Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Reading time:
December 4, 2020

Inggris yang Kelam

Inggris bukanlah Mesir ataupun Yunani masa lampau. Ia tidak “indah”.

Inggris memang bukan “taman bermain” pertama bagi Assassin’s Creed. Beberapa dari Anda mungkin masih ingat dengan seri Syndicate yang membawa tema revolusi industri di Inggris yang mulai modern sebagai basis setting. Valhalla bertempat di lokasi yang “sama”, namun di timeline yang jauh berbeda. Kita bertemu dengan Inggris yang masih terkotak-kotak, kelam, dengan begitu banyak konflik dan kematian muncul dari beragam arah. Bersama dengan datangnya Viking, penjarahan juga menjadi bagian sejarah yang tidak terelakkan.

Karenanya, dari sisi presentasi visual, Valhalla memang terlihat jauh lebih hambar dan kelam dibandingkan dengan seri Origin dan Odyssey sebelumnya. Salah satu alasan kuat datang dari kondisi Inggris di masa itu, yang memang miskin arsitektur yang sebegitu menawannya untuk dipuja-puji. Di Origins, Anda masih menemukan piramida dengan padang pasir berwarna terang yang menemani. Di Odyssey, Anda dibanjiri stimulus visual dengan patung-patung besar, kuil megah, dan kota berlapiskan batu-batu marmer di semua sudut. Hal-hal ini tidak akan Anda temukan di Valhalla. Sebagian besar wilayah yang Anda temui akan berakhir menjadi desa-desa kecil  yang hidup mengandalkan sungai Thames untuk menyambung hidup, dengan lebih banyak ruang luang. Ada kontras yang mungkin akan membuat Anda sedikit butuh waktu untuk beradaptasi, apalagi jika Anda ikut menikmati Origin dan Odyssey.

Tidak banyak bangunan megah, tinggi, dengan marble di sini. Kebanyakan dari mereka sudah berakhir menjadi puing-puing belaka.
Apresiasi ekstra soal integrasi konsep agama dan kepercayaan, dari Kristen hingga Pagan yang terlihat mempengaruhi kehidupan dan karakter yang Anda temui.

Namun ada satu hal yang menurut kami berhasil dieksekusi Valhalla dengan baik – yakni memastikan bahwa tidak ada kompromi terkait bagaimana beragam elemen mempengaruhi gaya hidup masyarakat Saxon dan Danes di era tersebut. Salah satunya datang dari elemen agama yang dipresentasikan kental, terutama lewat cerita utama yang diusung. Anda bisa melihat bagaimana agama Kristen mempengaruhi beragam sektor kehidupan, termasuk politik, yang kemudian tercermin tidak hanya dialog saja, tetapi juga pondasi motivasi untuk aksi beberapa karakter dalam cerita. Di sisi lain, ada juga budaya Paganisme yang hidup berdampingan, melahirkan beragam ritual yang di era modern, sulit untuk dirasionalisasi. Walaupun kami sendiri tidak bisa memberikan kepastian soal akurasi sejarah yang ditawarkan Valhalla, namun komitmen seperti ini sudah terhitung melegakan dan pantas untuk diapresiasi.

Maka di tengah dunia yang memang terlihat kelam dan hambar ini, berdirilah karakter-karakter pendukung yang untungnya, bersinar begitu “cerah”. Bahkan bisa dibilang, bahwa salah satu kekuatan Valhalla justru tercermin dari karakter-karakter pendukung yang berhasil menancapkan perannya dengan maksimal untuk keseluruhan saga yang harus dilalui Eivor. Setiap dari mereka memiliki kepribadian yang jelas, konflik internal, motivasi yang menggerakkan aksi mereka terlepas dari apakah mereka berujung protagonis ataupun antagonis, serta desain yang tetap menyatu dengan realisme tetapi tetap menyiratkan keunikan tersendiri. Semuanya dibalut dengan kisah dan aksi yang juga tidak ragu untuk memperlihatkan kekerasan secara eksplisit, dari darah hingga proses multilasi. Jelas ada komitmen dari Ubisoft untuk berusaha mewakili suasana era yang seharusnya.

