final Fantasy VII memang tak ubahnya sebuah buah simalakama. Jika mereka memutuskan untuk sekedar memperbaiki grafis, maka proyek tersebut bisa terasa usang, tidak menarik di mata gamer muda, dan kehilangan daya tarik yang seharusnya. Sementara jika mereka melangkah terlalu jauh, maka ia akan kehilangan fans tua-nya, memancing kritik, dan dibenci.

Di awal pengembangannya, Square Enix dibantu oleh CyberConnect2 untuk mengembangkan keseluruhan game yang ada, termasuk sistem pertarungan yang kini didefinisikan ulang sebagai game action RPG. Reaksi gamer, terutama para fans tua di kala itu, memang tidak bisa dibilang baik. Ada ketakutan bahwa lewat serangkaian proses modernisasi seperti ini,  Final Fantasy VII Remake justru berakhir menjadi game action RPG generik yang tidak lagi istimewa. Untungnya, ada kelegaan ketika mendengar berita soal pembatalan rencana tersebut. Square Enix memutuskan untuk mengembangkan game ini via studio internal mereka, dengan “dedengkot” seri originalnya – dari Yoshinori Kitase, Tetsuya Nomura, hingga Nobuo Uematsu kembali. Pengumuman yang juga diikuti rasa haru dan pekik kemenangan, terutama dari para fans “tua” seperti kami.

Puncaknya terjadi di E3 2019 kemarin. Setelah menyimpan begitu banyak informasi dan rahasia selama beberapa tahun terakhir, Square Enix akhirnya berbagi banyak detail terkait proyek ambisius yang satu ini. Pengenalan sistem adaptasi ATB ke dalam format yang lebih modern, pengenalan karakter Tifa untuk pertama kali dengan desain barunya, hingga konfirmasi beragam fitur lain yang tak kalah menggoda meluncur. Rasa pesimisme kini berubah menjadi antisipasi dan hype yang besar. Namun harus diakui, tetap ada kekhawatiran besar yang tampil tak bayangan besar yang sulit untuk dihindari, terutama dari sisi gameplay.

Untungnya, kami berkesempatan untuk menjadi salah satu gamer yang menjajal Final Fantasy VII Remake ini sebelum ia tersedia untuk pasaran di tahun 2020 mendatang. Misi yang kami jalankan mirip dengan potongan video gameplay di E3 2019, dimana Cloud dan Barret melakukan misi infiltrasi reaktor Mako di adegan pembuka. Misi ini seharusnya menjadi semacam misi tutorial bagaimana sistem Final Fantasy VII Remake nantinya bekerja. Berita baiknya? Semua keraguan kami secara instan, hilang.

Di Tangan yang Tepat

01 FFVIIR SS
Tak perlu banyak khawatir, menjajal singkat game ini saja sudah cukup meyakinkan kami bahwa Final Fantasy VII Remake berada di tangan yang tepat.

Salah satu ketakutan terbesar dari sebuah proses remake adalah menemukan bahwa pihak yang dipercaya untuk menanganinya berakhir tidak mengerti dan memahami mengapa seri originalnya begitu dicintai oleh para fans. Resiko seperti ini bisa menghasilkan sebuah game yang alih-alih “Remake” justru terasa seperti sebuah game berbeda yang ditujukan untuk pasar berbeda, yang bahkan bisa berujung menghasilkan pengalaman yang tidak lagi setara atau bahkan, jauh lebih buruk. Banyak fans Final Fantasy VII yang takut bahwa mimpi buruk ini juga akan terjadi dengan Final Fantasy VII Remake. Sebuah ketakutan yang untungnya, tidak beralasan.

Sejak mencicipi versi demo ini, tidak ada lagi kata yang lebih baik untuk menjelaskan pengalaman yang kami dapatkan selain menyebutnya “Berada di tangan yang tepat”. Tidak perlu lama untuk mengenali dan memahami bahwa terlepas dari visualisasi modern yang dibangun untuk platform generasi saat ini, ia masih ditangani, dikerjakan, dan diawasi oleh para penggagas ide originalnya, hingga ke level detail yang membuat Anda jatuh hati di masa lalu. Sisi presentasi saja sudah cukup untuk mendukung testimoni yang satu ini. Alih-alih terasa mengubah, ia justru terasa seperti sebuah kerja keras untuk sekedar menarik versi lawas yang ada ke dunia baru nan modern, dari visual hingga animasi serangan sekalipun.

