Review ROG Theta 7.1: Si Garang yang “Lembut”!

Reading time:
February 6, 2020

Mulai menjadikan audio sebagai bagian penting yang harus diperhatikan saat menikmati sebuah video game, perangkat audio gaming saat ini juga terbagi ke dalam banyak segmen. Tidak terhindarkan, setiap dari mereka akan datang dengan klaim sebagai peripheral yang tidak hanya nyaman, tetapi juga berkontribusi untuk meningkatkan performa Anda saat gaming, terutama ketika berbicara soal game-game kompetitif. Jargon soal detail diteriakkan, termasuk soal konsep surround yang biasanya berujung ditawarkan dalam format virtual yang didukung oleh perangkat lunak. Dikombinasikan dengan LEG RGB sebagai kosmetik, hampir kesemua headset gaming di segmen ini bergerak ke arah yang sama. Namun tidak jarang Anda menemukan sesuatu yang istimewa, seperti yang berusaha ditawarkan ROG dengan ROG Theta 7.1 ini.

Desain dan Fitur

Di atas permukaan, ROG Theta 7.1 memang tidak terlihat menawarkan desain yang istimewa.

Dengan desain dan cita rasa sebuah headset gaming yang kentara sejak Anda melihatnya untuk pertama kali, ROG Theta 7.1 memang hadir dengan desain maskulin. Berukuran besar, terlihat mumpuni untuk menutupi telinga Anda secara menyeluruh terlepas dari ukuran kepala yang ada, lengkap dengan sisi kosmetik khas ROG dengan logo yang bersinar terang di kedua sisi dengan teknologi RGB yang ia usung, ROG Theta 7.1 memang terlihat “standar” untuk ukuran desain sebuah headset gaming. Keistimewaannya baru menyeruak ketika Anda menyelaminya lebih dalam.

Pertama, dari paket penjualan saja misalnya. Anda akan mendapatkan dua jenis varian penopang telinga berbahan kulit dan kain yang super nyaman untuk digunakan dalam sesi gaming atau produktif yang lama. Tetap mengisolasi suara dengan cukup baik, bahan ini membuat sirkulasi udara tetap terasa di daun telinga hingga ia tidak mudah berkeringat. Tentu saja konsekuensi negatifnya? Dengan sifat suara headset yang juga “open”, ini berarti musik, film atau video game apapun yang mengalun akan tetap bocor keluar ketika berada di tingkat volume tertentu. Anda tentu harus sedikit “berhati-hati” dengan fakta ini, atau setidaknya menjadikannya sebagai bahan pertimbangan saat menggunakannya di lokasi umum.

Terlepas dari kenyamanan yang ia tawarkan, Anda juga harus mawas dengan “bocornya” suara yang bisa terjadi di volume tertentu.
Basis-nya memang USB-C, namun tenang, paket penjualannya juga menyediakan konverter USB 2.0.

Kedua, ia juga menyertakan kabel konverter USB-C to USB 2.0. Benar sekali, ROG Theta 7.1 ini memang mengusung USB-C sebagai basis. Walaupun port USB-C kini menjadi standar untuk banyak smartphone misalnya dan membuatnya bisa digunakan secara optimal lengkap dengan sisi estetika RGB-nya selama ia didukung, port ini memang masih terhitung “baru”. Beberapa perangkat gaming seperti Playstation 4 dan Xbox One, atau smartphone yang berusia lebih tua masih menggunakan USB 2.0. Konverter ini akan langsung menyelesaikan masalah yang terhitung dilematis yang satu ini. Anda tinggal menghubungkannya dan membuat Theta kini lebih adaptif untuk semua platform gaming yang Anda miliki.

Dengan nama “7.1” yang ia usung, Theta tentu punya pekerjaan berat untuk membuktikan diri. Apalagi tidak sedikit headset gaming saat ini menyuarakan jargon yang sama di paket penjualan, namun berujung menawarkan 7.1 dalam format virtual surround. Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, “Virtual Surround” biasanya mengindikasikan simulasi 7.1 menggunakan perangkat lunak. Ini berarti sang headset tidak menyediakan desain atau perangkat keras yang seharusnya untuk menawarkan pengalaman 7.1 yang sebenarnya, melainkan berusaha mereka ulang sekadar sensasi yang mirip. Tentu saja, seperti semua hal di dunia ini, sebuah “simulasi” tentu tak mudah untuk menandingi sesuatu yang asli. Di sinilah, Theta 7.1 bersinar.

