Review Tekken 2 – Kazuya’s Revenge: Buang-Buang Waktu!

Reading time:
September 1, 2014

Tekken?

Keputusan untuk menyandang nama
Keputusan untuk menyandang nama “Tekken” adalah keputusan paling mengundang tanda tanya di film ini.

Percaya atau tidak, pertanyaan inilah yang langsung mengemuka di otak kami begitu menonton Tekken 2: Kazuya’s Revenge untuk pertama kalinya. Sebagai sebuah film yang membawa nama salah satu franchise game fighting terbesar di industri game, kita tentu berharap bahwa kita akan menemukan setidaknya identitas yang mengarah pada versi gamenya. Dengan durasa film sekitar 88 menit, film yang disutradari oleh Wych Kaos dan Steven Paul ini sebenarnya mengandung potensi yang besar, untuk setidaknya memuaskan hati para gamer pencinta Tekken dari sekedar menghadirkan karakter cameo atau setting yang terasa familiar. Namun apa yang kita temukan? Sebuah kondisi yang bahkan lebih buruk dari versi film di tahun 2010 silam.

Dari sisi cerita, tidak ada benang merah kuat yang bisa ditarik ke arah versi video gamenya, atau bahkan versi film pertamanya.
Dari sisi cerita, tidak ada benang merah kuat yang bisa ditarik ke arah versi video gamenya, atau bahkan versi film pertamanya.
Kazuya???!!!
Kazuya???!!!
This is Kazuya!!!!
This is Kazuya!!!!

Percaya atau tidak, di sepanjang film, Anda hanya akan bertemu dengan dua sosok “karakter” Tekken yang Anda kenal namanya – Kazuya dan Heihachi (minus Bryan Fury yang sama sekali tidak terlihat seperti Fury yang kita kenal). Sementara yang lain? Berangkat dari sosok fiktif yang bahkan tidak jelas perannya di dalam cerita. Ia seolah terlepas dari akarnya sebagai film yang membawa nama Tekken. Bahkan terasa tidak memiliki benang merah yang kuat dengan seri game Tekken atau film Tekken pertama yang sudah penuh dengan caci maki di sana sini. Tidak hanya sekedar nama, hal yang sama juga terjadi para presentasi visual karakter utama – Kazuya dan Heihachi yang juga tidak kalah mengecewakan. Ia sama sekali tidak mirip dengan sosok yang selama ini Anda kenal di versi video gamenya.

Sebagai sebuah game fighting, para gamer tentu saja bisa mengenali para karakter tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga move set ikonik masing-masing karakter. Oleh karena itu, terlepas dari wujudnya yang terlihat seperti robot kayu, kita bisa mengetahui gerakan siapa yang tengah digunakan oleh Mokujin dan beradaptasi dengannya. Sayangnya, move set ini juga tidak menjadi fokus Tekken 2: Kazuya’s Revenge ini. Jika karakter saja sudah tidak mirip, maka Anda tidak bisa lagi menaruh harapan apapun bahwa film ini akan memberikan sedikit rasa senang untuk Anda yang mencintai seri game Tekken.

Film ini memang memuat cukup banyak pertarungan tangan kosong, tapi tidak ada satupun yang mewakili moveset ikonik milik Kazuya Mishima yang selama ini kita kenal.
Film ini memang memuat cukup banyak pertarungan tangan kosong, tapi tidak ada satupun yang mewakili moveset ikonik milik Kazuya Mishima yang selama ini kita kenal.

 

Terlepas dari nama “Kazuya” yang ia usung, karakter utama ini bertarung layaknya petarung jalanan, tanpa satupun jurus yang mampu mewakili uniknya variasi move set milik Kazuya di seri video game Tekken. Parahnya lagi? Bahkan Heihachi di film ini sama sekali tidak bergerak dan bertarung. Ia hanya berbicara secara konstan dari awal hingga akhir film, seperti seorang kakek tua yang sudah lama rindu punya lawan bicara.

Film Kelas B

Bagaimana jika film ini tidak membawa nama Tekken? Apakah ia bisa dinikmati? Sayangnya, tidak.
Bagaimana jika film ini tidak membawa nama Tekken? Apakah ia bisa dinikmati? Sayangnya, tidak.

Jika ada satu kesalahan besar yang dilakukan oleh Tekken 2: Kazuya’s Revenge adalah fakta bahwa film ini dirilis dengan menggunakan nama “Tekken” di dalamnya. Terlepas dari sosok Kazuya yang diposisikan sebagai karakter utama, film ini sama sekali tidak berbagi benang merah signifikan apapun dengan versi video game dan seri film pertamanya yang dirilis beberapa tahun yang lalu. Karakter yang tidak mirip, cerita yang tidak kuat, minim karakter cameo, tanpa move set ikonik yang menjadi identitas karakter, hingga setting yang lebih banyak mengundang tanda tanya. Tidak ada satupun elemen yang bisa disimpulkan “berhasil” mendukung eksistensi film ini sebagai bagian dari semesta Tekken yang selama ini kita kenal. Ia hanya sekedar meminjam nama, dan parahnya lagi, membangun sebuah film laga kualitas rendah di atasnya.

