Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Reading time:
December 15, 2020

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini memang bukan sebuah predikat yang berlebihan. Rasa haus untuk mencicipinya secara langsung kian kuat setelah ia beberapa kali mengalami penundaan, membuat “oase” yang seharusnya datang lebih cepat terus diundur ke akhir tahun. Di kesempatan yang sama, banyak gamer yang mulai terbuai dengan begitu banyak mimpi dan antisipasi dalam otak, membangun ekspektasi demi ekspektasi, rasional ataupun tidak rasional, soal kira-kira pengalaman seperti apa yang bisa mereka dapatkan darinya. Benar sekali, kita tengah bicara soal Cyberpunk 2077. Setelah penantian selama setidaknya 7 tahun, kesempatan untuk menjajalnya secara langsung akhirnya tiba!

Kesan Pertama

Sebelum kita bicara soal impresi gameplay, sepertinya kita punya satu masalah penting yang sudah selayaknya kita jadikan prioritas pembahasan terlebih dahulu. Benar sekali, sisi teknis yang ia usung. Mengingat proses preview dan review kami akan diambil dengan menggunakan Playstation 4 Pro, termasuk ragam screenshot yang akan Anda lihat di bawah artikel ini, maka masalah ini memang lebih genting. Di luar sisi visual yang memang tidak terasa tajam karena resolusi natif yang memang rendah, ia dipenuhi dengan bug dan glitch yang sayangnya, menyebalkan.

Seberapa menyebalkan? Cukup untuk mengacaukan kenyamanan bermain tentu saja. Selama sekitar 40 jam permainan kami sebelum kami menulis artikel preview ini, kami menemukan begitu banyak bug dan glitch, dari yang cukup mengundang gelak tawa hingga yang benar-benar mempengaruhi progress. Ada masalah ringan seperti terlambatnya loading tekstur dunia dan karakter hingga reaksi AI untuk karakter NPC dan musuh yang seringkali tidak rasional. Ada hal kecil menyebalkan seperti subtitle ataupun instruksi kontrol yang menolak untuk hilang dari layar dan terus mengintai Anda. Ada juga bug dan glitch super duper menyebalkan seperti cut-scene yang menolak untuk terpicu, senjata yang menolak untuk diganti, hingga crash yang terjadi. Cyberpunk 2077 memang tidak dirilis di bentuk terbaik, bahkan dengan dua patch ekstra yang sudah dilepas untuknya.

Kehadiran masalah teknis ini memang berada dalam kapasitas yang begitu berpengaruhnya, hingga ia sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia pelan tapi pasti mulai mempengaruhi gaya bermain Anda, termasuk kebutuhan untuk melakukan manual save lebih sering untuk memastikan Anda tidak perlu melewati titik checkpoint yang seringkali jauh jika crash terjadi. Ini juga memberikan backup lebih solid jika kejadian lebih buruk – seperti game yang menolak untuk bergerak maju karena glitch fatal terjadi. Di salah satu misi bahkan, kami sempat harus melakukan load setidaknya 3 kali karena untuk alasan yang tidak jelas, percakapan dengan salah satu karakter yang seharusnya mendorong cerita maju, tidak mau terpicu. Yang lebih buruknya lagi? Masalah-masalah ini tersebar di sepanjang 40 jam permainan kami, di luar setidaknya 30 menit terhitung sempurna.

Maka dengan artikel preview dimana tiga paragraf awal sudah berisikan keluhan, Anda sepertinya sudah memahami situasi rilis Cyberpunk 2077 ketika artikel preview ini ditulis. Untuk versi Playstation 4 Pro sendiri, untungnya masalah visual yang terhitung kabur ini hanya terjadi saat eksplorasi dunia saja. Hampir semua model karakter yang Anda temui dan hadapi dalam jarak dekat, baik saat percakapan ataupun cut-scene, datang dengan detail yang tetap bisa dinikmati, dengan tetap disuguhi tata cahaya yang cukup dramatis di beragam titik. Setidaknya pengalaman visual ini, untuk urusan karakter, tidak seburuk yang banyak dibicarakan orang.

Sementara dari sisi gameplay, Cyberpunk 2077 terasa seperti game action dengan elemen RPG alih-alih sebaliknya, dimana elemen RPG-nya lebih kental. Di awal, bersama dengan begitu banyak opsi percakapan, pohon skill, dan origin cerita karakter yang akan mempengaruhi banyak hal saat cerita, kesan RPG tersebut memang terhitung kental. Namun seiring dengan aksi eksplorasi Anda di dunianya yang begitu padat, Anda akan mulai merasa bahwa elemen-elemen RPG ini tidak terasa optimal. Memang ada begitu banyak misi Cyberpunk 2077 yang datang cukup kreatif dan tidak selalu berakhir dengan aksi baku-tembak saja, tetapi untuk misi-misi seperti ini, Anda akan jarang menemukan situasi dimana build karakter Anda, dari fokus skill tree hingga jenis augmentasi yang Anda pada pasang pada V, memang membuka solusi yang unik dan mengagumkan. Ia biasanya berujung sekadar jadi syarat untuk menentukan mana pintu yang bisa Anda buka paksa dan mana komputer yang bisa Anda retas, itu saja. Bahkan kesempatan untuk menyelesaikan konflik dengan hanya opsi “percakapan” saja, sejauh ini, belum kami temukan di cerita utama.

Namun terlepas dari semua kekurangan ini, uniknya, kami berujung cukup menikmati pengalaman yang ditawarkan Cyberpunk 2077. Bahwa semua masalah ini tidak lantas mengesampingkan bahwa ia mengusung desain dunia yang cukup menarik. Namun daya tarik utamanya harus diakui terletak pada dua hal: karakter pendukung dan ceritanya yang fantastis. Seperti sebuah cerita dewasa yang dirancang dengan elegan, setiap karakter ini datang dengan konfliknya sendiri, yang tidak ragu untuk membawa Anda ke dalam tema gelap dengan cerita yang dalam. Kita bicara dari aksi bunuh diri, penggunaan obat-obatan terlarang, hingga aksi pembunuh berantai yang memperlakukan korbannya bak binatang. Mereka juga datang dengan kepribadian yang unik, pola pikir untuk solusi, hingga preferensi seksual.

Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review, izinkan kami melemparkan segudang screenshot yang kami ambil dari versi Playstation 4 Pro yang kami jajal untuk memberikan Anda gambaran soal apa yang ditawarkan oleh Cyberpunk 2077. Untuk saat ini, CD Projekt Red seharusnya mengalihkan resource yang mereka arahkan untuk membentuk detail penis dan vagina milik karakter untuk membersihkan lebih banyak bug dan glitch!

RAW Screenshot

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…

PlayStation

April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…
March 9, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Housemarque (RETURNAL)!

Housemarque dan rilis konsol terbaru Playstation memang jadi kombinasi tidak…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…