Dengan 4 driver di masing-masing sisi, ini adalah 7.1 surround yang sesungguhnya.
Modifikasi yang Anda lakukan dengan ROG Armoury II akan “meninggalkan” rasa suara yang berbeda.

Bahwa alih-alih Virtual Surround, ROG Theta 7.1 menawarkan sensasi audio 7.1 yang seharusnya. Ia menyematkan 4 buah driver di masing-masing sisi untuk memastikan sensasi yang maksimal. Tidak hanya kualitas audio penuh detail saja, tetapi juga staging yang manis untuk beragam aktivitas multimedia yang Anda nikmati. Bagian terbaiknya? Desain 7.1 seperti ini juga otomatis membuat dukungan perangkat lunak via ROG Armoury II yang memungkinkan Anda mengaktifkan beragam efek terpisah seperti Bass Boost atau sekedar mengatur Equalizer dengan ragam pre-set yang tersedia kini menghasilkan beda suara yang signifikan. Alasannya? Karena pada dasarnya audio yang ia hadirkan memang detail, maka setiap perubahan yang Anda hadirkan akan mudah dikenali dan dibedakan.

Sementara untuk memastikan aksi gaming yang lebih mumpuni, Anda juga didukung mic yang siap menawarkan kejernihan, baik sekedar komunikasi ataupun saat sesi live-streaming. ROG menyebutnya sebagai “AI-Powered Noise Cancelling”, yang di luar jargon super panjangnya, memang harus diakui bekerja dengan sangat baik.

Kami masih bingung untuk apa switch “PC – Phone” ini.
Sulit untuk menghapus “rasa haus” untuk ekstra 10-15% volume suara di batas maksimal.

Walaupun demikian, bukan berarti ROG Theta tidak datang dengan keluhan tersendiri. Satu keluhan kami yang paling objektif mungkin terletak pada switch di sisi headset yang memberikan opsi “PC / Phone” yang bisa Anda gonta-ganti secara instan. Sebegitu tidak signifikannya switch ini, hingga kami sendiri tidak tahu apa yang ia tawarkan pada saat review ini ditulis. Keluhan kedua yang lebih mengarah ke preferensi? Tingkat volume tertinggi yang bisa ia usung. Untuk semua jenis lagu dan film yang kami jajal, selalu ada sensasi bahwa ROG Theta ini seharusnya menawarkan ekstra volume lebih tinggi 10-15% dari apa yang bisa ia capai saat ini. Kondisi seperti ini mungkin akan mengorbankan sisi detail, namun untuk beberapa musik, kami merasanya cukup pantas. Untuk saat ini, volume maksimal yang ia usung terasa kurang memuaskan.

Lantas, bagaimana dengan spesifikasinya sendiri? ROG Theta 7.1 menawarkan:

  • Connector: USB, USB-C
  • Driver Diameter: Front 40mm, Center 30mm, Side 30mm, Rear 40mm
  • Driver Material: Neodymium Magnet
  • Microphone: Uni-directional
  • Impedance: 32 Ohm
  • Frequency Response: 20-40.000Hz
  • Microphone Noise Cancellation: AI Noise Cancellation
  • Microphone Boom: Uni-directional
  • Microphone Sensitivity: -40 dB +/- 3 dB
  • Cable: USB-C 1,2m  USB 2.0 1m
Pages: 1 2
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…
November 13, 2020 - 0

Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Kontroversial, memancing cemooh di awal rilis, namun tetap berakhir sukses…
November 10, 2020 - 0

Preview Assassin’s Creed Valhalla: Dalam Lindungan Odin!

“Ini bukan lagi seri Assassin’s Creed”, pergeseran genre dengan cita…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…