10 Game Paling Mengecewakan di 2019!

Reading time:
December 17, 2019

Awal tahun, dan tidak ada lagi momen yang lebih tepat untuk melihat apa yang sudah kita lakukan selama setahun ke belakang, tentu saja – lebih pada kapasitas kita sebagai seorang gamer. Tahun 2019 adalah tahun yang cukup memanjakan bagi para gamer, apalagi dengan begitu franchise raksasa yang akhirnya menelurkan seri-seri teranyar mereka. Developer mulai memanfaatkan kemampuan konsol generasi terkini dengan optimal, dan developer indie secara konsisten mengeksplor  konsep gameplay yang terhitung menyegarkan. Walaupun demikian, tidak sedikit pula yang justru hadir membawa lebih banyak kekecewaan daripada rasa puas. Game-game yang berujung tidak mampu memenuhi apa yang mereka janjikan sejak awal.

Semakin besar harapan, semakin pula besar kekecewaan yang bisa timbul, konsep ini mungkin paling tepat untuk menjelaskan salah satu kata yang kian sering diucapkan di industri game saat ini, Over-Hype. Dengan trailer dan screenshot yang dikemas sedemikian rupa, apalagi klaim dan janji para developer yang terus bergaung selama beberapa bulan sebelum rilis, tidak mengherankan jika gamer mulai membangun ekspektasi tertentu terhadap game yang mereka incar. Namun sayangnya, kita sering lupa bahwa industri game tetaplah sebuah bisnis. Hype yang sudah terbangun manis, berujung pada angka pre-order yang manis. Namun sayangnya, tidak seperti dongeng dengan akhir cerita indah, gamer justru mendapatkan sesuatu yang bertolak belakang dari apa yang mereka harapkan. Kekecewaan menjadi respon yang tepat.

Tapi ingat, MENGECEWAKAN BUKAN BERARTI BURUK. Hampir sebagian besar game yang dimasukkan ke dalam list ini adalah game-game yang masih bisa dinikmati, bahkan menawarkan kekuatan visual, gameplay, dan terkadang – cerita yang solid. Mengecewakan di sini hanya mengakar pada ketidakmampuan game-game ini untuk hadir dalam kualitas yang sepadan dengan hype yang sudah terbangun selama ini. Game-game yang sudah membuat banyak gamer berharap dan bermimpi, namun berakhir melemparkan semua energi positif ke tanah dan menginjak-nginjaknya tanpa ampun.

Jadi, dari semua game yang dirilis di tahun 2019, game-game mana saja yang menurut JagatPlay paling mengecewakan? Berikut adalah list 10 game paling mengecewakan tahun ini:

  1. Kingdom Hearts 3

Penantian para fans untuk waktu yang sangat lama, dibayar dengan sebuah seri penutup saga Xehanort yang sayangnya, berujung tidak memuaskan. Kami sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan absennya karakter-karakter Final Fantasy di dalamnya yang memang terhitung cukup absurd atau dunia Disney barunya yang tidak menarik. Kelemahan dan sumber kekecewaan terbesar Kingdom Hearts 3 justru terletak pada caranya menangani cerita yang ada. Bahwa alih-alih mendistribusikan pertarungan tokoh antagonis yang memang punya porsi cerita penting selama belasan tahun eksistensi franchise ini, mereka justru mendorong kesemuanya di sesi akhir cerita dalam sebuah sekuens berturut-turut di satu lokasi yang sama. Ada cara penanganan yang seharusnya lebih baik dan elegan daripada pendekatan yang justru membuat akhir cerita Kingdom Hearts ini terasa terburu-buru untuk diselesaikan.

  1. The Division 2

Dari banyak segi, Ubisoft memang harus diakui berhasil membuat The Division 2 lebih baik daripada seri pertamanya yang di awal rilis, memang dipenuhi dengan banyak masalah. Ada beberapa hal yang dieksekusi lebih baik dari cerita yang lebih solid, sistem reward yang lebih mumpuni untuk mereka yang hanya memainkannya secara solo, serta sistem loot yang jauh lebih relevan dengan progress karakter Anda. Namun di sisi lain, sulit rasanya untuk kembali tertarik dengan sebuah konsep game action serupa yang tidak banyak menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda. Bahwa terlepas dari semua hal baru yang mereka tawarkan, The Division 2 terasa seperti sebuah expansion pack alih-alih sebuah seri teranyar yang pantas untuk dikejar. Ada alasannya mengapa kami kehilangan ketertarikan untuk melanjutkan artikel preview kami terkait game ini menjadi artikel review. Bahwa pada akhirnya, di luar semua peningkatan konten dan gameplay solo yang ia usung, The Division 2 tetap game yang butuh teman untuk bisa dinikmati secara maksimal.

  1. Crackdown 3

Penundaan biasanya punya asosiasi yang kuat dengan kualitas. Bahwa tidak jarang, game yang ditunda berkali-kali karena satu atau dua alasan, berakhir dengan video game yang memang pantas untuk diantisipasi di akhir. Bahwa semua ekstra waktu yang ditambahkan untuknya memang jelas digunakan untuk menyempurnakan segala sesuatunya. Namun di kasus Crackdown 3, penundaan ini justru mengindikasikan masalah dalam proses pengembangan. Dimulai dari dicabutnya efek kehancuran lingkungan yang sempat “dijual” jadi fitur utama saat trailer perdana mengemuka menjadi sesuatu yang hanya tersedia di mode multiplayer saja hingga minimnya informasi yang sempat dibagi selama periode waktu tertentu. Hasilnya adalah sebuah game action yang walaupun secara visual menggoda, namun mengusung sistem gameplay dan aksi yang sudah tertinggal selama beberapa generasi.

  1. WWE 2K20

Apa yang Anda dapatkan ketika “sang ahli” yang sudah menangani sebuah genre secara spesifik selama setidaknya 20 tahun terakhir berakhir hengkang dan lebih tertarik untuk mengembangkan sebuah seri kompetitor? Yang Anda dapatkan adalah apa yang terjadi dengan WWE 2K20. Bahwa setelah beberapa seri yang memesona, ia justru hadir bak sebuah lelucon. Bukan saja kualitas visual dan detail animasi gerak serta physics yang mengikuti beragam elemen-nya saja yang kacau, tetapi juga sensasi gameplay yang berujung tidak memuaskan. WWE 2K20 seolah menjadi sebuah seri yang membuat franchise populer ini kembali ke titik nol dan untuk kesekian kalinya, butuh pembuktian ekstra untuk kembali menarik perhatian gamer di masa depan.

Tags:

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…