Brutalitas yang disajikan cukup eksplisit, membuat senjata-senjata berat yang Anda gunakan kini terasa lebih punya impact.
Kami menyayangkan presentasi Shanties yang terasa seperti direkam di studio daripada dinyanyikan langsung oleh awak kapal.

Sayangnya, ada hal yang tidak kami sukai dari cara Ubisoft menangani sisi audio Assassin’s Creed Valhalla. Kami sendiri tidak terlalu berkeberatan dengan voice acting yang setidaknya dari semua karakter yang sempat kami temui, dari sekadar NPC hingga mereka yang punya porsi cerita, datang dengan kapasitas yang cukup natural dan hidup. Keluhan utama justru datang dari cara mereka menangani nyanyi-nyanyian di atas kapal (Shanties) yang hadir mengecewakan. Alih-alih seperti AC IV: Black Flag dimana Shanties terasa dinyanyikan live, dari efek hingga kualitas dan membuatnya terasa imersif, Shanties di AC Valhalla kental dengan suasana studio. Bahwa Anda bisa mendengar dan merasakan bahwa ia direkam, terutama karena kehadiran alat musik terlepas dari fakta bahwa semua kru Anda tengah sibuk mendayung. Yang terjadi adalah situasi dimana Anda merasa tengah menikmati channel radio musik-musik Nordic alih-alih mendengar kru Anda tengah mengorbarkan semangat perang, atau semangat menjarah desa sekitar.

Maka dari sisi presentasi, Valhalla memang terasa berbeda dibandingkan Origins ataupun Odyssey. Setting yang ia usung memang mau tidak mau harus diwakili dengan dunia yang lebih hambar dan kelam, namun setidaknya, dieksekusi dengan penuh komitmen oleh Ubisoft. Keluhan utama justru datang dari sisi audio, terutama untuk sang Shanties, yang gagal menawarkan sensasi se-imersif AC IV:Black Flag. Namun setidaknya untuk urusan kekerasan, ia datang dengan konten se-eksplisit yang Anda butuhkan.

Rumah Kita Sendiri

Valhalla datang dengan konsep action RPG ala Origins dan Odyssey.

Berbicara soal gameplay, jika Anda sudah sempat mencicipi seri Odyssey ataupun Origins di masa lalu, Anda sepertinya akan familiar dengan pondasi gameplay yang ditawarkan oleh Assassin’s Creed Valhalla ini. Pada dasarnya, ia adalah sebuah game action RPG dengan angka yang mewakili damage, sistem equipment, hingga dialog yang bisa menghasilkan beragam konsekuensi berbeda seperti selayaknya sebuah game RPG. Walaupun demikian, bukan berarti Valhalla hadir tanpa sesuatu yang baru.

Ada beberapa perubahan di sisi mekanik, terutama menanggapi feedback yang sempat diutarakan di seri sebelumnya. Salah satunya adalah Assassination. Atas nama action RPG dan desain untuk memastikan gamer tidak berujung “memanen” EXP atau menyelesaikan area yang menuntut level jauh di atas level mereka, Odyssey memang membuat aksi serang hidden-blade dari posisi yang belum terdeteksi ini tidak lagi fatal.

Di Valhalla, mereka menawarkan dua buah opsi berbeda untuk mengembalikan sistem one-hit kill untuk untuk aksi Assassination. Pertama, dari menu Option. Anda bisa langsung menghidupkan aksi one-hit kill ini sejak awal, namun diwanti-wanti oleh Ubisoft akan berakhir mengacaukan pengalaman bermain yang ingin mereka sajikan. Kedua? Ia muncul sebagai salah satu bagian dari sistem skill yang harus Anda aktifkan lebih dulu. Begitu sudah Anda ambil, Anda akan diberikan sejenis skill-check berbasis timing yang jika dieksekusi dengan timing tepat, akan membuat Anda menghabisi sang target dengan satu kali serang. Gagal? Maka ia akan berakhir dengan damage kecil, yang tentu saja, membuat posisi Anda ikut terbongkar.

