Menjajal Dragon Ball FighterZ – Closed Beta: Mengagumkan!

Reading time:
September 18, 2017
Dragon Ball FighterZ Closed Beta (1)

Usia boleh kian tua, namun popularitas menolak untuk tenggelam begitu saja. Terlepas dari fakta bahwa kini ceritanya dilanjutkan secara resmi, statusnya sebagai salah satu seri anime / manga yang menemani masa kecil dan remaja kita memang membuat nama Dragon Ball selalu punya tempat di hati kita masing-masing. Kerennya lagi? Popularitas ini tersebar di seluruh dunia, dengan anak-anak beragam suku, agama, kebangsaan, hingga ras sekalipun setidaknya pernah berupaya meneriakkan kata “KAMEHAMEHA!” dengan semua udara yang tersimpan di paru-paru mereka. Konten pertarungannya yang selalu epik dengan efek kehancuran yang begitu fantastis ini memang menjadi formula yang pantas untuk diadaptasikan ke industri game. Sebuah proses yang sebenarnya, sudah berjalan selama puluhan tahun.

Sebagai salah satu seri anime / manga populer dengan usia yang terhitung tua, beragam proses adaptasi untuk Dragon Ball memang sudah mengemuka selama beberapa generasi platform. Tidak selalu soal fighting, tidak sedikit proyek ini berakhir menjadi game dengan genre unik lain, termasuk RPG sekalipun. Beberapa hadir mengikuti cerita yang sudah ada, sementara tidak sedikit pula yang berusaha kreatif dengan mengubah beberapa elemen cerita penting untuk menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda. Satu yang pasti, sebagian besar proyek ini sepertinya mengerti, bahwa esensinya selalu terletak pada pertarungannya yang akan cukup untuk membuat adrenalin Anda terpompa kencang.

Namun ada satu hal istimewa yang terjadi dengan Dragon Ball sebagai sebuah franchise. Bandai Namco yang bertanggung jawab untuknya akhirnya menggandeng developer game fighting dua dimensi terbaik di pasaran – Arc System Works untuk mengembangkan sebuah seri baru yang disebut sebagai Dragon Ball FighterZ. Lewat serangkaian video gameplay dan screenshot, ia terlihat begitu fantastis. Tanpa perlu lagi meraba-raba tanpa kejelasan, gamer yang sempat mendaftarkan diri untuk proses closed beta beberapa waktu yang lalu akhirnya berkesempatan untuk mencicipinya secara langsung dalam lingkup waktu terbatas. Salah satunya, adalah kami.

Lantas, apa yang kami temukan di masa closed beta Dragon Ball FighterZ ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang mengagumkan? Inilah impresi kami untuknya.

Visual Anime Penuh Detail

Pendekatan visual ala anime yang luar biasa.
Pendekatan visual ala anime yang luar biasa.

Salah satu kekuatan Dragon Ball FighterZ yang siap untuk membuat mata gamer berfokus adalah pendekatan visual yang ia tawarkan. Dengan menjadikan Unreal Engine 4 sebagai basis, sepertinya jelas bahwa Arc System Works dan Bandai Namco memang punya satu misi besar untuk game baru yang satu ini – membuatnya merepresentasikan visual dari seri anime / manga yang selama ini kita kenal, sedekat mungkin. Jawaban dari tantangan ini adalah menempuh apa yang sempat mereka lakukan dengan seri terbaru BlazBlue dan Guilty Gear, sebuah game bertarung dua dimensi dengan model karakter dan lingkungan tiga dimensi. Dengan teknik yang menyerupai cell-shading, melihat Dragon Ball FighterZ memang seolah tengah menikmati seri anime Dragon Ball, namun kini dalam format yang lebih interaktif.

Detail yang ditawarkan di sini, memang tidak main-main. Oke, kita memahami bahwa Arc System Works memang berusaha menghadirkan cita rasa otentik. Pertanyaannya kini, seberapa dalam sensasi otentik tersebut? Hampir semua elemen yang ditawarkan akan memenuhi apa yang Anda impikan. Hingga pada batas, jika Anda memang hidup di dunia Dragon Ball dan berhasil menemukan ketujuh bola naga yang ada dengan Shen Long muncul di angkasa, maka permintaan Anda untuk sebuah game Dragon Ball yang definitif akan dijawabnya dengan Dragon Ball FighterZ. Hal-hal kecil yang ditawarkan kian menyempurnakan garis besar arah presentasi yang ingin diusung.

