Crytek: Kami Tetap Melihat Free to Play Sebagai Masa Depan!

Reading time:
August 8, 2014
crytek logo

Masalah finansial yang akut dan gerakan tutup mulut yang menyebalkan, Crytek memang harus diakui, menggali kuburannya sendiri. Dengan keterbukaan informasi saat ini, hampir menjadi sesuatu yang mustahil untuk menyembunyikan borok sebesar ini, apalagi mengingat statusnya sebagai salah satu developer yang cukup disegani. Kehilangan Homefront: The Revolution, beberapa developer kawakan, dan nasib yang tidak jelas seolah terasosiasi kuat dengan nama Crytek. Setelah diam cukup lama, Crytek akhirnya angkat bicara, membahas kondisi perusahaan mereka saat ini. Hasilnya? Mengejutkan. Terlepas dari statusnya sebagai biang kerok masalah, Crytek tetap bersikukuh melihat game free to play sebagai masa depan mereka.

Wawancara yang dilakukan Eurogamer dengan Cevat Yerli – CEO dari Crytek memang berlangsung panas. Hampir sebagian besar misteri yang menjadi pertanyaan kita sebagai gamer mereka lemparkan langsung ke muka Yerli dan tanpa basa-basi, mengharapkan respon yang jujur sepenuhnya. Yerli mengungkapkan bahwa kesulitan finansial yang terjadi di Crytek disebabkan karena proses transformasi dan ambisi Crytek untuk menjadi perusahaan yang berfokus di free to play. Beragam proyek retail yang tetap dibangun selama beberapa tahun terakhir ternyata membutuhkan investasi yang tidak kalah besar.  Yerli menyebut bahwa Crytek meremehkan hal tersebut dan harus membayar konsekuensinya saat ini. Penyerahan hak Homefront: The Revolution kepada Deep Silver dilihat sebagai strategi yang esensial, untuk memastikan franchise ini berlanjut, tetapi juga membantu Crytek melewati proses rekonstruksi, terutama dari jumlah tenaga kerja. Crytek saat ini hendak mendroong Warface, Arena of Fate, dan Hunt sebagai fokus hingga satu tahun ke depan, sehingga tidak ada resource ekstra untuk Homefront: The Revolution.

Yang menyedihkan? Yerli memberikan respon yang sangat buruk terhadap pertanyaan mengenai ketiadaan gaji bulanan dan kesejahteraan karyawan mereka. Alih-alih meminta maaf dan mengaku salah, Yerli justru menyebut bahwa semua kejadian ini semata-mata hanyalah sekedar keterlambatan pembayaran, bukannya ketiadaan. Yerli justru menyalahkan karyawan yang menurutnya tidak sabaran dan mudah marah pada penundaan “sekecil” ini, sesuatu yang tidak bisa mereka mengerti. Walaupun demikian, Yerli juga menyebutkan bahwa ia selalu memberikan kebebasan bagi karyawan untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain jika kondisi seperti ini memang dianggap tidak nyaman. Yerli mengaku ia sendiri juga tidak dibayar dan bahkan mengeluarkan uang dari dana pribadinya untuk memastikan perusahaan ini tetap berdiri.

Terlepas dari semua masalah yang tercipta, Crytek tetap bersikukuh untuk bertahan di game free to play sebaga masa depan.
Terlepas dari semua masalah yang tercipta, Crytek tetap bersikukuh untuk bertahan di game free to play sebagai masa depan.

Lantas bagaimana dengan kondisi Crytek saat ini? Walaupun tidak ingin membahasnya dengan lebih mendetail, Yerli menyebut bahwa Crytek akan mendapatkan suntikan dana yang sangat besar dalam waktu dekat. Suntikan dana yang akan memastikan bahwa kejadian serupa, tidak hanya sekedar keterlambatan gaji atau penjualan franchise ke publisher lain, tidak akan lagi pernah terjadi. Namun Yerli juga menegaskan bahwa suntikan dana dari pihak ketiga ini bukan berarti Crytek telah dijual, melainkan sekedar pendapatan yang dibayar di muka. Pendapatan yang cukup untuk memastikan Crytek mencapai posisi aman. Sementara berbicara soal Ryse 2, Yerli mengaku Crytek masih menunggu hingga jumlah konsol generasi terbaru mulai terlihat menguntungkan. Di sisi lain, ia juga membantah bahwa Crysis 4 tengah dikembangkan.

Apakah semua kejadian ini membuat Crytek kapok? Secara mengejutkan, Yerli tetap menegaskan komitmen untuk menjadikan game free to play seperti Warface, Hunt, dan Arena of Fate sebagai masa depan Crytek sendiri. Walaupun ia mengaku rencana ini belum menghasilkan sesuatu yang optimal, namun ia menegaskan bahwa Crytek mempelajari banyak hal dari sana. Ia mengaku bahwa ia  pribadi tidak senang dengan pasar game retail karena rasa benci dan suka yang bisa timbul hanya dari dalam 1 atau 2 jam permainan. Sementara untuk game free to play, ia bisa dilihat sebagai sebuah demo. Ketika gamer jatuh cinta, ia bisa mengundang teman-temannya atau bahkan menghabiskan uang di sana jika mulai tumbuh menjadi sebuah hobi. Semua kebebasan itu tergantung pada gamer.

Anda bisa membaca wawancara lengkap Eurogamer dan Cevat Yerli – CEO Crytek, dengan begitu banyak jawaban atas misteri yang selama ini memancing rasa penasaran kita, di sini.

Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…