Melihat game super lawas ini “lahir kembali” dalam format visual yang lebih baik tidak serta merta terasa asing dan canggung. Mungkin bukan hanya karena akurasi desain kostum dan musuh yang mengingatkan Anda pada model karakter poligon 21 tahun yang lalu saja, tetapi dari fakta bahwa Square Enix sebenarnya sudah “mengeksplorasi” ide ini lewat beragam seri Final Fantasy VII yang berbeda. Lewat Crisis Core, Advent Children, hingga Dierge of Cerberus yang terbentang lintas platform dan genre, kita sudah berhadapan dengan “modernisasi” karakter dan musuh yang ada jauh-jauh hari. Oleh karena itu, tidak sulit untuk membiasakan diri dan langsung terjun menikmati tajam, detail, dan indahnya dunia dan karakter Final Fantasy VII Remake di Playstation 4.

Salah satu elemen yang justru mengejutkan kami dan langsung otomatis meningkatkan level apresiasi datang dari musik. Menjadii salah satu bagiannya yang paling ikonik, musik di Final Fantasy VII Remake tetap terinspirasi dari versi originalnya, yang tetap digubah dengan mempertahankan nyawa musik originalnya yang begitu memorable.

Aransemen baru yang menambahkan elemen alat musik di sana-sini justru memperkaya dan membuat musik ini terasa lebih modern, tetapi tetap unik untuk bisa dikenali oleh para fans lawas yang akan jatuh hati sejak musik ini mengalun untuk pertama kalinya. Asyiknya lagi? Musik-musik ini juga masuk runtut mengikuti versi originalnya, mengikuti area dan pertarungan seperti yang Anda hadapi. Sayangnya, tidak ada lagi musik “Victory Fanfare” dengan gaya klasik setiap kali Anda menang. Namun seperti kebiasaan yang dilakukan Prompto di FInal Fantasy XV, setidaknya ia akan digantikan oleh senandung Victory Fanfare langsung dari mulut Barret. Namun sayangnya, dari sesi demo, senandung ini hanya terjadi sekali. Kami tidak bisa mengkonfirmasikan berapa sering frekuensi “Victory Fanfare” ini akan terpicu dan apakah hanya Baret yang akan melakukannya.

Satu hal yang butuh pembiasaan mungkin mengakar pada fitur Voice Acting yang kini, memang tidak lagi bisa terhindarkan dari game-game modern, termasuk FInal Fantasy VII Remake. Memainkan versi bahasa Inggris di demo yang kami jajal, kami menyambut dengan terbuka perubahan yang satu ini. Bahkan, kehadiran voice acting ini terhitung berhasil menumbuhkan “kepribadian” yang lebih terpancar daripada sekedar membaca teks seperti versi originalnya. Kita bisa menangkap betapa dingin kepribadian Cloud, bagaimana ia terkesan sarkastik pada misi lingkungan yang hendak digalakkan Baret, atau bagaimana Jessie terlihat simpatik pada “kerepotan” yang harus dilakuin Cloud, apalagi ketika ia berinteraksi dengan Baret yang sepertinya tak mengenal banyak kata kompromi. Voice acting mengamplifikasi sensasi drama dan kepribadian yang seharusnya,

Semua hal tersebut dibalut dengan rasa familiari yang masih terpancar kuat terlepas dari semua desain ulang yang ia tawarkan. Bahwa semua modernisasi ini masih menyisakan begitu banyak “memori” di sana-sini untuk Anda yang pernah memainkan versi originalnya, memberikan sedikit apresiasi ekstra soal bagaimana hati-hati dan rapinya Square Enix membangun pengalaman baru yang satu ini. Harus diakui, dengan visualisasi indah yang memanjakan mata seperti ini, lengkap dengan beragam pendekatan di sisii voice acting, musik, dan gameplay, ia juga siap menyambut gamer-gamer pendatang baru yang sekedar datang karena penasaran soal status Final Fantasy VII yang legendaris. Untuk saat ini, dengan penuh kelegaan dan rasa senang, kami menyebut game ini berada di tangan yang tepat.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…