Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Reading time:
November 13, 2020

London Masa Depan

Watch Dogs Legion jagatplay part 1 61
Selamat datang di London masa depan!

Selamat datang di London masa depan yang akan jadi “taman bermain” Anda di Watch Dogs Legion. Walaupun tidak memberikan tanggalan pasti soal setting yang ia usung, Anda akan bertemu dengan proyeksi konsep futuristik yang masih mengakar pada kondisi dunia nyata saat ini. Anda misalnya, tidak akan bertemu dengan mobil terbang di sini. Representasi konsep futuristik-nya datang dari membanjirnya jumlah drone yang mondar-mandir di atas kota, mobil tanpa awak yang dengan mudah Anda temui di jalan, serta implementasi bak teknologi AR untuk busana misalnya. Ini masih konsep futuristik yang bisa Anda terima dengan akal sehat.

Maka darinya, Anda tidak akan menemukan desain karakter atau penduduk kota “segila” dunia Cyberpunk misalnya. Tidak ada augmentasi tubuh, busana yang tidak lagi bisa dirasionalisasi, dan sejenisnya. Anda masih bertemu dengan sebuah game open-world yang merefleksikan kota London di dunia nyata. Sedikit perbedaan mungkin datang dari kondisi sosial masyarakat yang beberapa di antaranya, berujung menolak eksistensi Albion dan tetap mendukung DedSec. Anda bisa melihat aksi protes di sana-sini, coretan dinding yang mewakili sikap-sikap tersebut, hingga sedikit pertentangan antara warga biasa dan pasukan bersenjata milik Albion. Beberapa karakter NPC yang Anda temui, juga biasanya akan berdandan sesuai dengan sifat dan pekerjaan mereka.

Watch Dogs Legion part 2 jagatplay 17
London “futuristik” yang ia usung masih mengakar pada probabilitas ia terjadi di dunia nyata. Yang berbeda hanyalah jumlah drone yang kini terbang aktif di jalan-jalan kota untuk beragam fungsi.
Watch Dogs Legion jagatplay part 1 90
Tentu saja, Anda akan menemukan poster dan propaganda Albion di beragam sudut.

Kami sendiri memang belum pernah mengunjungi kota London dan melihat kota besar Inggris ini secara langsung. Namun sepertinya tidak sulit untuk mengapresiasi bahwa setidaknya, mereka memastikan beragam detail dan lokasi beragam landmark penting di kota ini diwakili dengan baik. Anda ingin mengunjungi Buckingham Palace? Anda bisa melakukannya. Melihat Big Ben dari kejauhan? Tentu saja. Tentu saja ada beragam modifikasi yang dilakukan untuk memperlihatkan status kekuasaan Albion dan teknologi yang sudah jauh lebih berkembang, seperti titik-titik jalan yang kini punya penghalang yang bisa diaktifkan hingga markas-markas kecil Albion yang menguasai beberapa titik di dalam kota. Seperti yang bisa diprediksi, tidak kesemua bangunan yang Anda temui akan bisa dimasuki.

Sementara dari sisi audio, ia menjalankan tugasnya dengan baik. Terlepas dari fakta bahwa sebagian besar karakter NPC yang Anda bisa rekrut memiliki suara yang dihasilkan dari sistem procedural generation dengan memanfaatkan ragam pitch untuk menghasilkan hasil akhir yang unik, ia tetap terasa cocok dan menyatu dengan karakter yang Anda temui ini. Ubisoft sepertinya juga menerapkannya ke dalam bentuk fisik sang karakter, seperti warna kulit misalnya, dimana Anda lebih sering menemukan aksen non-British yang lebih kental untuk karakter dengan warna kulit berbeda. Keunikan lain datang dari beragam suara efek untuk senjata api non-lethal yang Anda temui, yang tentu saja, tidak akan Anda temui di dunia nyata. Dari sisi musik? Di semua daftar lagu yang bisa Anda akses saat berkendara, kami justru lebih mengapresiasi channel lagu klasik yang ia usung daripada lagu modern yang lain, termasuk channel musik metal yang tersedia sekalipun.

