GameFight: FIFA 16 vs PES 2016

Reading time:
October 8, 2015
fifa-vs-pes

Setelah merilis artikel review dari dua game simulasi sepak bola terbaru, FIFA 16 dan Pro Evolution Soccer 2016, akhirnya JagatPlay tiba di satu artikel penutup yang akan membandingkan secara langsung dan mencari tahu mana yang lebih baik tahun ini. Ya, GameFight!

Tidak pernah mudah memang untuk membuat artikel GameFight yang mempertemukan game garapan EA Sports dan Konami itu. Selain keduanya mampu tampil sangat baik dengan kelebihannya masing-masing, baik FIFA maupun PES memiliki basis penggemar yang fanatik.

Pada artikel FIFA 15 vs Pro Evolution Soccer 2015 tahun lalu, nama yang pertama disebut menjadi pemenangnya dengan perbedaan skor yang sangat tipis. Lisensi menjadi penentu siapa yang lebih layak mendapatkan tahta. Tapi, bagaimana dengan tahun ini?

Untuk menilai mana yang terbaik, kami pun telah memilih beberapa elemen atau poin penting dari sebuah game simulasi sepak bola sebagai bahan pertimbangan, yang secara garis besar masih sama dengan poin-poin yang kami gunakan di artikel tahun lalu.

Visual

FIFA 16 IntrosPro Evolution Soccer 2016_20150922001117

Seperti diketahui, baik FIFA 16 maupun PES 2016 sama-sama terlihat menawan. FIFA tetap mempertahankan apa yang telah mereka raih di game sebelumnya. Berbagai detail dari sebuah pertandingan sepak bola tak luput dari perhatian, misalnya rumput lapangan, percikan air, tekstur penonton, hingga elemen-elemen lainnya di pinggir lapangan.

PES 2016 juga demikian. Konami semakin mengoptimalkan kemampuan Fox Engine untuk menghasilkan visual yang lebih baik. Sekilas juga hanya menyempurnakan visual dari game sebelumnya. Namun jika diperhatikan, Konami kini menampilkan tekstur penonton yang tajam. Wajah pemain bintang yang lebih mirip juga semakin ditingkatkan dengan ekspresi yang lebih terlihat ‘seperti manusia’. Selain itu, satu hal yang selalu kami sukai sejak PES 2015 adalah efek pencahayaan yang sangat baik.

Yang membuatnya PES 2016 lebih unggul, efek physics dan animasi yang ditampilkan nampak sangat halus dan realistis. Sebaliknya, di beberapa adegan FIFA 16 masih sering terlihat kaku. Ditambah lagi, EA Sports juga memutuskan untuk menghilangkan cut scene ketika pemain memasuki lapangan. Karena itu untuk poin yang satu ini kami berikan ke PES 2016.

FIFA 16 (0) vs PES 2016 (1)

 

Mekanik Gameplay

FIFA 16 jagatplay (75)Pro Evolution Soccer 2016 DEMO_20150821165630

Tak banyak yang berubah dari FIFA 16. Bahkan, sejauh kami memainkannya, gameplay-nya sangat mirip dengan FIFA 15. Memang ada perbaikan dari segi AI, namun Anda tetap akan menemukan gerakan-gerakan yang tidak sempurna ataupun tabrakan-tabrakan antar pemain yang nampak aneh.

Sebaliknya, PES 2016 justru menawarkan gameplay yang menurut kami lebih baik dari game sebelumnya. Anda akan melihat gerakan yang sangat natural dan realistis. interaksi dengan bola pun nampak jauh lebih dinamis.

Dengan gameplay yang ‘balance’, menjadikan siapa pun akan merasa nyaman dan fun ketika bertanding melawan teman atau komputer tanpa harus menguasai skill atau strategi yang rumit. AI semakin cerdas saat menyerang dan bertahan, serta mampu beradaptasi sesuai jalannya pertandingan.

Dengan berbagai keunggulan itu, kami kembali memberikan satu poin untuk PES 2016.

FIFA 16 (0) vs PES 2016 (2)

 

Sounds

FIFA 16 jagatplay (125)Pro Evolution Soccer 2016_20150921225856

Seperti yang pernah kami sebutkan di artikel sebelumnya, kualitas audio menjadi faktor yang sangat penting bagi sebuah game sepak bola. Terasa atau tidaknya atmosfer sebuah pertandingan sangat ditentukan dari seberapa serius developer mengerjakan poin yang satu ini.

Konami memang tertinggal untuk urusan yang satu ini. Suasana stadion kurang hidup, dan yel-yel penonton tidak terasa menggelegar. Walaupun mencoba menghadirkan komentator baru bernama Peter Drury, terbukti PES 2016 belum bisa menghadirkan atmosfer pertandingan yang lebih seru. Problem-nya masih sama, kalimat yang kurang variatif, kurang relevan, dan jika Anda dengarkan dengan seksama, banyak kalimat yang sesungguhnya sama dengan yang sering diucapkan Jon Champion.

Sebaliknya, FIFA 16 menawarkan suasana stadion yang otentik dengan yel-yel khas masing-masing tim. Tidak hanya di Barclays Premier League, suasana stadion di liga-liga lain juga demikian, misalnya di Bundesliga. Komentator Martin Tyler dan Alan Smith pun tetap mampu menghidupkan semangat. Untuk Sounds, FIFA 16 masih lebih unggul.

FIFA 16 (1) vs PES 2016 (2)

 

Kemiripan dengan Pemain Aslinya

FIFA 16 jagatplay (27)Pro Evolution Soccer 2016_20150922000425

Kami selalu memisahkan poin ini dari visual karena kemiripan pemain dalam game dengan pemain aslinya di dunia nyata bukan hanya soal wajah. Gerakan seperti cara berlari, cara menendang bola, selebrasi, dan yang lainnya patut dipertimbangkan.

EA Sports memoles penampilan pemain sehingga beberapa bintang tampil semakin mirip dengan aslinya, bahkan hingga tato pada tubuh. Ada yang nampak semakin mirip, namun masih banyak juga yang tidak. Selain itu, masih terlihat bentuk tubuh yang kurang proporsional dan gerakan-gerakan otentik pun tidak terlalu terasa.

Sebaliknya di PES 2016, optimalisasi Fox Engine semakin mampu menghasilkan animasi pemain yang luar biasa. Teksturnya pun terlihat lebih halus. Bentuk wajah, tubuh, hingga gerakan-gerakan khas pemain tertentu terasa lebih nyata di game ini. Neymar menjadi salah satu bintang lapangan hijau yang dibuat sangat mirip dengan aslinya. Great Job, Konami!

Tak ragu-ragu, kami berikan poin ini untuk PES 2016.

FIFA 16 (1) vs PES 2016 (3)

 

Pages: 1 2
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…