Review Battlefield 4 (Single Player): Hambar!

Reading time:
November 7, 2013
battlefield 4

Single Player dan Multiplayer adalah dua buah mode yang secara konsisten berjalan beriringan, hampir di sebagian besar game yang dirilis di industri game saat ini. Single player seringkali menjadi fokus, sebuah pintu gerbang utama bagi game-game untuk tampil optimal dan menawarkan pengalaman yang memang diinginkan oleh sang developer. Sementara multiplayer menjadi opsi tambahan untuk memperpanjang masa hidup sang game sendiri, sekaligus mengakomodasi kebutuhan untuk mencicipi pengalaman ini bersama gamer-gamer lain di seluruh dunia. Namun, konsep ini justru berbalik di franchise FPS andalan EA dan DICE – Battlefield. Game yang satu ini memang selalu dikenal karena kemampuan untuk menghasilkan pengalaman multiplayer yang luar biasa. Sesuatu yang diakui oleh pihak DICE sendiri.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah memiliki sedikit gambaran akan apa yang ditawarkan oleh sang seri terbaru – Battlefield 4. Hype yang sudah terbentuk jauh sebelum game ini dirilis memang menghasilkan ekspektasi tersendiri, apalagi di mode multiplayer yang kini hadir dengan segudang fitur. Namun lupakan terlebih dahulu kekuatan utama Battlefield tersebut. Menjadi hal yang menarik untuk melihat perubahan seperti apa yang akan mereka suntikkan di mode single player, setidaknya untuk memastikan diri mampu bersaing dengan sang kompetitor – Call of Duty yang memang harus diakui begitu memesona di mode yang satu ini. Potensi ini kian terbuka lewat kehadiran Frostbite Engine 3.0 sebagai standar posisi next-gen mereka.

Lantas apa yang sebenarnya ditawarkan oleh mode single player Battlefield 4 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game FPS yang hambar?

Plot

Anda akan berperan sebagai Sgt. Recker, anggota pasukan khusus
Anda akan berperan sebagai Sgt. Recker, anggota pasukan khusus “Tombstone”, bersama Dunn, Irish, dan Pac.

MURICA! Formula cerita yang satu ini tampaknya masih menjadi pondasi cerita yang paling relevan untuk digunakan oleh sebagian besar game FPS ini. Sebagai negara superpower, Amerika selalu diposisikan terdesak dan kemudian lewat sepak terjang sekelompok kecil pasukan elit yang bergerak rahasia, Amerika mampu mengembalikan kembali kekuatannya dan membalikkan keadaan. Jalur cerita klise yang juga diterapkan oleh DICE di Battlefield 4.

Anda akan berperan sebagai Sersan Daniel Recker “Reck”, seorang prajurit yang tergabung dalam Tombstone – pasukan khusus yang cukup disegani bersama dengan Sgt. William Dunn, “Irish” Graves, dan “Pac” Pakowski. Keempat serangkai ini menjalani misi khusus ke negara superpower tandingan – China yang saat ini tengah berada di ujung perang saudara. Setelah berhasil menjalankan demokrasi, negara terbesar di dunia ternyata harus berhadapan dengan kudeta dari Admiral Chang. Di tengah kekacauan seperti inilah, Tombstone diminta untuk masuk ke China dan menyelamatkan tiga orang VIP dari Shanghai: Kovic, Hannah, dan suami Hannah.

Misi awalnya mungkin terdengar sederhana. Melakukan infilitrasi ke China, menjemput tiga orang VIP utama, dan keluar dari Shanghai. Semua ini dilakukan di tengah kekacauan kudeta yang tengah dilakukan oleh Admiral Chang.
Misi awalnya mungkin terdengar sederhana. Melakukan infilitrasi ke China, menjemput tiga orang VIP utama, dan keluar dari Shanghai. Semua ini dilakukan di tengah kekacauan kudeta yang tengah dilakukan oleh Admiral Chang
Battlefield 4 single player (59)
Masalah muncul setelah Irish terlalu bergumul dengan hati nuraninya dan memaksa untuk mengambil lebih banyak pengungsi dari China. Perjalanan kecil menuju Valkyrie, kapal basis operasi mereka ini justru menghasilkan masalah tersendiri.
Berada di daerah musuh, harapan satu-satunya Valkyrie adalah bergabung dengan kapal induk - U.S.S Titan. Yang ternyata, sudah hancur berantakan.
Berada di daerah musuh, harapan satu-satunya Valkyrie adalah bergabung dengan kapal induk – U.S.S Titan. Yang ternyata, sudah hancur berantakan.

Namun perjalanan ini justru kian sulit setelah hati nurani Irish justru berbuntut masalah. Tidak ingin hanya menyelamatkan tiga orang VIP ini, Irish memaksa untuk membawa semua pengungsi dari China ke kapal perang Valkyrie, basis operasi mereka. Hal ini justru mendorong militer China yang kini berada di bawah kekuasaan Chang untuk mengejar dan mengancam eksistensi Valkyrie yang krusial dalam misi infiltrasi ini. Valkyrie sendiri berusaha bergabung dan menyelamatkan diri ke kapal induk U.S.S Titan, namun menemukan bahwa kapal ini sudah hancur berantakan. Di bawah komando Garrison, opsi terbaik saat ini adalah mengambil tindak offensif dan menghancurkan China di basis pertahanan utama mereka – Singapura. Namun apa yang mereka temukan? Russia ternyata menjadi negara kedua yang berdiri di belakang Chang. Kolaborasi kedua negara ini menaburkan ketakutan yang jauh lebih mengancam untuk Amerika Serikat.

Berusaha menyerang markas China di Singapura, Tombstone justru menemukan fakta yang lebih mengejutkan.
Berusaha menyerang markas China di Singapura, Tombstone justru menemukan fakta yang lebih mengejutkan.
Fakta mengejutkan, Russia ternyata juga ternyata berperan di balik perang raksasa ini.
Fakta mengejutkan, Russia ternyata juga ternyata berperan di balik perang raksasa ini.
Mampukah Tombstone berperan besar dalam konflik ini? Apa kepentingan Russia? Siapa ketiga VIP yang diselamatkan oleh Tombstone?
Mampukah Tombstone berperan besar dalam konflik ini? Apa kepentingan Russia? Siapa ketiga VIP yang diselamatkan oleh Tombstone?

Mampukah Tombstone melakukan keajaibannya? Apa motif Russia yang melindungi Chang? Siapa sebenarnya sosok ketiga VIP yang diselamatkan oleh Tombstone di China? Semua jawaban dari pertanyaan ini akan bisa Anda dapatkan dengan memainkan mode single player Battlefield 4 ini.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…

PlayStation

June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…