Watch Dogs Legion jagatplay part 1 44
Walaupun berbasis procedural generation, intonasi dan akses suara karakter masih terasa natural.

Maka dari sisi presentasi, Watch Dogs Legion berhasil tampil menarik, terutama lewat detail kota London yang walaupun mengusung setting futuristik, tetap mewakili sebuah konsep masa depan yang masih rasional dan mengakar pada dunia nyata. Anda akan bertemu dengan hampir semua landmark yang Anda harapkan di sini.

Cerita Lemah Sebagai Konsekuensi Inovasi

Watch Dogs Legion part 2 jagatplay 25
Sulit untuk peduli pada apa yang terjadi di Watch Dogs: Legion sebagai konsekuensi dari inovasi yang hendak ia suntikkan.

Jika Anda mengikuti berita terkait Watch Dogs Legion selama ini, maka Anda tentu mengetahui bagaimana Ubisoft sejak awal sudah menggembar-gemborkan bagaimana seri ini akan datang dengan inovasi yang terhitung ambisius. Tidak seperti Watch Dogs pertama yang menjadikan sosok Aiden Pearce sebagai protagonis utama dan Watch Dogs 2 yang memosisikan Marcus untuk mengisi peran tersebut, Watch Dogs Legion akan memungkinkan Anda untuk merekrut karakter NPC manapun yang Anda temui dan kemudian memerankan mereka sebagai karakter playable. Anda tentu bingung, lantas bagaimana cerita Watch Dogs Legion bergerak?

Cerita utama Watch Dogs Legion bisa diracik koheren berkat kehadiran satu variabel konstan yang tidak akan berubah – sang AI milik DedSec bernama Bagley. Terlepas dari karakter manapun yang Anda rekrut dan karakter manapun yang Anda gunakan, Bagley akan jadi narator yang secara konsisten memberikan Anda misi dan menjelaskan apa yang perlu Anda lakukan. Karakter yang Anda gunakan juga tidak akan mempengaruhi karakter sampingan mana yang Anda temui. Karakter-karakter yang punya pengaruh penting dalam cerita, baik dari sisi DedSec ataupu antagonis, tetap akan sama. Bahkan, respon karakter yang tengah Anda gunakan pada saat dialog ataupun cut-scene juga biasanya akan mengusung kalimat yang sama. Yang membuatnya berbeda? Hanya intonasi dan pitch suara yang melekat pada karakter tersebut.

Watch Dogs Legion part 2 jagatplay 55
AI DedSec – Bagley dan beberapa karakter pendukung tampil sebagai variabel konstan yang akan mendorong cerita, terlepas dari fakta bahwa Anda bisa menggunakan karakter manapun di sini.
Watch Dogs Legion part 2 jagatplay 42
Apapun karakter yang Anda gunakan, mereka biasanya tetap akan merespon situasi tertentu dengan dialog yang sama pula.

Satu hal yang membuat sistem cerita seperti ini bisa bekerja mengakar dari fakta bahwa Watch Dogs Legion benar-benar “membuang” konflik dan cerita personal seperti yang sempat diemban oleh Aiden dan Marcus di masa lalu. Tidak ada motivasi yang mengakar pada masalah balas dendam atau konflik pribadi, semuanya dibangun di atas pondasi plot generic yang mengingatkan Anda pada sebuah film superhero layar lebar. Bahwa DedSec di sini berperan sebagai kelompok orang baik yang berusaha menundukkan kelompok antagonis dengan ekstra konten konspirasi di dalamnya. Mereka yang baik melawan mereka yang jahat, kebenaran melawan kejahatan.