One-hit assassination kini kembali, namun dengan ekstra skill-check berbasis timing jika Anda hendak menghabisi musuh di level lebih tinggi.
Valhalla memberikan Anda kebebasan untuk menentukan gaya bermain Anda sendiri.

Maka seperti konsep yang juga mereka tawarkan di Origins dan Odyssey, Valhalla juga memberikan Anda kebebasan untuk mengendalikan sendiri gaya bermain Anda. Tidak ada keharusan untuk bermain secara stealth di sini, dimana opsi untuk menantang setiap musuh yang Anda temui untuk bertarung secara terbuka juga selalu tersedia. Untuk Anda yang lebih senang dengn gaya bermain seperti ini, Anda juga akan diperkuat dengan beberapa skill aktif yang bisa dipicu, sistem block dan parry, hingga kesempatan untuk menggunakan dual-wielding untuk ekstra damage. Misi utama, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan membunuh target tertentu, juga tidak “terkunci” pada gaya bermain tertentu. Anda bisa menghabisi mereka secara stealth atau mengayunkan kapak Anda membabi buta ke tubuh mereka jika Anda menginginkannya.

Untuk memfasilitasi gaya bermain yang bisa saja beragam dari gamer, Valhalla menawarkan pohon skill yang terbagi ke  dalam tiga kategori berbeda: melee, range, dan stealth untuk dikuasai. Skill Points bisa didapatkan ketika EXP Points Anda mencapai angka tertentu, yang tentu saja bisa dikumpulkan dari target yang Anda habisi, ragam collectibles saat eksplorasi, hingga sebagai reward dari misi yang berhasil Anda selesaikan. Ada cukup banyak skill points didistribusikan seiring dengan progress permainan, hingga pelan tapi pasti, Anda akan membuka lebih banyak pohon skill yang akan membuat Anda setidaknya, tampil sebagai pembunuh yang lebih fatal. Namun di awal-awal permainan, setidaknya di 10 jam pertama, berfokus hanya di satu kategori pohon skill saja akan menjadi strategi yang lebih rasional dan pada akhirnya, “mengunci” gaya bermain Anda hingga Anda mulai bisa memperkuat sektor yang lain. Apapun gaya bermain Anda, tidak ada lagi paksaan untuk hanya menggunakan satu metode saja seperti seri Assassins lawas. Satu yang menarik? Kehadiran Raven sebagai mata Anda di angkasa juga tidak lagi seefektif seri sebelumnya. Ia tidak lagi bisa digunakan untuk mengenali dan mengunci target yang bisa Anda bunuh, misalnya.

Satu pendekatan berbeda lainnya yang ditawarkan oleh Valhalla, terutama jika dibandingkan dengan Odyssey, adalah cara mereka menangani sistem senjata dan armor. Tidak seperti seri sebelumnya dimana ada begitu banyak jenis untuk dikumpulkan, yang masing-masing memiliki sifat unik yang siap untuk meracik kombinasi-kombinasi menarik, Valhalla sedikit menahan soal kuantitas.

Jumlah senjata dan armor yang bisa Anda kumpulkan memang terhitung lebih sedikit, dengan tetap mempertahankan ragam buff yang menyertainya. Implementasinya kini lebih difokuskan pada kesempatan untuk memperkuat setiap dari mereka dengan sistem upgrade berbasis material, hingga senjata dan armor yang Anda temukan di awal permainan sekalipun, bisa terus relevan di end-game sekalipun. Berita buruk dari sistem seperti ini? Dengan mengandalkan upgrade, hampir minim alasan untuk bereksperimen dengan build dan senjata. Percaya atau tidak, kami menyelesaikan 71 jam AC Valhalla dengan hanya mengganti senjata setidaknya 2 kali. Dari kapak biasa – menuju Great Axe – menuju Great Broadsword hingga akhir permainan. Baru ketika mendapatkan senjata khusus seperti Mjolnir, kami baru tertarik untuk beralih.

