Review DREAMS: Mimpi Bisa Jadi Nyata!

Reading time:
February 14, 2020
Dreams Final Version jagatplay 1

Apa yang membuat “mimpi” selalu menjadi bagian paling manis dari hidup seorang manusia? Fakta bahwa ia tidak diikat dan dibatasi oleh hukum dan masalah-masalah di dunia nyata sepertinya adalah salah satu daya tarik utama. Bahwa mimpi adalah sesuatu yang dibangun dengan menggunakan leburan antara imajinasi dan harapan, dengan kebebasan untuk membubuhkan kerja keras atau tidak. Dengan belum ada alat “pemerhati” mimpi yang mungkin Anda temukan di film-film Doreamon, tidak ada pula yang bisa menghakimi dan menilai seberapa baik atau buruk mimpi Anda selama Anda tidak mengutarakannya. Satu hal yang paling fantastis dari mimpi yang di satu sisi juga rasional? Sebuah kepuasan fantastis jika dengan satu atau dua cara, Anda berhasil memenuhinya.

Menciptakan sebuah game yang datang dengan hanya nama “DREAMS” alias “mimpi” tentu bukan pekerjaan yang mudah, apalagi jika sang developer juga terus mendengungkan bagaimana ia seperti namanya, akan memungkinkan gamer untuk meracik apapun dengannya. Namun proyek ambisius inilah yang sudah dikembangkan oleh Media Molecule selama bertahun-tahun dengan rilis yang akhirnya terjadi hari ini! Untuk memastikan konten yang lebih kaya dan lengkap, mereka bahkan sudah melepas versi Early Access sejak Mei 2019 yang lalu. Sebuah keputusan yang pantas disambut baik atas nama untuk memastikan jumlah konten yang masif saat rilis final sekaligus memberikan ruang bagi para “developer” untuk mengasah kemampuan mereka.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh DREAMS? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang mampu menjadikan mimpi sebagai kenyataan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda!

10 Bulan Kemudian..

Dreams Final Version jagatplay 7
Mengingat kami sudah sempat menuliskan impresi di Early Access yang masih menggambarkan “game” ini dengan sama tepatnya, kami akan lebih berfokus soal apa yang terjadi selama 10 bulan terakhir sejak Early Access hingga versi final!

Sebelum Anda bingung dengan sub-judul yang kami pilih di atas, kami termasuk gamer yang cukup beruntung untuk sudah menjajal DREAMS sejak era Early Access di tahun 2019 yang lalu. Kami bahkan sudah menelurkan artikel impresi selengkap yang kami bisa untuk menjelaskan pengalaman besar seperti apa yang kami dapatkan, yang tentu saja, tidak akan kami ulangi banyak di artikel review kali ini. Kami akan berfokus untuk membicarakan ekosistem dan hal-hal apa saja yang menarik untuk dibicarakan dari DREAMS selama 10 bulan terakhir ini, dari sebuah game Early Access menjadi sebuah game rilis penuh.

Untuk membantu Anda mengingat, apalagi jika Anda termasuk gamer yang tidak terlalu familiar, DREAMS bukanlah sekedar “video game”. Ia lebih pantas disebut sebagai “game development program” dimana ia berisikan seperangkat Tools super keren yang memungkinkan Anda untuk melakukan nyaris semua hal dengannya. Anda bisa membangun musik, membangun karakter, meracik dunia, membangun logic yang dihadirkan dalam bentuk nodes-nodes, hingga membangun cut-scene sinematik Anda sendiri.

Dreams Final Version jagatplay 8
Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, DREAMS lebih cocok disebut sebagai “Tools” daripada video game.
Dreams Final Version jagatplay 97
Dengan menggunakan sistem Nodes yang terikat satu sama lain, ia memungkinkan gamer tanpa skill coding untuk meracik game mereka sendiri selama ada kemauan dan kerja keras.

Yang dilakukan DREAMS adalah memberikan ruang bagi mereka-mereka yang punya banyak ide kreatif, selalu tertarik membangun produk kreatif mereka, namun tidak memiliki skill yang cukup untuk memahami proses coding yang kompleks. DREAMS menyediakan semua tools yang dibutuhkan, yang bisa dikendalikan dengan DualShock 4 Anda, dengan sebuah komunitas yang aktif dimana Anda juga bisa berperan dan berkontribusi untuk sebuah proyek bersama. Semua hal yang ia tawarkan ini membuat DREAMS melewati dan menembus identitas sebagai sekadar sebuah video game saja.

Dreams Final Version jagatplay 14
Selama 10 bulan terakhir, beberapa game “rampung” mengemuka dan terlihat dan terasa keren. Seperti Ruckus – sang “Godzilla”.
Dreams Final Version jagatplay 107
Beberapa bahkan hadir dengan beragam tingkat level dan terasa seperti game penuh.

10 bulan kemudian, kami dengan sangat gembira bisa melaporkan bahwa DREAMS tampil semakin memesona. Bahwa dalam rentan waktu yang terhitung “singkat” ini, ada begitu banyak proyek kolaborasi dalam komunitas yang berhasil melahirkan tidak hanya sekedar prototipe saja, tetapi game yang bisa dimainkan dengan penuh. Kerennya lagi? Beberapa di antara mereka memang seru. Salah satunya – Ruckus bahkan meminta Anda menjadi seekor monster raksasa original bak Godzilla yang datang dengan satu tujuan – menghancurkan kota metropolitan di depan mata dengan ukuran, gerakan, dan tentu saja sinar laser yang bisa ia tembakkan. Ada juga proyek game racing fun ala Mario Kart dan CTR yang walaupun tidak mengusung banyak variasi track dan senjata, namun membangun basis untuk sensasi balap yang memesona. Sementara tidak sedikit pula proyek-proyek showcase berbasis engine DREAMS yang berhasil menghasilkan objek dan animasi penuh detail yang siap untuk mengundang 4 jempol yang Anda miliki.