Konsekuensi dari gaya bercerita seperti ini adalah cerita yang di mata kami, berujung tidak menarik. Kisah pertarungan antara DedSec melawan Albion sembari mengungkap siapa sebenarnya sosok Zero-Day akan mudah terasa usang. Mengapa? Karena semua kisah dari misi utama yang muncul benar-benar “terikat” pada konsep pertikaian pihak baik dan jahat tanpa melibatkan sisi personal karakter-karakter yang terlibat di dalamnya. Hasilnya adalah rasa sulit untuk peduli apa yang tengah terjadi, karena pada akhirnya, semuanya soal menyelamatkan kota London. Sistem procedural generation untuk meracik misi yang harus diselesaikan sebelum Anda merekrut karakter NPC yang ada juga seringkali berakhir dengan misi-misi repetitif yang sekali lagi, tidak memberikan nilai tambah apapun pada si karakter. Pelan tapi pasti, semua karakter yang Anda rekrut dan gunakan memang mulai tampil tak ubahnya “NPC” dalam pengertian yang negatif. Anda tidak peduli sama sekali dengan satupun dari mereka dan mereka hanyalah “sarana” untuk menyelesaikan cerita utama Watch Dogs.

Watch Dogs Legion jagatplay part 1 88
Misi rekrut karakter juga berakhir generic, tidak menarik, dan tetap tidak efektif untuk membuat Anda peduli pada karakter yang hendak Anda rekrut.
Watch Dogs Legion jagatplay part 1 101
Kita hidup di era dimana teknologi jelas memunculkan banyak masalah sosial, dari deep fake atau fake news. Tidak ada satupun masalah relevan tersebut yang dijadikan WD Legion sebagai fokus.

Salah satu kelemahan cerita dari Watch Dogs Legion juga mengakar dari masalah relevansinya dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Sebagai game yang mengambil tema teknologi dan timeline masa depan yang tidak terlalu jauh dengan masa sekarang, Watch Dogs Legion terhitung gagal memaparkan masalah-masalah berbau teknologi yang jauh lebih penting dan esensial, dan karenanya relevan. Ia masih terperangkap pada konsep konflik berbasis teknologi yang seringkali Anda temukan di film-film Hollywood. Kita berbicara soal Drone bersenjata, perdagangan manusia dan organ, serta terorisme yang masih mengandalkan peledak. Ini adalah sebuah jalinan cerita yang sudah terlalu sering kita temui untuk bisa tampil menarik. Padahal jika hendak ditelusuri, Legion punya banyak “arena bermain”.

Potensi untuk meracik sebuah cerita yang lebih mengakar pada masalah teknologi yang kita hadapi sekarang terbuka lebar, namun sama sekali tidak dimanfaatkan Ubisoft. Padahal kita tahu, bahwa daripada sekedar masalah mata-mata, drone, atau perdagangan manusia, kita seharusnya jauh lebih takut dengan beberapa hal seperti konsep Deep Fake, Fake News, atau soal bagaimana sosial media mampu mempengaruhi tingkah laku manusia dan pada akhirnya, berakhir memanipulasi mereka. Masalah-masalah lebih nyata dan relevan ini diabaikan begitu saja. Hasilnya? Tema Watch Dogs: Legion justru terasa “usang” karena tendensi untuk masih memanfaatkan hal-hal umum seperti ini sebagai sumber konflik alih-alih sesuatu yang jelas di dunia nyata, adalah masalah.

Walupun ada usaha untuk menawarkan sebuah inovasi yang terhitung ambisius di Watch Dogs Legion, terutama di sisi gameplay, ia harus diakui menghasilkan konsekuensi yang cukup negatif di sisi cerita. Dengan cerita dalam skala besar yang dijadikan acuan alih-alih sesuatu yang personal, sulit rasanya untuk mengembangkan rasa kepedulian untuk setiap karakter yang Anda gunakan. Ditambah dengan ragam tema soal dualisme positif-negatif teknologi yang masih terlalu mengacu pada konsep generik film Hollywood masa lampau alih-alih sesuatu yang realistis dan relevan, semakin susah untuk peduli dan menaruh perhatian pada apa yang mau disampaikan oleh game yang satu ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

December 3, 2021 - 0

Review CHORUS: “Menari” di Angkasa Luar!

Seberapa sering Anda menemukan video game yang mengambil luar angkasa…
November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…

PlayStation

December 2, 2021 - 0

Review Battlefield 2042: Setengah Matang!

Bagi mereka yang mencintai FPS sebagai genre, Battlefield dari EA…
November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…