Pertanyaan yang lebih sederhana, bisakah film ini dinikmati jika ia tidak memuat nama Tekken sama sekali? Sayangnya, jawabannya tetap tidak. Tidak berlebihan rasanya untuk melempar Tekken 2: Kazuya’s Revenge ke dalam kelompok film aksi kelas B ber-budget rendah yang sama sekali tidak punya nilai jual yang kuat. Kami bahkan tidak akan heran, jika Anda sempat mencurigainya sebagai sebuah proyek film porno parodi bernama “Tekken XXX”, misalnya.

Desain karakter dan sinematografi? Kami tidak akan heran jika Anda sempat mencurigai ini adalah film porno parodi berjudul Tekken XXX.
Desain karakter dan sinematografi? Kami tidak akan heran jika Anda sempat mencurigai ini adalah film porno parodi berjudul Tekken XXX.

 

What the.....
What the…..

Apa pasal? Karena hampir semua elemen yang ditawarkan benar-benar tidak jelas, bahkan di sisi karakter sekalipun. Sebagai contoh, Natasha dan Chloe. Kedua wanita Eropa Timur yang disebut-sebut sebagai pembunuh andalan The Minister ini tidak memiliki karakter, motif, dan latar belakang yang jelas dari awal hingga akhir cerita. Mereka hanya berjalan mengikuti The Minister dari awal hingga akhir, melakukan pembunuhan tidak jelas dengan metode yang tidak jelas pula. Parahnya lagi? Keduanya tewas dengan cara yang sangat tidak penting. Menghabiskan begitu banyak porsi kamera, tapi tidak memiliki signifikansi cerita sama sekali.

Formula klasik yang mungkin masih terasa relevan jika film ini dirilis di awal tahun 1990-an. Wanita cantik, kehujanan, slow motion, ketika berbelanja buah. Seriously?
Formula klasik yang mungkin masih terasa relevan jika film ini dirilis di awal tahun 1990-an. Wanita cantik, kehujanan, slow motion, ketika berbelanja buah. Seriously?

Tidak hanya itu saja, Anda juga akan menemukan beragam plot klise yang mungkin sudah terasa tidak lagi relevan untuk film-film di masa modern ini. Cerita dimana Kazuya jatuh hati dengan Laura setelah berhasil menyelematkannya dari para penjahat adalah sebuah format cerita yang mungkin masih menjual di awal tahun 1990-an. Namun di tahun 2014 seperti sekarang? Memalukan. Atau ketika Laura yang terlihat dramatis, berbelanja buah di tengah rintik hujan, sembari tersenyum dengan kamera gerak lambat, dengan Kazuya yang terlihat terpesona di kejauhan. Berbelanja buah, kehujanan, dan tersenyum? Seriously?

Terlalu banyak karakter yang mati tanpa alasan.
Terlalu banyak karakter yang mati tanpa alasan.
Kesan film berbudget rendah memang terasa kentara. Seperti alat penghapus memori di kepala Kazuya ini. Lebih terlihat seperti sebuah celana dalam putih dengan ekstra tali yang dipakai di kepala?
Kesan film berbudget rendah memang terasa kentara. Seperti alat penghapus memori di kepala Kazuya ini. Lebih terlihat seperti sebuah celana dalam putih dengan ekstra tali yang dipakai di kepala?

Anda juga akan menemukan beberapa scene yang akan membuat alis Anda terangkat, karena betapa tidak masuk akalnya cerita yang ditawarkan. Anda akan seringkali  bertemu dengan karakter yang dibunuh oleh karakter lain, tanpa motif atau latar belakang yang jelas. Seperti yang terjadi ketika The Minister meminta Kazuya membunuh seorang tukang sapu jalanan yang menjadi sahabat karibnya. Sang tukang bersih-bersih yang terlihat bijaksana ini kemudian muncul sebagai companion baru Kazuya yang kerjanya hanya melemparkan kata-kata mutiara, dari satu  kalimat ke kalimat lainnya, tanpa ada peran yang lebih jelas. Atau ketika sang pembunuh wanita – Chloe mulai melecehkan Kazuya secara seksual tanpa alasan yang jelas. Memang terlihat ada usaha untuk menciptakan kesan kepribadian psikotik untuk karakter yang satu ini, tetapi justru berakhir membuatnya semakin terlihat tidak jelas fungsinya di dalam cerita.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…
November 13, 2020 - 0

Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Kontroversial, memancing cemooh di awal rilis, namun tetap berakhir sukses…
November 10, 2020 - 0

Preview Assassin’s Creed Valhalla: Dalam Lindungan Odin!

“Ini bukan lagi seri Assassin’s Creed”, pergeseran genre dengan cita…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…