Satu yang cukup unik adalah masalah lisensi. Seperti yang kita tahu, mengingat DREAMS mengakar pada user-generated-content, Media Molecule mau tidak mau tentu harus secara konsisten mengatur, mengawasi, dan mengorganisasi konten yang diracik komunitas untuk memastikan tidak ada satupun dari mereka yang melanggar aturan (baca: PORNOGRAFI). Untuk urusan ini, mereka sejauh ini melakukan tugas yang begitu fantastis. Pertanyaan besar selanjutnya dari masa Early Access tentu saja berfokus pada masalah lisensi, mengingat ada begitu banyak user DREAMS yang berupaya untuk meracik ulang game-game dari publisher lain yang tentu saja memegang hak atas mereka. Anda sempat menemukan proyek racik ulang P.T. yang notabene berada di bawah bendera Konami, Sonic di bawah SEGA, hingga Tomb Raider di bawah Square Enix. Secara menakjubkan, lisensi ternyata bukan masalah.

Dreams Final Version jagatplay 125
Konten-konten berlisensi sejak 10 bulan lalu ternyata masih bertahan. DREAMS juga sama sekali tidak diserang kontroversi soal masalah lisensi selama kurun waktu tersebut hingga rilis final saat review ini ditulis. Sebuah kondisi yang menarik.
Dreams Final Version jagatplay 99
Hal sama juga terjadi di musik yang bisa Anda aplikasikan.

Fakta bahwa 10 bulan setelah artikel kami terakhir terkait DREAMS, dari masa Early Access hingga versi final di review kali ini, hampir semua game yang kami sebut di atas ternyata masih bertahan dan tersedia di versi final. Bahwa semua proyek yang notabene adalah proses racik ulang yang “menyalin” atau “terinspirasi” dari game-game milik publisher lain ini berhasil bertahan, masih bisa dimainkan, dan sejauh ini tidak memicu reaksi perseteruan besar dengan sang pemilik franchise di akun sosial media dan sejenisnya tentu saja pemandangan yang melegakan. Ini berarti banyak pemilik franchise tidak melihat DREAMS sebagai sesuatu yang “mengancam”. Hal ini tidak hanya terjadi pada jenis game saja, tetapi juga musik yang bisa Anda aplikasikan di dalamnya. OST berlisensi dari Megalovania hingga Stranger Things tetap bisa Anda temukan di DREAMS.

Namun sekali lagi, setidaknya impresi inilah yang kami dapatkan dari artikel review yang dilepas hanya dalam kurun waktu beberapa hari setelah jadwal rilis resminya. Mengingat lisensi biasanya adalah subjek diskusi yang bisa saja baru mengemuka setelah proyek eksis untuk waktu yang sangat lama, yang bisa diikuti dengan ragam penyempurnaan hingga ia terasa, terlihat, dan terdengar seperti game originalnya, masalah lisensi di dalam DREAMS ini sangat rentan berubah di masa depan. Tetapi sejauh mata memandang, kesemuanya ini masih terasa seperti game racikan fans dalam kapasitas yang super terbatas.

Dreams Final Version jagatplay 85
Tutorial kini diracik ulang untuk menawarkan pengalaman yang lebih menyenangkan.
Dreams Final Version jagatplay 95
Media Molecule juga menghadirkan beberapa template untuk ragam genre.

Dalam 10 bulan terakhir ini, Media Molecule juga jelas berusaha membenahi DREAMS, setidaknya untuk membuatnya tampil lebih bersahabat di tengah kompleksitas yang ia usung. Upaya untuk menarik lebih banyak gamer agar melahirkan lebih banyak pencipta daripada penikmat muncul dari pembenahan tutorial yang kini jauh lebih bisa dinikmati dan dimengerti dibandingkan versi Early Access. Tutorial kini muncul dalam bentuk desain“misi dan instruksi yang lebih jelas untuk diikuti. Kategorisasi soal tema yang bisa Anda pelajari kini juga lebih rapi. Kerennya lagi? Media Molecule kini juga menyuntikkan beberapa “Template” game yang bisa langsung dimodifikasi oleh user. Template-template ini sudah mengusung basis mekanik dan logic yang dibutuhkan sesuai genre, hanya tinggal digonta-ganti elemen lainnya saja dari hal kecil seperti karakter dan dunia, hingga simulasi sensasi senjata yang disesuaikan dengan apa yang hendak dikejar user.

Walupun fitur VR yang sempat dijanjikan Media Molecule masih belum tiba di hari rilis ini, namun mereka akhirnya memenuhi janji untuk menyuntkkan mode single-player bernama “Art’s Dream” yang berusaha menghadirkan sebuah cerita personal yang menyentuh. Namun di dasar, Art’s Dream adalah sebuah showcase mumpuni yang ditawarkan Media Molecule untuk memperlihatkan hal seperti apa yang bisa dicapai DREAMS dalam kapasitasnya yang optimal.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 27, 2021 - 0

Review House of Ashes: Selangkah Lebih Baik!

Ambisius adalah kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang tengah…
October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…