Dengan sistem upgade, semua senjata tetap bisa Anda gunakan hingga end-game.
Ia datang dengan cukup banyak varian musuh untuk membuat Anda kewalahan.

Fokus utama yang lain kini juga bergerak pada seberapa efektif Anda menggunakan ragam skill aktif yang bisa Anda buka dengan aksi eksplorasi dan menemukan “buku pengetahuan” yang tersebar di beragam sudut Inggris. Karena seperti yang bisa diprediksi, seiring dengan progress permainan, varian musuh yang Anda lawan baik dari kubu Saxon, Danes, hingga para Bandits akan datang beragam. Ada yang membawa perisai besar yang membuat serangan melee menjadi sulit, ada yang datang bak assassin dengan kecepatan serang dan hindar yang tinggi, hingga unit range yang akan secara aktif melemparkan bomb. Di antara unit-unit ini, Anda juga akan bertemu dengan unit lebih “istimewa”, yang datang dengan damage, animasi serangan, dan pertahanan yang lebih solid. Di tengah situasi ini, skill aktif – baik dari melee ataupun range akan membuat pertempuran berjalan lebih mudah dan cepat. Ada pula pertarungan boss-boss dalam skema 1 VS 1, yang membuat aksi hindar dan parry kini ikut berkontribusi untuk memastikan Anda bisa bertahan hidup lebih lama. Untuk urusan terakhir ini, sedikit saja lengah, Anda akan berujung meregang nyawa.

Kombinasi sistem seperti ini kemudian melahirkan sistem reward yang akan membuat aksi eksplorasi bisa berujung menghasilkan sesuatu yang bernilai. Anda bisa mengejar beragam ikon berwarna emas yang terlihat di peta setelah proses sinkronisasi khas Assassin’s Creed di lokasi terdekat, dan menemukan beragam hal di dalamnya. Anda bisa bertemu dengan peti yang berisikan resource untuk upgrade, Silver sebagai mata uang, hingga beragam senjata dan armor. Anda juga bisa menemukan material super berharga yang bisa membuat senjata dan armor ini naik “kelas”. Semakin tinggi kelas mereka, yang akan butuh resource lebih langka, semakin kuat pula status dan jumlah Runes yang bisa Anda pasangkan di masing-masing inventory. Runes seperti yang bisa Anda prediksi, akan memainkan peran  penting untuk menyuntikkan buff status hingga buff yang akan reaktif pada situasi tertentu, seperti yang mampu membuat efek api ke senjata Anda jika Anda berhasil melakukan parry dengan sempurna misalnya.

Di sistem seperti inilah, mekanik unik lain Valhalla bersinar. Tidak bisa melakukan aksi tempa senjata dan armor di sembarang tempat, Anda harus melakukannya di settlement yang  kini menjadi “rumah” dan basis aksi Anda. Settlement ini akan menyediakan cukup banyak ruang kosong yang masing-masing akan mengusung fasilitas yang menunggu untuk dibangun. Beberapa fasilitas ini punya peran dengan pengaruh langsung, seperti membuka kesempatan untuk menempa senjata, mencari informasi soal target “Templar” yang harus Anda habisi selanjutnya, jual-beli item, hingga mengatur beberapa item kosmetik, seperti modifikasi tato di tubuh Eivor, modifikasi bentuk kapal, hingga sekadar ornamen-ornamen yang Anda temukan di dalam Settlement. Darinya pula, terkadang ada ekstra misi sampingan dari karakter-karakter pendukung bisa Anda picu dan temukan, sekaligus jadi ruang dimana beberapa cerita utama terjadi. Settlement juga menjadi pondasi untuk mekanik baru lain di Valhalla.