Dari hal kecil seperti suara hingga warna misalnya. Suara Ki-Blast ikonik dari tiap karakter di seri Dragon Ball tetap dipertahankan di seri game fighting ini, hingga Anda akan merasakan terjun di ruang yang sama. Dari teriakan jurus pemungkas tiap karakter, gaya bicara, hingga sekedar pukulan cepat yang melayang di angkasa. Dari sisi persentasi visual, Anda bisa menemukan banyak implementasi mumpuni di balik kesederhanaan yang ada. Dari warna yang memang tepat diaplikasikan di setiap karakter dan serangan, seperti kombinasi antara warna biru dan orange di kamehame atau kuning yang dominan di serangan Final Flash milik Vegeta. Sekedar implementasi teknologi bayangan yang juga hadir sempurna setiap kali serangan dengan cahaya terang muncul, hingga lingkungan latar belakang yang ikut hancur jika karakter Anda berhasil memukul Ki-Blast milik lawan.

Pilihan warna yang tepat dan seharusnya.
Pilihan warna yang tepat dan seharusnya.
Bayangan akan terlihat di tubuh karakter dan lingkungan jika ada serangan yang berfungsi sebagai sumber cahaya baru dieksekusi.
Bayangan akan terlihat di tubuh karakter dan lingkungan jika ada serangan yang berfungsi sebagai sumber cahaya baru dieksekusi.

Kemampuannya untuk menawarkan karakterisasi yang tepat juga salah satu kekuatan dari Dragon Ball FighterZ, setidaknya dari apa yang kami jajal di masa Closed Beta ini. Bahwa tidak hanya dedefinisikan oleh serangan pemungkas saja, animasi serangan tiap karakter juga akan mewakili apa yang Anda kenal dari serial komiknya. Serangan kombinasi Vegeta misalnya, bisa ditutup dengan lemparan Ki-Blast bertubi-tubi yang memang jadi ciri khasnya di anime / komik. Sementara karakter lain seperti Android 16 punya gerak lambat, Frieza dengan bentuk serangan yang seminimal mungkin menggerakkan tangan, hingga Piccolo yang juga punya penutup serangan kombinasi dengan kemampuan grappling tangan panjangnya. Semua karakter yang Anda kenal dari versi anime / manga-nya dipresentasikan dengan sangat baik di sini. Anda yang menggemari seri anime / manga-nya tidak akan menemukan sesuatu yang tak koheren di sini.

Krillin akan masuk menggantikan Android 17 untuk membantu Android 18 jika Anda membawanya ke dalam tim.
Krillin akan masuk menggantikan Android 17 untuk membantu Android 18 jika Anda membawanya ke dalam tim.
Serangan Ki terbang menjauh dari bumi? Pemandangan khas Dragon Ball tersebut juga bisa Anda temui di sini.
Serangan Ki terbang menjauh dari bumi? Pemandangan khas Dragon Ball tersebut juga bisa Anda temui di sini.

Ada sesuatu yang spesial dan berbeda pula jika Anda berhasil melakukan sesuatu yang khusus di sini. Sebagai contoh? Jika Anda menggunakan karakter pasutri (yang walaupun dari lore dan pakaian bertarungnya, memang seharusnya belum menikah di sini) – Krillin dan Android 18, maka Anda akan menemukan serangan pemungkas yang berbeda ketika dieksekusi. Jika tanpa Krillin, Android 18 akan melakukannya dengan Android 17, namun jika Anda membawa Krillin ke dalam tim yang sama, maka keduanya akan menempuh animasi serangan serupa. Walaupun efek destruktif yang ada tidak secara aktif terjadi di lingkungan tempat Anda bertarung secara aktif, namun jika Anda berhasil mengeksekusi satu tendangan kuat atau serangan pemungkas di akhir, maka Anda akan bisa melihat efek destruktif ala anime /manga Dragon Ball yang selama ini kita kenal. Bola sinar yang terbang keluar dari bumi, bukit dan pengunungan yang tertembus tubuh dan hancur, hingga kota yang seperti tengah ditelan bom nuklir.

Dari masalah presentasi, Dragon Ball FighterZ akan membuat Anda jatuh hati secara instan, terutama jika Anda merupakan fans berat franchise yang satu ini. Sebuah eksekusi manis hingga melebihi harapan sebagian besar dari kita. Tidak sekedar soal visual saja, tetapi juga animasi, suara, hingga sistem pertarungan itu sendiri.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…