Game Klasik – Fear Effect Hidup Kembali!

Author
David Novan
Reading time:
April 7, 2016

Bagi gamer veteran yang telah mengecap dunia gaming sejak masa PlayStation pertama, tentunya sangat mengenal titel game action bernama Fear Effect. Game yang dirilis pada Februari 2000 tersebut merupakan game action yang sangat terkenal, pertama karena ia adalah game pertama yang menggunakan efek grafik unshaded mirip cel-shading dan kedua, Fear Effect memiliki gameplay yang sangat menarik. Sayangnya, Fear Effect terhenti pada seri keduanya, dan seri ketiganya dibatalkan pengembangannya oleh Kronos Digital di bawah publisher Eidos Interactive. Berita baiknya, Fear Effect dibangkitkan kembali melalui tangan developer indie!

Petualangan Hana Tsu-Vachel dan keterlibatannya dalam dunia hitam Triad Hongkong diteruskan melalui judul baru bernama Fear Effect Sedna, yang menurut studio developer dari Prancis, Sushee, bukanlah untuk menjadi Fear Effect 3. Setelah mendapatkan izin pengembangan dari Square Enix, publisher yang kini memegang semua IP game dari Eidos Interactive, Sushee meneruskannya dengan mengadakan crowd funding di Kickstarter pada 12 April nanti.

Gameplay yang akan ditemui pada Fear Effect Sedna akan berbeda dengan Fear Effect sebelumnya, menurut penjelasan yang diberikan oleh founder Sushee, Benjamin Anseaume, kepada Eurogamer. Fear Effect terdahulu adalah game AAA yang dikembangkan oleh studio besar, sedangkan Sushee adalah studio indie yang hanya berisikan 10 orang. Itu sebabnya ide gameplay yang digunakan berasal dari RPG turn-based Shadowrun Returns, yang diperlihatkan melalui sudut kamera isometrik.

Melalui perubahan gameplay tersebut, gamer akan diajak untuk menjalankan lima karakter yang empat diantaranya adalah karakter dari game terdahulu, yaitu Hana, Rain Qin, Royce Glas, dan Jacob “Deke” DeCourt. Sedangkan karakter kelima dibuat baru oleh studio sushee. Karena gamenya akan dijalankan secara turn-based, maka Anda akan diminta untuk mengkombinasikan kemampuan semua karakter untuk menyelesaikan misi. Benjamin juga menambahkan Fear Effect Sedna akan menggali lebih dalam karakter dalam dunia Fear Effect, tanpa terjebak ke dalam tema seksual seperti yang dibawa oleh Fear Effect 2.

fear effect new3 fear effect new2 fear effect new fear effect new1

“Kami ingin melakukannya dengan pintar. Itu sebabnya kami ingin menggarap hubungan antarkarakter lebih baik. Mungkin pada era 90an tema seksualitas adalah elemen yang menjual, tetapi tidak demikian saat ini,” tegas Benjamin. Itu sebabnya studio Sushee bekerja sama dengan Director Fear Effect terdahulu, John Zuur Platten, untuk mengembangkan cerita dan karakter, terutama Hana sebagai karakter utamanya. Pada Fear Effect Sedna, Hana berhasil lepas dari cengkraman Triad sesuai dengan cerita dari Fear Effect 3, dan game akan dimulai dengan ia bekerja sebagai prajurit bayaran.

Dukungan Square Enix untuk Sushee termasuk memberikan cerita dan prototype dari game Fear Effect 3 yang dibatalkan pengembangannya. Melalui dasar tersebut, cerita pada Sedna akan dimulai empat tahun setelah Fear Effect 3 terjadi. Besarnya dukungan Square Enix terhadap usaha Sushee untuk membangkitkan Fear Effect adalah bagian dari inisiatif “The Collective” yang dijalankan publisher raksasa tersebut. Melalui inisiatif tersebut, Square Enix memberikan izin bagi developer indie untuk membuat kembali franchise gamenya yang telah dikubur.

Itu sebabnya Sushee harus mencari sendiri pendanaan melalui Kickstarter. Square Enix nantinya akan meminta 5% dari dana yang terkumpul untuk menutup biaya awal, termasuk bantuan Square Enix untuk menyebarkan berita. Setelah gamenya terjual, Square Enix akan meminta 10% revenue dan sisanya untuk developer pembuatnya. Melalui inisiatif ini, Square Enix berharap developer indie mendapatkan kesempatan untuk memperbesar nama mereka guna menghasilkan game yang lebih baik di masa depan.

Source: Eurogamer

Load Comments

PC Games

June 28, 2022 - 0

Review My Lovely Wife: Pilih Istri atau Iblis-Iblis Seksi!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh My Lovely Wife ini?…
May 23, 2022 - 0

Review Trek to Yomi: Estetika Sinema Masa Lampau!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Trek to Yomi ini? Mengapa…
May 11, 2022 - 0

Review Rogue Legacy 2: Banyak Anak, Banyak Masalah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Rogue Legacy 2 ini?…
April 21, 2022 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Jeremy Hinton (Xbox Asia)!

Menyambut rilis PC Game Pass untuk Indonesia, kami berkesempatan untuk…

PlayStation

March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…
March 23, 2022 - 0

Review Ghostwire – Tokyo: Berburu Setan Jepang!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Ghostwire: Tokyo ini? Mengapa…
March 21, 2022 - 0

Review Elden Ring: Cincin Menuntut Nyawa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan Elden Ring? Lantas, mengapa kami menyebutnya…
March 4, 2022 - 0

Preview Elden Ring: Senyum Merekah di Balik Tangis Darah!

Elden Ring akhirnya tersedia di pasaran dengan beberapa formula baru…

Nintendo

April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…