JagatPlay di TGS 2019: Menjajal Marvel’s Avengers!

Reading time:
September 15, 2019
Marvel s Avengers Iron Man 600x338 1

Kesuksesan luar biasa di industri film yang hendak diikuti dengan langkah yang sama di industri game, kesan inilah yang muncul dengan beberapa strategi Marvel selama beberapa tahun terakhir ini. Kerjasama dengan beberapa developer dan publisher game AAA raksasa mengemuka, menghasilkan game dengan kualitas yang pantas untuk diacungi jempol. Lihat saja bagaimana Insomniac Games berhasil “membawa kembali” Marvel’s Spider-Man ke kancah persaingan superhero di dalam video game lewat kekuatan cerita, gameplay, dan identitas karakter yang memang setia dengan apa yang dikenal dari manusia yang laba-laba ini. Namun Marvel’s Spider-Man bukanlah proyek paling ambisius terkiat superhero Marvel.  Benar sekali, kita berbicara soal Marvel’s Avengers dari Crystal Dynamics dan Square Enix.

Diperkenalkan lewat sebuah teaser dramatis yang memperlihatkan ragam senjata ikonik anggota Avengers yang berserakan hancur, antisipasi terhadap proyek ini memang begitu kuat sejak awal ia mengemuka. Namun sayangnya, hype ini harus dibayar dengan kekecewaan. Crystal Dynamics dan Square Enix memutuskan untuk “diam” untuk waktu yang cukup lama, membangun rasa dahaga yang kuat untuk setidaknya, informasi. Oase tersebut akhirnya mereka tawarkan di E3 2019 kemarin lewat sebuah video gameplay perdana. Beberapa langsung jatuh hati namun tidak sedikit pula yang justru hadir dengan lebih banyak tanda tanya. Kontroversi terkait kualitas visual model karakter juga membanjiri sosial media di kala itu.

Sumber kebingungan muncul dari presentasi yang harus diakui, membingungkan. Bagaimana tidak? Terlepas dari fakta bahwa gameplay perdana memperlihatkan skenario game single-player linear menggunakan beberapa karakter Avengers, pembahasan justru difokuskan pada konten multiplayer yang tengah mereka kerjakan serta konfirmasi untuk penambahan beberapa karakter setelah rilis untuk mendukung konsep “Games as a Service” yang sepertinya tengah mereka kejar. Banyak gamer yang tentu penasaran dengan sisi gameplay yang di kala itu, tidak banyak dibahas.

Untungnya, lewat sebuah sesi demo eksklusif yang ditawarkan hanya bagi beberapa media saja yang berkunjung di TGS 2019, kami berkesempatan untuk menjajal apa yang sebenarnya hendak ditawarkan oleh Cyrstal Dynamics dan Square Enix di Marvel’s Avengers. Demo kami sendiri berkutat pada A-Day, skenario single-player yang diperlihatkan di E3 2019 yang lalu. Sesi demo yang bagi kami, akhirnya membuat proyek ini jadi jauh lebih terang-benderang.

Jadi, Apa itu Marvel’s Avengers?

Marvel s Avengers AIM 600x338 1
Setelah presentasi yang cukup membingungkan di E3 2019 kemarin, kami akhirnya mulai bisa memahami struktur Marvel’s Avengers.

Sebelum kita terjun lebih dalam untuk membahas sisi gameplay yang kami jajal langsung, ada baiknya kita terlebih dahulu “membersihkan” kebingungan soal apa itu Marvel’s Avengers. Kita tentu tidak bicara soal Cinematic Universe-nya, yang kini berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu franchise film tersukses yang pernah ada. Kita berbicara soal proyek Crystal Dynamics dan Square Enix yang akan membawa 5 karakter original Avengers – Hulk, Black Widow, Iron Man, Thor, dan Captain America dalam sebuah game action AAA yang linear. Masing-masing tentu akan hadir dengan animasi dan jenis serangan unik mereka, merepresentasikan sumber materi – komik dan film sebaik mungkin dalam garis cerita original racikan Crystal Dynamics.

Trailer gameplay “A-Day” yang Anda tonton di E3 2019 yang lalu dan kami jajal di sesi demo ini, diposisikan sebagai prolog singkat untuk memperkenalkan mekanik gameplay yang ada dan bagaimana masing-masing karakter ini akan dimainkan. Ada indikasi bahwa ini mungkin akan menjadi satu dari sedikit misi dimana ke-5 karakter ini akan berkumpul di satu ruangan yang sama untuk mode single-player yang ada. Karena setelah event A-Day dan proses time skip untuk menjelaskan konsekuensi buruk yang terjadi setelah terror yang tampaknya menewaskan Captain America, struktur misi single-player akan dibagi per karakter. Pertempurannya sendiri juga akan diarahkan melawan organisasi bernama AIM, yang tiba-tiba maju sebagai “penyelamat dunia” setelah vakumnya Avengers. Ada konspirasi dan misteri yang mesti Anda buka di sana.

