Review Little Nightmares II: Jurang Misteri yang Kian Dalam!

Reading time:
February 9, 2021

Six

Little Nightmares II jagatplay 52
Six memang berperan hanya sebagai companion di seri kali ini. Walaupun demikian, bukan berarti ia tidak penting.

Walaupun posisinya sebagai tokoh protagonis utama sudah tergeser di Little Nightmares II, kehadiran Six sebagai karakter companion di seri kedua ini untuk Mono tetaplah sebuah strategi Tarsier yang pantas untuk disambut dengan tangan terbuka. Apresiasi ekstra dilayangkan karena untuk ukuran karakter companion, ia didukung dengan AI yang terhitung fantastis sekaligus, membuka ruang untuk mekanik baru bagi game yang satu ini.

AI yang fantastis karena pada dasarnya, ia akan berperan sebagai companion cerdas yang tidak perlu Anda pikirkan sama sekali. Ia akan menunduk sendiri jika dibutuhkan, mendekati Anda secepat mungkin begitu kondisi memungkinkan, langsung mengambil posisi di lokasi-lokasi dimana kerjasama dibutuhkan untuk melompat ke area lebih tinggi atau mendorong objek lebih berat, hingga menjalankan peran sesuai narasi begitu Anda berada di posisi yang seharusnya. Kami belum menemukan glitch sama sekali pada saat proses review ini, dimana kami berujung frustrasi dengan Ai milik Six. Ia berjalan sempurna dan seharusnya.

Little Nightmares II jagatplay 61
AI milik Six bekerja nyaris sempurna, dan tidak sekalipun menimbulkan rasa frustrasi.
Little Nightmares II jagatplay 78
Di sisi lain, ini mengukuhkan posisinya sebagai “veteran” dari seri pertama yang bisa diandalkan.

Keterlibatan Six ini juga membuka ruang bagi Tarsier untuk menyuntikkan mekanik baru, dimana Six akan menopang Mono untuk mengakses lokasi yang lebih tinggi atau mendorong objek-objek super berat. Keterlibatan aktif Six ini memberikannya ruang untuk bersinar dan terasa sama pentingnya dengan Mono, walaupun tidak Anda kendalikan secara langsung. Ini juga kian mengukuhkan narasi bahwa Six adalah “veteran” yang sudah makan asam garam Little Nightmares pertama dan karenanya, mengerti apa yang butuh dan harus ia lakukan untuk bertahan hidup. Misi sama yang membuatnya sejalan dengan aksi Mono, dimana keduanya berujung mendukung satu sama lain.

Berhadapan dengan Six, Mono juga sebenarnya dilengkapi dengan dua interaksi baru. Anda memiliki satu tombol untuk berteriak dan memanggil Six, yang akan otomatis membuatnya bergerak mendekat. Sementara mekanik lain adalah kesempatan untuk menggenggam tangannya untuk “memaksanya” mengikuti kemanapun Anda pergi. Hampir 90% permainan, berkat dukungan AI Six yang solid seperti yang kami bicarakan sebelumnya, kedua fungsi ini akan berujung jarang Anda gunakan. Mengapa? Karena tidak perlu Anda panggil ataupun tarik tangannya, Six biasanya cukup pintar untuk mengikuti gerak Anda dan menempatkan diri di titik-titik mana ia dibutuhkan. Sayangnya, berbeda dengan Mono dan item kosmetiknya, tidak ada item kosmetik ataupun ekstra objek yang bisa Anda sematkan untuk Six itu sendiri.

Kesimpulan

Little Nightmares II jagatplay 96
Little Nightmares II tampil sebagai sebuah seri sekuel dalam kapasitas yang seharusnya. Mempertahankan komponen yang membuat seri pertamanya begitu dicintai, memperluas lore dan ragam mekanik, membangun atmosfer yang cukup untuk membuat Anda bergidik, dan akhirnya berujung memperdalam sang jurang misteri itu sendiri.

Tarsier melakukan tugas yang fantastis dengan Little Nightmares II. Mereka mempertahankan hampir semua hal yang disuka gamer dari Little Nightmares pertama, memberikan sedikit modifikasi lewat kemampuan baru yang bisa dieksekusi Mono sekaligus Six sebagai companion, dan kemudian menyuntikkan lore yang lebih luas untuk membawa Anda ke jurang misteri dunianya yang lebih dalam. Kesemuanya dibungkus dengan desain monster yang masih sama menjijikkan dan menyeramkannya, dengan keheningan dan musik yang memainkan atmosfer dengan tepat. Apresiasi ekstra juga pantas dilayangkan pada ketakutan dan kecemasan yang sama sekali tidak mengandalkan jump scare murahan di atasnya.

Namun tentu saja, Little Nightmares II bukanlah sebuah game platformer horror yang sempurna. Selain konten cerita yang terhitung singkat, kami juga harus mengeluhkan soal absennya sistem clue yang mungkin bagi sebagian besar gamer, dilihat sebagai sesuatu yang positif. Namun mengingat game ini menjadikan puzzle sebagai basis banyak tantangan, tidak menyediakan clue kecil jika gamer sudah “terjebak” untuk waktu yang lama, adalah resep rasa frustrasi yang efektif. Clue tersebut tidak hanya terangan-terangan memperlihatkan solusi, namun setidaknya cukup untuk memberikan gambaran bagi gamer apa yang sebenarnya harus mereka lakukan. Clue ini bisa didesain untuk memberikan informasi lebih eksplisit misalnya, seiring dengan jumlah akumulasi sang player berdiam atau berputar-putar di satu lokasi yang sama untuk mencari tahu apa sebenarnya solusi atau jalan yang butuh mereka picu.

Namun di luar kekurangan tersebut, Little Nightmares II tampil sebagai sebuah seri sekuel dalam kapasitas yang seharusnya. Mempertahankan komponen yang membuat seri pertamanya begitu dicintai, memperluas lore dan ragam mekanik, membangun atmosfer yang cukup untuk membuat Anda bergidik, dan akhirnya berujung memperdalam sang jurang misteri itu sendiri.

Kelebihan

Little Nightmares II jagatplay 50 1
Kemampuan Little Nightmares untuk memicu kecemasan dan ketakutan tanpa banyak jump scare adalah sesuatu yang kami apresiasi.

Desain monster tetap menyeramkan dan menjijikkan

Lore dan dunia yang diperluas

Atmosfer mencekam minim jump scare murahan

Komposisi audio dan musik yang efektif

Mono tampil unik, Six tampil bisa diandalkan

Ragam topi imut yang bisa Anda kumpulkan

Kekurangan

Little Nightmares II jagatplay 64 1
Tanpa sistem clue sama sekali, gamer yang terjebak di satu puzzle atau situasi, bisa mudah merasa frustrasi.

Cerita terhitung singkat untuk diselesaikan

Tanpa sistem clue untuk membantu gamer yang “terjebak” dengan puzzle yang ada

Cocok untuk gamer: yang mencintai Little Nightmares pertama, menyukai game platformer thriller/horror seperti Limbo atau INSIDE

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan sebuah cerita yang dijelaskan secara eksplisit, butuh sesuatu yang berwarna dan riang

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…