Varian Baru NVIDIA RTX Spark Berpeluang Tingkatkan Gaming di Laptop ARM
Berkat temuan 2 varian baru untuk NVIDIA RTX Spark di Geekbench, laptop berbasis ARM terlihat semakin berpeluang menjadi platform gaming.
Selama ini, laptop berbasis ARM yang pada dasarnya ditujukan sebagai platform produktivitas karena memang didesain untuk ringan dibawa serta hemat daya, selalu tidak dipandang oleh gamer sebagai mesin bermain game. Namun dengan kehadiran NVIDIA RTX Spark, pandangan tersebut mulai bergeser terutama ketika produsen laptop berani padukan chipset itu dengan GPU berbasis Blackwell.
Terlebih setelah munculnya dua varian baru NVIDIA RTX Spark di Geekbench via Tom’s Hardware, dengan membawa konfigurasi 20-core dan 18-core. Model 20-core mencatat 2.570 poin single-core dan 23.126 poin multi-core, sementara versi 18-core meraih 2.541 dan 21.776 poin. Hasil tersebut memang belum cukup untuk menempatkan NVIDIA RTX Spark sebagai CPU gaming tercepat, tetapi performa multi-core di sana sudah menunjukkan bahwa NVIDIA memiliki fondasi yang cukup serius untuk menantang prosesor mobile dari AMD, Intel, Qualcomm, hingga Apple.

Namun bagi gamer, angka yang dihasilkan Geekbench sebenarnya bukan bagian paling menarik dari kabar ini. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana kombinasi CPU Arm dan GPU Blackwell akan diterjemahkan ke dalam game. NVIDIA RTX Spark memiliki hingga 6.144 CUDA core dan unified memory hingga 128GB, sehingga NVIDIA tidak sekadar menawarkan CPU baru, melainkan platform yang memungkinkan CPU, GPU, dan workload AI bekerja dalam satu wadah.
Konsep tersebut sebenarnya cukup menarik bila dipadankan dengan game baru, yang semakin bergantung pada kekuatan CPU. Mulai dari pengaturan AI NPC, simulasi dunia, physics, ray tracing, upscaling, hingga frame generation membutuhkan kombinasi kemampuan CPU dan GPU yang semakin kompleks.
Bahkan untuk game yang meminta kekuatan CPU tinggi, seperti simulator, game strategi, atau open world yang penuh NPC, jumlah core dan kemampuan multi-threading RTX Spark akan menjadi fitur penting. Meski demikian, fakta ini tetap bukan jaminan FPS tinggi, karena performa gaming juga sangat dipengaruhi oleh single-core performance, latency, cache, scheduler, hingga optimasi game engine.
Namun menggunakan NVIDIA RTX Spark sebagai landasan platform gaming bukan berarti tanpa tantangan tersendiri. Pasalnya, NVIDIA RTX Spark menggunakan arsitektur Arm, sementara mayoritas game PC Windows dibangun di atas ekosistem x86. Artinya, NVIDIA dan Microsoft harus memastikan game, driver, API, DRM, serta sistem anti-cheat dapat bekerja dengan baik di platform ARM.
Masalah kompatibilitas tersebut bahkan bisa menjadi lebih penting daripada selisih beberapa persen performa CPU. Gamer tidak terlalu peduli jika sebuah prosesor mampu mencatat skor benchmark tinggi, selama game yang dimainkan bisa berjalan optimal. Karena itu, dukungan native dan kompatibilitas menjadi kunci bagi RTX Spark untuk benar-benar menjadi platform gaming.
Namun, RTX Spark juga belum bisa langsung dianggap sebagai pengganti prosesor gaming tradisional seperti Ryzen X3D. Karena bagaimana pun juga, benchmark Geekbench ini belum menggambarkan performa gaming sebenarnya. Pengujian yang jauh lebih relevan nantinya adalah FPS pada resolusi 1080p, ketika game berada dalam kondisi CPU-bound dan berjalan secara native dibandingkan melalui emulator.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda tertarik untuk menggunakan laptop berbasis ARM untuk main game, bila suatu hari nanti ekosistem gaming di sana sudah dapatkan dukungan yang lebih serius?