Begini lah cara Marvel’s Avengers bekerja nanti. Struktur misi akan dibagi ke dalam dua kategori besar – HERO MISSION dan WARZONE MISSION. Hero Mission merupakan misi single-player dengan cerita yang lebih difokuskan pada 1 karakter saja. Seperti yang kami sebut sebelumnya, struktur misi campaign akan mulai bergerak untuk mendorong progress per individu alih-alih “Avengers” itu sendiri. Kondisi seperti ini membuat proses balancing menjadi lebih mudah mengingat Crystal Dynamics bisa meracik sebuah skenario misi yang cocok dengan sang superhero, yang masing-masing punya kemampuan dan kekuatan yang berbeda-beda. Berita buruknya? Anda yang bermimpi untuk melihat kelimanya bertarung bersama sesering mungkin, harus menelan pil kekecewaan.

Namun setidaknya, ia akan terobati di kategori misi lain bernama Warzone Mission yang seperti bisa diprediksi – merupakan misi-misi berbasis multiplayer kooperatif. Masing-masing dari misi ini juga akan memuat konten cerita penting yang akan menggerakkan progress cerita dengan beberapa di antaranya memang dibangun untuk berfokus pada kisah karakter spesifik yang mungkin akan mendominasi cut-scene lebih banyak. Jika Anda tidak punya koneksi internet yang memadai, Anda  tetap bisa memainkan mode ini secara solo. Crystal Dynamics memang belum banyak bicara soal proses matchmaking seperti apa yang akan mereka  tawarkan nanti, namun sudah dipastikan pula bahwa Anda harus memainkan superhero yang berbeda satu sama lain. Anda tidak diperkenankan untuk membangun tim yang berisikan 4 Hulk misalnya.

Crystal Dynamics juga akan memberikan kesempatan bagi gamer untuk mencicipi progress di setiap karakter lewat beberapa sistem di dalamnya. Ada sistem level yang akan memberikan Anda skill points untuk didistribusikan ke dalam pohon skill yang terbagi ke dalam beberapa kategori yang berbeda. Namun apalah artinya sebuah game “GaaS” tanpa sistem looting, sesuatu yang juga akan ditawarkan oleh Marvel’s Avengers ini.  Setiap hero akan mendapatkan item-item kosmetik yang diambil dari beragam versi komik dan film, yang tidak akan mempengaruhi gameplay sama sekali. Di sinilah, Crystal Dynamics dan Square Enix akan memainkan kartu microtransactions mereka – dimana Anda bisa membelinya dengan uang nyata.

Sementara di sisi lain, ada item bernama GEARS – yang akan mempengaruhi kemampuan hero spesifik dimana ia tersemat. Berbeda dengan item kosmetik yang bisa dibeli microtransactions, GEARS hanya bisa didapatkan di dalam in-game dan berpotensi tidak hanya memperkuat kemampuan setiap superhero saja tetapi juga mengubah pendekatan Anda untuk memainkannya. GEARS bisa didapatkan secara acak sebagai loot dari musuh yang Anda habisi atau sebagai reward dari menyelesaikan beragam misi yang ada. Maka seperti sistem looting pada umumnya, ia akan terbagi ke dalam beberapa kategori kelangkaan yang punya asosiasi dengan jumlah buff yang bisa Anda suntikkan untuknya. Satu yang menarik? Crystal Dynamics juga memastikan bahwa GEARS yang Anda dapatkan akan terikat pada karakter yang tengah Anda gunakan. Anda misalnya, tidak akan mendapatkan GEARS milik Black Widow ketika tengah menggunakan Thor.

Maka dengan konsep seperti ini,, maka jelas sepertinya apa yang hendak ditawarkan Crystal Dynamics dan Square Enix dengan Marvel’s Avengers ini. Satu yang menarik juga berangkat dari konfirmasi bagaimana Hero Mission dan Warzone MIssion itu sendiri akan berkaitan satu sama lain, dimana  menyelesaikan satu akan membuka lebih banyak misi yang lain. Bebearapa misi tantangan juga akan dihadirkan untuk Anda yang mengejar GEARS yang lebih kuat. Konfirmasi soal dukungan konten yang disuntikkan berkala juga mengemuka.

Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

May 23, 2022 - 0

Review Trek to Yomi: Estetika Sinema Masa Lampau!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Trek to Yomi ini? Mengapa…
May 11, 2022 - 0

Review Rogue Legacy 2: Banyak Anak, Banyak Masalah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Rogue Legacy 2 ini?…
April 21, 2022 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Jeremy Hinton (Xbox Asia)!

Menyambut rilis PC Game Pass untuk Indonesia, kami berkesempatan untuk…
April 18, 2022 - 0

Review Grammarian Ltd: Indo Versus Inggris!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Grammarian Ltd ini? Mengapa kami…

PlayStation

March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…
March 21, 2022 - 0

Review Elden Ring: Cincin Menuntut Nyawa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan Elden Ring? Lantas, mengapa kami menyebutnya…
March 4, 2022 - 0

Preview Elden Ring: Senyum Merekah di Balik Tangis Darah!

Elden Ring akhirnya tersedia di pasaran dengan beberapa formula baru…

Nintendo

April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…