Preview Dragon Ball Z – Kakarot: Eksekusi Kurang Matang!

Reading time:
January 17, 2020
Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 69

Puluhan tahun eksis, cerita yang sudah rampung, popularitas yang masih tak terbendung, dan tetap istimewa untuk para gamer yang masa kecilnya diisi olehnya, menyebut Dragon Ball karangan Akira Toriyama sebagai salah satu franchise anime / manga paling legendaris memang tidak berlebihan. Ia juga menjadi salah satu proyek adaptasi tertua di industri game, dengan game perdana yang bahkan sudah tersedia di era NES masa lampau. Siapa yang mengira, bahwa pergantian beberapa generasi platform ternyata tidak menjadi paku peti mati untuk eksistensi Dragon Ball di industri game. Ia terus tumbuh, berkembang, dan beradaptasi menjadi sesuatu yang lebih baru, lebih baik, lebih “berbeda”. Seperti yang berusaha didorong Bandai Namco dengan Dragon Ball Z: Kakarot.

Kesan Pertama

Menghadirkan pendekatan visual cell-shading untuk menangkap cita rasa anime yang seharusnya, Dragon Ball Z: Kakarot memang terlihat seperti yang Anda harapkan. Dengan konsep dunia open-world yang ia tawarkan dengan sistem bagi per region yang sayangnya masih diliputi dengan begitu banyak loading screen, ia menawarkan kesempatan untuk menyelami dunia Dragon Ball yang selama ini sekedar Anda lihat di layar kaca. Anda bisa mengeksplorasi dunianya dengan bebas, melewati kota, pegunungan, hingga daerah bersalju dimana Dr. Gero sempat menyembunyikan Android super menyeramkan miliknya. Dengan suara efek ikonik yang juga disertakan, ia menawarkan pengalaman yang begitu familiar untuk para penggemar Dragon Ball. Sayangnya, animasi gerak terutama di saat cut-scene harus diakui tidak sebaik dan semulus yang berhasil dicapai Arc System Works dengan Dragon Ball: FighterZ beberapa waktu lalu.

Lantas, jika sisi presentasinya terhitung memukau, mengapa kami mengambil sub-judul di atas? Karena seperti yang kami tulis, Dragon Ball Z: Kakarot memang terasa seperti sebuah game action RPG yang kurang matang. Ada begitu banyak hal yang bisa dikeluhkan dari pengalaman yang Anda dapatkan. Dari yang begitu fatal seperti konsep open-world yang tidak menawarkan banyak alasan dan konten untuk berlama-lama menjelajahinya, loading screen yang menyebalkan, hingga masalah UI seperti keharusan untuk melewati serangkaian menu hanya untuk mengganti karakter utama yang tengah Anda gunakan saat bertemu dengan misi sampingan yang menuntutnya. Kombinasi-kombinasi ini membuat Dragon Ball Z: Kakarot terasa seperti proyek yang walaupun punya konsep menarik, namun berujung tak istimewa karena eksekusi yang kurang solid.

Sumber kekecewaan kami juga datang dari sisi konten. Tidak ada rasa keberatan untuk menjelajahi dan menyelami kembali cerita Dragon Ball Z yang harus diakui, sudah berpuluh-puluh kali diulang dalam proses adaptasinya ke dalam video game. Menjelajahi kembali cerita petualangan Goku dkk tetap menghasilkan rasa nostalgia yang seharusnya, apalagi ditambah dengan beberapa tambahan scene keren yang menambahkan ekstra detail di dalamnya, seperti hubungan ayah-anak Goku dan Gohan.

Namun sayangnya, Dragon Ball Z: Kakarot tidak berakhir menjadi seri Dragon Ball definitif yang selama ini kami cari. Mengapa? Karena terkesan “bermain aman”, beberapa scene ikonik yang seharusnya bisa diadaptasikan manis berkat mekanik dan genre yang mereka usung justru berakhir dilewatkan begitu saja. Hasilnya? Mereka tetap berkutat pada scene-scene dan pertarungan ikonik yang sudah ditawarkan seri-seri Dragon Ball yang lain. Sangat disayangkan bahwa potensi ini terlewatkan padahal kami bisa membayangkan serunya game ini jika ia mengusung scene perjalanan Goku melewati jalan naga saat ia tewas pertama kali atau ketika Trunks bertarung dengan tubuh super kekar saat melawan Cell. Tidak ada usaha Dragon Ball Z: Kakarot untuk tampil berbeda dari pilihan scene.

Untungnya, Dragon Ball Z: Kakarot setidaknya memuat sistem pertarungan yang cukup seru untuk dinikmati. Pertarungan super cepat khas Dragon Ball dengan serangan bola-bola sinar diterjemahkan dalam format yang cepat dan intens, dengan sedikit mengesampingkan efek dramatisasi yang kini lebih didorong di cut-scene pasif yang Anda nikmati. Sistem RPG-nya sendiri juga terhitung unik dengan sistem kategorisasi skill berbasis level kedekatan NPC yang berhasil Anda “rekrut” (akan kami jelaskan di review nanti) dan bukannya sistem equipment pada umumnya. Ada sedikit level strategi dan kebutuhan untuk membaca gerak dan strategi musuh, terutama saat pertarungan boss, agar Anda tidak kelabakan. Sayangnya, ia sedikit tercederai dengan angka-angka, dari HP hingga damage yang terasa “membengkak”. Bayangkan, HP hingga 9 juta dan damage pukulan hingga 15 ribu di karakter level 50? Ini adalah desain yang dipertanyakan.

Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review, apalagi kami baru menyelesaikan saga Cell di waktu permainan sekitar 18 jam, izinkan kami melemparkan segudang screenshot fresh from oven di bawah ini untuk membantu Anda mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa itu Dragon Ball Z: Kakarot. KA..ME..HA..ME….HAAAAAAAAAA!!

RAW Screenshot

(4K dengan Playstation 4 PRO)

Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 22 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 16 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 19 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 42 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 70 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 77 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 107 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 127 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 141 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 144 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 162 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 197 Dragon Ball Z Kakarot part 1 jagatplay 241
Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…