Review Man of Medan: Kapal Hantu Kurang Hantu!

Reading time:
September 5, 2019

Supermassive Games, nama devleoper yang satu ini memang harus diakui memang punya asosiasi yang kuat dengan Playstation di masa lalu. Namun setelah Until Dawn yang memesona, mereka memutuskan untuk keluar dari identitas tersebut dan bekerja sama dengan Bandai Namco untuk melahirkan franchise baru yang tetap mengakar pada produk-produk andalan mereka saat ini. Kita berbicara soal game interactive story ala Quantic Dreams, namun dengan cita rasa horror yang lebih kental. Ia berkutat mewakili film-film thriller Hollywood yang seringkali berakhir dengan kisah kelompok remaja yang terjebak di situasi yang buruk, dimana opsi dan konsekuensi bisa berakhir dengan karakter yang meregang nyawa.

Namun Supermassive Games tentu tidak akan sekedar menawarkan hal yang sama dengan langkah dan kebijakan baru yang satu ini. Alih-alih hanya satu judul saja, mereka mempersiapkan apa yang disebut sebagai The Dark Pictures Anthology. Idenya adalah meracik game-game interactive story dalam skala kecil dalam beberapa judul terpisah, yang kesemuanya dibangun dengan engine (Unreal Engine 4) dan kualitas yang sama. Komitmen Supermassive Games dipertegas lewat konfirmasi setidaknya 8 buah game yang kesemuanya akan berbagi satu benang merah yang sama – “The Curator” yang berperan sebagai host. The Dark Pictures Anthology memang didesain seperti serial televisi lawas yang berfokus pada cerita horror dan bukan lagi film horror lepas.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Man of Medan? Mengapa kami menyebutnya sebagai kapal hantu kurang hantu? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda!

Plot

Medan di sini memang mengacu pada salah satu kota besar di Indonesia. Ia dibangun di atas mitologi kisah kapal dagang misterius Belanda – SS Ourang Medan.

Man of Medan alias Orang Medan jika di-Indonesiakan, memang harus diakui, merupakan nama yang punya asosiasi yang kuat dengan Indonesia. Medan di sini memang mengacu pada kota Medan, Sumatera Utara. Ia sebenarnya mengacu pada salah satu legenda masa lawas – SS Ourang Medan di tahun 1947 yang diceritakan, merupakan kapal dagang milik Belanda yang tenggelam di Selat Malaka. Seperti yang bisa diprediksi, ada misteri kuat yang mengitari hancurnya kapal dagang ini mengingat ia disebut-sebut juga memuat banyak mayat di atasnya saat ditemukan. Kesemuanya tewas secara misterius.

Supermassive Games membangun Man of Medan berdasarkan cerita misteri yang satu ini, namun dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih kapal dagang milik Belanda, SS Ourang Medan ini diceritakan merupakan salah satu kapal perang Amerika Serikat yang sempat mampir di Asia sebelum hendak kembali. Mereka memuat beberapa kargo misterius di dalamnya, termasuk beberapa peti yang dibungkus dengan bendera besar. Namun seperti yang bisa diprediksi, kapal ini tidak melayar lancar. Secara tiba-tiba, di suatu malam, tembakan senjata mesin terdengar dan mayat-mayat pun berakhir berserakan. Sebuah terror yang tidak bisa dijelaskan secara logis, sudah terjadi.

Namun ada sedikit perubahan. Di Man of Medan, SS Ourang Medan merupakan kapal perang Amerika Serikat.
Cerita horror ini dibangun dari sudut pandang 5 anak muda: Alex, Brad, Julia, Conrad, dan Fliss.

Bergerak ke masa depan, Anda masuk ke dalam hidup 4 anak muda dari Amerika – Alex, Brad, Julia, dan Conrad yang menyewa kapal seorang wanita bernama Fliss untuk aktivitas menyelam. Berdasarkan proses investigasi yang dilakukan Brad, keempatnya yakin bahwa di satu titik di dekat Laut Pasifik Selatan, terdapat sebuah rongsokan dasar laut yang belum pernah dijamah sama sekali. Ia berakhir menjadi sebuah pesawat yang tenggelam saat berusaha memenuhi panggilan darurat SS Ourang Medan. Atas dasar untuk bersenang-senang sekaligus mimpi untuk menemukan harta karun yang bisa membuat mereka kaya raya, mereka pun melanjutkan ekspedisi yang memang tak aman ini, apalagi di tengah kelompok perompak yang mengintai aktivitas mereka.

Disergap di tengah malam, di kala badai, ke-5 anak muda yang diposisikan sebagai karakter utama ini berakhir ditawan oleh perompak yang sempat menyamar menjadi nelayan. Hendak menarik uang lewat skema penculikan di awal, perompak-perompak ini justru menemukan informasi soal “The Gold of Manchuria” – harta karun yang dipercaya tersimpan di SS Ourang Medan. Tak ayal lagi, rencana pun berubah. Mereka kini berusaha mengejar dan mencari SS Ourang Medan itu sendiri untuk mendapatkan harta karun yang dipercaya, akan membuat mereka kaya raya secara instan. Sementara itu, ke-5 anak muda ini berujung menjadi tawanan.

Misteri seperti apa yang menunggu mereka di atas kapal hantu ini?

Lantas, terror seperti apa yang akan mereka temukan di atas SS Ourang Medan? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari kapal super menyeramkan sekaligus para perompak bengis yang menawan mereka? Anda tentu saja harus memainkan Man of Medan untuk bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…