Anda kini punya Settlement untuk disebut “rumah” dan tentu saja, jadi tanggung jawab baru.
Resource untuk mengembangkannya datang dari aksi Raid yang bisa Anda picu untuk ragam lokasi spesifik.

Bahwa untuk bisa membangun lebih banyak fasilitas di dalam Settlement, Anda butuh resource spesifik yang tidak akan bisa Anda temukan lewat proses eksplorasi saja. Anda kini butuh melakukan aksi Raid di lokasi spesifik dengan ikon yang jelas, mencuri apapun harta karun yang terpampang jelas di ikon, dan kemudian mengumpulkan resource tersebut hingga jumlahnya cukup untuk membangun masing-masing fasilitas. Setiap lokasi Raid ini tentu saja akan diisi oleh cukup banyak pasukan lawan, yang kesemuanya menuntut perang terbuka. Untungnya, Anda akan dibantu oleh awak Anda untuk membantu aksi-aksi jarah ini. AI yang dimiliki oleh klan Anda ingin sendiri cukup cerdas untuk ikut menghabisi pasukan musuh yang menghadang atau sekadar berperan sebagai pengalih perhatian. Sayangnya, ini jadi kewajiban. Sistem Raid didesain sedemikian rupa hingga setiap pintu yang harus Anda dobrak untuk membuka harta karun yang disimpan, selalu membutuhkan satu ekstra AI di dalamnya. Ini membuat Raid selalu menuntut Anda untuk menempuhnya bersama dengan awak kapal Anda.

Sistem ini juga dibentuk di atas perubahan signifikan yang diimplementasikan Ubisoft untuk sistem kapal di AC Valhalla. Bahwa tidak lagi mengomandai sebuah kapal besar dengan begitu banyak meriam di kedua sisi, Valhalla kini “hanya” memperkuat Anda dengan kapal lebih kecil yang memang didesain untuk menyisir sungai. Tidak ada pertarungan antar kapal di sini, dan tidak ada pula meriam yang bisa Anda gunakan untuk “membersihkan” lokasi yang hendak Anda jarah misalnya. Kapal ini didesain sedemikian rupa untuk menampung awak, mengitari sungai yang kini jadi “jalan” baru, dan menjarah beragam lokasi spesifik yang sudah ditentukan. Untuk beberapa lokasi, ia juga jadi kendaraan yang jauh lebih cepat untuk digunakan daripada mengandalkan lari kuda yang jika dibandingkan, memang lebih lambat.

Konsep dan sistem Raid ini kemudian diperluas, dibuat lebih kompleks, dengan eskalasi ancaman dengan sistem lain yang disebut sebagai Assault. Lebih banyak berhubungan dengan cerita utama, alih-alih sesuatu yang bisa Anda lakukan sebagai sampingan, Assault akan menuntut Anda dan pasukan Anda untuk merebut kastil atau benteng tertentu. Ini berarti skala pertarungan yang lebih besar, dengan lebih banyak tentara musuh di satu layar yang sama, dan progress misi dengan beberapa objektif terpisah. Di beberapa situasi bahkan, Anda harus mengendalikan pendobrak pintu raksasa yang harus didorong perlahan ke pintu kastil atau sekadar mengamankannya dari pasukan pemanah. Assault biasanya ditutup dengan pertarungan melawan boss dan seringkali memicu progress cerita lanjutan.

