Review Thumper: Game Ritmik yang Harus Anda Mainkan!

Reading time:
November 7, 2016
thumper-11

Tak semua gamer memang suka dengan game-game ritmik. Berbeda dengan genre lain yang meminta Anda untuk menyelami dalamnya hidup seorang karakter atau membunuh siapapun yang menghalangi jalan Anda, game-game ritmik hanya menawarkan satu fokus saja sebagai pondasi gameplay – menekan tombol yang berada di layar dengan timing tepat. Anda yang tak familiar dengan genre seperti ini bisa mengacu pada gameplay sama yang ditawarkan oleh judul seperti Dance Dance Revolution, Final Fantasy Theatrhythm, Bust a Groove, Guitar Hero, hingga yang cukup populer saat ini – Project Diva. Terlepas dari tema dan tampilan yang berbeda-beda, intisari gameplay-nya selalu sama. Menekan tombol yang muncul di layar, yang terkadang muncul satu per satu ataupun bersamaan, di saat yang tepat.

Tantangan muncul dari kompleksitas dan kecepatan tombol yang harus Anda tekan. Semakin sulit stage atau lagu yang ada, semakin banyak tombol yang harus Anda tekan di timing waktu yang begitu cepat dan ketat di saat yang sama. Sekarang bayangkan konsep game seperti ini, namun diracik dalam sebuah format gameplay yang berbeda. Bahwa tak lagi sekedar tombol, Anda bertemu dengan sebuah format game racing dengan tingkat kesulitan super tinggi. Hal inilah yang berusaha dilakukan oleh developer bernama Drool dengan game terbaru berjudul Thumper. Secara sederhana? Anda bisa menyederhanakannya sebagai game ritmik yang punya cita rasa yang serupa dengan Dark Souls, tanpa ampun.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Thumper? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game ritmik yang harus Anda mainkan?

Plot

Thumper mendefinisikan dirinya sebagai
Thumper mendefinisikan dirinya sebagai “rhytmn violence game”.

Drool, sang developer sendiri menyebut Thumper sebagai “Rhythm violence game”, kombinasi tiga kata yang tak akan pernah Anda prediksi akan bisa muncul di industri game. Sebuah game ritmik dengan konsep kekerasan di dalamnya? Walaupun tak seperti yang Anda bayangkan, Anda bisa merasakan “kekerasan” tersebut, setidaknya dari varian tantangan seperti apa yang harus Anda hadapi. Ini adalah game ritmik yang tak mengenal kata ampun sama sekali.

Ada sedikit latar belakang cerita, namun tanpa kejelasan sama sekali. Thumper hanya mendefinisikan cerita bahwa Anda adalah seekor kumbang luar angkasa yang harus menyelusuri ruang hampa dan bertarung dengan monster-monster yang ada. Monster ini sendiri berbentuk seperti layaknya sebuah kepala raksasa yang diceritakan datang dari masa depan. Namun seperti yang bisa Anda prediksi, tak ada cara lain untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di semesta Thumper ini. Dari awal permainan hingga akhir, Anda akan langsung disuguhi langsung sesi gameplay tanpa ada teks ataupun sesi sinematik sama sekali.

Cerita singkat yang ditawarkan Drool adalah bahwa Anda berperan sebagai seekor kumbang luar angkasa.
Cerita singkat yang ditawarkan Drool adalah bahwa Anda berperan sebagai seekor kumbang luar angkasa.
Anda harus melintasi ruang dan waktu, melawan pada monster kepala raksasa dari masa depan.
Anda harus melintasi ruang dan waktu, melawan pada monster kepala raksasa dari masa depan.

Satu yang menarik adalah pendekatan visual yang ditawarkan oleh Thumper ini. Melewati sebuah jalur penuh warna warni yang abstrak di tengah sebuah dunia yang hitam gelap di sekitarnya, kontras ini membuat visualnya terlihat begitu menarik dan memanjakan mata. Apalagi di tengah permainaan, Anda seringkali bertemu dengan animasi-animasi dunia yang tiba-tiba hidup, seperti Anda tengah melewati sebuah jalur yang alih-alih objek, adalah bagian dari organisme tertentu. Namun tak sekedar untuk kosmetik saja, pendekatan ini juga punya pengaruh tersendiri di dalam gameplay itu sendiri.

Lantas, apa yang sebenarnya dilawan oleh kumbang luar angkasa yang satu ini? Musuh seperti apa juga yang harus ia tundukkkan? Tantangan seperti apa yang harus ia lewati? Semua jawaban dari pertanyaaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan Thumper ini.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…
April 22, 2021 - 0

Review NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Cerita Indah Penuh Derita!

Dengan popularitas yang ia raih, hampir sebagian besar gamer memang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…