Review Duke Nukem Forever: Penantian 14 Tahun yang Sia-sia!

Reading time:
November 10, 2011

Duke Nukem adalah franchise yang mampu mencapai kesuksesan luar biasa di masa lampau. Dengan mengusung desain karakter super-maskulin dan lelucon konyol yang keluar dari mulutnya, Duke Nukem mampu merebut hati para gamer dengan mudah. Apalagi berbagai aksi membasmi alien mampu ditampilkan dengan apik. Namun apa daya, kelanjutan franchise yang seharusnya mampu menjadi hit besar di industri game tersebut malah justru harus berakhir buruk. Terkatung-katung selama kurang lebih 14 tahun.

Duke Nukem Forever sebenarnya sudah diumumkan sejak tahun 1997 silam, setelah kesuksesan Duke Nukem 3D. Namun berbagai masalah yang menimpanya, dari yang bersifat teknis seperti penggunaan engine grafis tanpa izin hingga masalah politik dan ekonomi yang berwujud perang antar elite di masing-masing perusahaan developer, membuat nasib game ini semakin tidak jelas. Hingga pada tahun 2010 silam, Gearbox Software yang terkenal lewat game Borderlands-nya memutuskan untuk membeli franchise ini. Gearbox kemudian memutuskan untuk meneruskan Duke Nukem Forever setelah kevakuman lebih dari 10 tahun. Penny Arcade Expo menjadi ajang demo gameplay pertama. Semua gamer menantikannya.

Tahun 2011 menjadi ajang pembuktian yang sesungguhnya. Setelah menanti kurang lebih 14 tahun dan sempat mengalami beberapa penundaan, Duke Nukem Forever akhirnya dirilis secara resmi untuk PC, XBOX 360, dan Playstation 3. Saya sempat memberikan kepada Anda preview, impresi pertama yang dirasakan ketika memainkan game ini. Setelah memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikannya, apakah Duke Nukem Forever benar-benar mampu membawa nafas Duke kembali ke industri game? Jangan banyak berharap.

Plot

Para alien memutuskan untuk menyerang dunia kembali

Duke Nukem Forever merupakan sekuel langsung dari Duke Nukem 3D, memiliki setting 12 tahun setelahnya. Duke kini bertransformasi menjadi sebuah ikon dunia, yang berhasil di berbagai bidang usaha, dari makanan, kasino, hingga klub malam. Ia menjadi manusia yang paling dipuja karena tindakan heroik yang ditunjukkannya 12 tahun lalu, mengusir para alien dari dunia. Dengan kondisi yang tak jauh berbeda, para alien yang sama kini memutuskan untuk menyerang bumi kembali. Harapan manusia untuk bertahan hidup, sekali lagi, berada di pundak pahlawan maskulin dengan ego super besar ini. Apakah Duke tertarik untuk menyelamatkan dunia? Tentu saja, bukan untuk manusia, semata karena wanita.

Misi yang harus dilakukan oleh Duke tampak linear sejak awal permainan. Anda diharuskan untuk menghancurkan bendungan yang kini bertransformasi menjadi sebuah portal bagi alien. Untuk mencapai daerah tersebut, Duke harus berhadapan dengan ratusan alien yang siap menghadang. Anda akan menemukan alien-alien berukuran normal, besar, raksasa, hingga sebuah mothership sebesar kota. Untung saja game ini menyediakan beragam senjata berat yang kebetulan mudah didapatkan dengan peluru yang tidak menyulitkan para gamer. Dengan plot yang sederhana ini, sebuah perjalanan besar kembalinya salah satu ikon paling terkenal di dunia game, dimulai.

The Duke is Back!

Sebelum membicarakan hal-hal teknis yang terkait dengan kenyamanan Anda bermain, harus diakui bahwa Gearbox Software mampu menghidupkan kembali karakter Duke ke industri game. Harap dicatat, hanya karakternya saja. Anda masih akan menemukan Duke yang penuh dengan guyonan dan celotehan-celotehan “nakal”nya yang menggelitik. Gearbox mampu meramunya ke dalam tema yang sedikit dangkal, namun cukup membuat Anda tersenyum kecil. Sayangnya Duke lebih dicitrakan sebagai karakter yang mata keranjang. Semua komentar yang ia berikan ketika bertemu dengan beberapa alien yang menjijikkan terkadang terdengar sangat berlebihan. Bahkan Gearbox memasukkan beberapa elemen yang seharusnya tidak pernah dihadirkan, seperti apa yang mampu dilakukan Duke di toilet (Anda harus mencoba sendiri, ini sulit dijelaskan).

Menjadikan HALO sebagai lelucon.

Suara berat Duke yang Anda kenal dengan intonasinya yang arogan namun sekaligus memorable tetap dihadirkan di sini. Mulutnya yang cerewet itu membuat suasana permainan sedikitnya jauh lebih hidup. Duke yang menjadi fokus permainan setidaknya membuat game ini sedikit lebih baik dari yang seharusnya.Tanpa guyonannya, game ini adalah sebuah kegagalan besar. Apalagi guyonan-guyonan yang berhubungan dengan franchise game lain.