Walaupun pada dasarnya adalah sebuah game open-world, Valhalla juga berujung menerapkan sistem baru untuk memastikan bahwa progress Anda terkendali. Sesuai dengan plot yang ia usung, alih-alih bergerak bebas kesana-kemari dengan ikon cerita tersebar di layar, Anda kini harus memilih terlebih dahulu kira-kira sub-wilayah Inggris mana yang ingin Anda jadikan fokus. Begitu pilihan tersebtu sudah diambil, maka cerita utama di region tersebut akan mengemuka dan harus Anda selesaikan lebih dulu. Sistem seperti ini menjamin dua hal – bahwa AC Valhalla tetap bisa mengunci dan mengamankan sistem gerak cerita linear dengan memastikan bahwa Anda hanya akan menikmati porsi cerita yang memang seharusnya Anda dapatkan dan karenanya diperkenalkan pada karakter-karakter dalam runtut yang seharusnya. Dan kedua? Bahwa Anda bisa nyaman menikmati progress power level dalam sekuens yang lebih nyaman dan tanpa beban. Bahwa game ini akan memastikan bahwa region-region yang bisa Anda selesaikan memang akan sejalan dengan power level karakter Anda dan akan ikut mendorongnya ke level seharusnya, sebelum Anda siap mengatasi region yang lain. Setidaknya ini membuat Anda tidak perlu bingung soal region mana dulu yang harus Anda singgahi.

Cerita utama akan terpicu berdasarkan region mana yang hendak Anda jadikan fokus. Menyelesaikan region tersebut juga akan memberikan reward tertentu di akhir.
Beberapa opsi yang muncul saat cerita akan membuat Anda serius memerhatikan dan menimbang. Namun pada akhirnya, ia tidak akan mengubah jalur cerita utama secara signifikan. Hanya akan ada outcome terbatas yang terpicu.

Di tengah aksi menyelesaikan misi utama, seperti selayaknya game action RPG modern, Valhalla juga menyediakan beragam sistem opsi dan konsekuensi untuk Anda nikmati. Opsi-opsi ini biasanya akan menghasilkan ekstra cut-scene dan dialog, namun sejauh kami menjajalnya, tidak cukup ekstrim untuk misalnya, membuat Anda mendapatkan cabang cerita yang siap membuat pengalaman Anda berbeda dengan gamer lainnya misalnya. Setidaknya dari opsi-opsi ini, yang beberapa di antaranya bahkan meminta Anda menuduh karakter tertentu dengan konsekuensi kematian, Anda biasanya akan dilanda dilema moral dan karenanya, menimbang clue-clue yang ada dengan lebih cermat. Kondisi bahwa tidak ada cabang cerita yang benar-benar berbeda secara ekstrim di satu sisi memang mengecewakan, namun di sisi lain, cukup menenangkan. Setidaknya Anda tahu bahwa Anda tidak perlu khawatir aksi kunjungan dengan kerajaan-kerajaan ini akan selalu anti-gagal selama Anda menyelesaikan misi utama yang ada. Bahwa apapun yang terjadi, desa baru Anda selalu akan mendapatkan dukungan.

Jika Anda merasa situasi ini belum cukup untuk membuat Anda sibuk, Valhalla juga punya ekstra  aktivitas, atas nama kesenangan ataupun narasi cerita untuk Anda selesaikan. Anda bisa terlibat dalam aksi Flyting – tukar pantun sekelas “Rap Battle” lawas dengan reward status bernama Charisma, yang seperti banyak game RPG, akan memungkinkan Anda membuka dan memilih opsi tertentu. Ada pula aksi lomba minum-minum dengan taruhan Silver serta boardgame bernama Orlog yang super seru dengan konsep strategi yang intens. Sementara dari sisi narasi, aksi berburu “organisasi rahasia” yang di titik ini belum disebut sebagai Templar juga dihadirkan. Muncul dalam bentuk bak gurita dimana Anda harus mencari clue (dengan mengumpulkannya dari lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya) dan membunuh masing-masing target, The Order juga memuat para petarung khusus bernama Zealot yang tampil bak boss untuk Anda tundukkan. Ia memang bukan bagian dari cerita utama, namun akan memberikan pemahaman lebih lanjut soal misteri yang mengitari organisasi ini di Inggris masa lampau.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…