Seperti Sebuah Game yang Belum Selesai Dikerjakan

Setiap game yang Anda mainkan tentu saja akan menghasilkan impresi pertama yang biasanya didapatkan dari keseriusan penggarapan visualisasi yang ada. Walaupun bukan elemen yang terpenting, namun kualitas grafis setidaknya harus memenuhi standar masa kini. Dalam balutan high-definition yang kini membumi, detail lingkungan menjadi hal yang harus diperhatikan. Apalagi visualisasi karakter yang dihadirkan. Apakah Duke Nukem Forever memenuhi nilai standar untuk kesemuanya itu? Sayangnya tidak.

Detail yang buruk.
Kualitas grafis yang ketinggalan zaman.

Empat belas tahun pengerjaan yang dilakukan terhadap franchise ini tampaknya belum cukup untuk menghasilkan kualitas grafis paling maksimal. Hal yang berkebalikan justru terjadi. Duke Nukem Forever tampil dengan kualitas grafis yang buruk, detail yang sangat rendah, bahkan pergerakan dan desain karakter yang tidak dapat dibilang baik. Anda seperti sedang memainkan sebuah game Playstation 2 atau XBOX generasi pertama dengan grafis yang sedikit lebih baik. Game-game ini tidak mampu memunculkan detail yang baik, bahkan terkadang tampak seperti sebuah gambar dua dimensi yang hanya tertempel begitu saja. Visualisasi seperti ini tentu saja ikut berperan dalam membentuk kenyamanan Anda bermain. Jika Anda melihat visualisasi air di dalam game ini, Anda akan mengerti. Kualitas yang dihasilkan mengingatkan saya pada Homefront yang mengecewakan.

 

Setting yang "hampa". berbagai benda digunakan berulang-ulang di dalam satu level.

Duke Nukem Forever harus diakui tampak seperti mengusung engine grafis dari tahun 1990-an dengan sedikit saja perbaikan. Memang ada elemen PhysX di dalamnya. Berbagai benda di dalam game dapat hancur karena bombardir peluru yang ada, namun visualisasi yang ada membuatnya tidak maksimal. Salah satu alasan utama mengapa game ini tampak seperti game yang belum selesai adalah desain lingkungan yang “miskin”. Sebagai contoh, daerah padang pasir yang akan Anda lalui di pertengahan permainan. Anda akan menemukan banyak rumah besar yang semuanya hanya berisi alat pemanas dan gulungan tali dengan space yang kosong melompong. Level seperti inilah yang akan Anda hadapi di sepanjang permainan. Hampa.

Gameplay yang Monoton

DNF memang merupakan sebuah game FPS. Berkualitas? Tunggu dulu.

Gearbox mungkin lupa akan satu hal bahwa kini kita sudah memasuki abad ke-21 dengan perkembangan game yang sudah jauh melebihi zaman Duke Nukem dulu. Anda tidak lagi hidup di tahun 1997 dengan gameplay FPS yang hanya berfokus kepada lari dan tembak. Pasar sendiri sudah berbicara bahwa tren FPS yang berkembang adalah game-game FPS yang mampu memaksimalkan plot dengan berbagai dramatisasi dan efek-efek yang epic. Lihat saja bagaimana Modern Warfare mampu mencapai kesuksesan luar biasa dengan hal itu. Duke Nukem tampaknya tidak setuju dengannya.

Sepanjang permainan di Duke Nukem Forever, Anda akan merasakan citra klasik sebuah game FPS. Anda hanya perlu datang, mengambil sebuah senjata (lebih besar lebih baik) dan membunuh setiap musuh yang ada. Cerita berjalan sangat linear, tanpa dramatisasi yang mampu menarik mata Anda, dan tahu-tahu sudah mencapai ending. Tidak ada yang spesial di gameplay Duke Nukem ini. Anda akan merasakannya begitu monoton, melakukan hal yang sama dari awal hingga akhir permainan.

Hal yang lebih buruk adalah bahwa game ini miskin sekali improvisasi. Anda mungkin akan dihibur dengan suasana dimana Duke mengecil karena teknologi alien atau Anda diharuskan mengendarai kendaraan tertentu dari satu titik ke titik tujuan yang lain. Ketika Anda mulai terhibur dengan suasana yang berbeda, Gearbox menjadikannya sebuah rutinitas yang terulang di sepanjang permainan. Sekali lagi, Anda menemukan permainan yang repetitif. Jika Anda tidak tahan memainkannya, Anda akan cepat sekali bosan.

Babes, Babes, dan Babes

Alasan utama mengapa Duke harus menyelamatkan dunia.
MILF? *nod*.

Apalah artinya sebuah game Duke Nukem tanpa menghadirkan lusinan wanita cantik nan seksi yang akan hadir di sepanjang permainan? Apalagi kini Duke telah berkembang menjadi sebuah ikon dunia yang digilai oleh para wanita, mempermudah Gearbox untuk memasukkan elemen ini di dalam permainan. Anda akan menemukan wanita-wanita ini dalam berbagai situasi (penting maupun tidak penting). Satu hal yang cukup menarik adalah Duke Nukem Forever menghadirkan ketelanjangan yang cukup eksplisit di dalamnya, menjadikan tubuh para wanita ini sebagai sebuah eksploitasi yang memanjakan mata para gamer pria. Ini juga merupakan salah satu alasan mengapa mereka yang belum cukup umur tidak boleh memainkan game ini. Namun jangan berharap lebih, ketelanjangan adalah hal paling maksimal yang bisa Anda temukan di Duke Nukem Forever.

Waktu Loading yang Membuat Frustrasi

Anda akan seringkali menatap layar ini (dengan bumbu kesal dan marah).

Dari semua kekurangan yang tampak dengan jelas di Duke Nukem Forever, hal apa yang paling mengganggu? Pemenangnya ada pada waktu LOADING yang dihadirkan. Sebuah kesalahan yang akan membuat Anda frustrasi dan berhenti memainkan game ini. Saya sendiri memainkan Duke Nukem Forever ini di XBOX 360 dengan melakukan proses instalasi terlebih dahulu. Proses ini seharusnya mampu mempersingkat waktu loading dan memperingan kerja lensa karena beberapa data yang dibutuhkan diambil secara langsung dari harddisk. Namun hal ini tampaknya tidak berpengaruh pada Duke Nukem Forever.

Tujuan bertahan hidup hanya satu, menghindari waktu loading yang lama.

Bayangkan saja, Anda harus menunggu hingga beberapa menit saat Anda keluar dari satu level menuju level lainnya. Ini masih belum seberapa. Ketika Anda mati, Anda harus menunggu waktu respawn yang memakan waktu 40 detik – 1 menit lamanya, menatap kosong layar loading yang terus berputar. Padahal ada kalanya Anda harus menghadapi boss yang mampu membunuh Anda dalam hitungan detik saja jika Anda salah melangkah. Pada level-level tertentu, pada pertarungan boss yang sulit, jangan salahkan kemarahan Anda yang meledak jika Anda akan menghabiskan lebih banyak waktu menunggu waktu respawn dibandingkan waktu bermain. Stupid!

Kesimpulan

King Nothing!

Empat belas tahun. Empat belas tahun! Waktu yang teramat lama untuk mengembangkan sebuah game yang didasarkan kepada satu franchise besar. Memang game ini lahir setelah melewati berbagai konflik ketidakpastian yang membelenggu, namun tentu saja tidak dapat dijadikan alasan pembenaran berbagai kelemahan yang dihadirkan Duke Nukem Forever di masa perilisannya. Gearbox tampak seperti memaksakan diri untuk menjual dan mengeluarkan sebuah game yang bahkan belum selesai dikerjakan. Visualisasi yang buruk, setting yang “hampa”, detais yang terkesan dua dimensi, hingga waktu loading yang membuat frustrasi menjadi catatan buruk lahirnya kembali Duke Nukem ke industri game. Penebusan yang dilakukan Gearbox dengan menghadirkan karakter Duke yang memorable dan wanita-wanita seksi yang menemaninya tidak akan mampu mengobati kekecewaan para gamer. Duke Nukem Forever adalah sebuah cermin kegagalan dan ketidakseriusan dalam masa penggarapan.

Apakah gamer akan mampu mencintai game ini? Jika Anda merupakan penggemar berat Duke Nukem sejak dahulu, Duke Nukem Forever akan memberikan sedikit nuansa nostalgia lewat banyolan Duke yang “nakal”. Anda mungkin tidak akan banyak peduli dengan hal teknis yang dihadirkan. Namun jika Anda adalah gamer yang baru mengenal Duke Nukem dan semata-mata mencari Duke Nukem Forever untuk sebuah game FPS berkualitas, maka Anda akan mendapatkan kekecewaan yang mendalam. Saya tidak merekomendasikan game ini.

Kelebihan

 

Berbagai lelucon lah yang "menyelamatkan" game ini.
  • Karakter Duke yang lahir kembali
  • Babes.

Kelemahan

 

Bahkan desain Duke sebagai karakter utama, tidak dapat dikatakan baik
  • Visualisasi yang buruk.
  • Waktu Loading yang sangat lama.
  • Permainan yang monoton.
  • Setting yang kosong dan hampa.
  • Detail yang lemah.
  • Plot yang miskin dramatisasi.

Cocok untuk gamer: yang jatuh cinta buta dengan Duke Nukem, gamer pria yang butuh sedikit memanjakan mata.

Tidak cocok untuk gamer: yang membutuhkan game FPS berkualitas, gamer pria yang tidak tertarik wanita.

 

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…

PlayStation

April 7, 2021 - 0

Preview Outriders: Ternyata Lumayan Seru!

Ada banyak kasus dimana versi demo yang dikeluarkan oleh developer…
April 6, 2021 - 0

Preview NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Masa Lalu yang Baru!

Datang karena desain karakter yang sensual dan bertahan karena daya…
April 5, 2021 - 0

Review It Takes Two: Butuh Dua untuk Mencinta!

Berapa banyak dari Anda yang sempat mendengar nama Josef Fares…
March 9, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Housemarque (RETURNAL)!

Housemarque dan rilis konsol terbaru Playstation memang jadi kombinasi tidak…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…