Review Doki Doki Literature Club: Jangan Baca, Main Saja Dulu!

Reading time:
October 17, 2017

 

DDLC jagatplay (3)

Clickbait? JagatPlay akhirnya jatuh pada kebutuhan “clickbait” untuk menarik pembaca? Tunggu dulu, sebelum Anda melemparkan semua peluru tuduhan yang Anda persiapkan, izinkan kami memberikan penjelasan terlebih dahulu soal game yang satu ini. Seperti yang Anda tahu, developer indie selalu punya banyak cara untuk melemparkan game-game super kreatif. Di satu sisi, Anda bertemu dengan usaha untuk meracik ulang kesuksesan game lawas penuh nostalgia lewat pendekatan visual yang berbasis piksel. Namun  kemudahan untuk melepas rilis game di Steam, juga membuka ruang bagi developer indie untuk menawarkan sesuatu yang kreatif atau sebuah konsep yang mungkin sudah populer di negara lain, namun tak kunjung mendapatkan translasi versi barat yang pantas. Inilah Doki Doki Literature Club yang saat ini tersedia di Steam, gratis!

Dan ketika berhadapan dengan game unik seperti ini, maka kami juga harus mengubah format pembahasan hanya untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman gameplay yang seharusnya. Apalagi jika memang produk tersebut berdiri di atas daya tarik yang begitu rapuh dan rentan untuk dihancurkan, jika Anda tidak masuk dengan ekspektasi yang berbeda. Bagi Doki Doki Literature Club, ini didefinisikan oleh identitas visual novelnya yang berakhir, bukan daya tarik utamanya. Oleh karena itu, sangat esensial dan direkomendasikan untuk Anda yang tengah membaca review ini, untuk tidak membaca review ini lebih lanjut jika Anda tidak ingin pengalaman bermain Anda tercederai. Anda bisa mengunduh game tersebut di sini, dan silakan langsung melompat masuk.

Oleh karena itu pula, kami juga mengubah format review kami untuk game racikan Team Salvato yang satu ini. Bahwa tidak seperti format review game kebanyakan dimana kami menuliskan semua hal yang menarik terkait game ini dan baru menarik kesimpulan, kami akan menuliskan kesimpulan terlebih dahulu di sini. Ia akan merangkum pengalaman kasar seperti apa yang akan Anda dapatkan dan tentu saja, alasan kami merekomendasikannya. INGAT, setelah kesimpulan, apapun yang Anda baca di halaman kedua dan selanjutnya, yang berpotensi untuk mengacaukan pengalaman gaming Anda terkait produk ini, di luar tanggung jawab kami.

(Dimainkan dan di-review dengan SI HITAM MK.I)

 

SEKALI LAGI, KAMI MEREKOMENDASIKAN ANDA UNTUK MENJAJAL GAME INI TERLEBIH DAHULU TANPA SPOILER, DAN BARU KEMBALI MEMBACA REVIEW INI SETELAH MENYELESAIKANNYA!

APAPUN YANG ANDA BACA SETELAH HALAMAN 1 BERPOTENSI MENGACAUKAN / MENGHANCURKAN PENGALAMAN GAMING ANDA YANG SEHARUSNYA!

 

 

 

Kesimpulan

DDLC jagatplay (16)
Kami yakin Anda cukup cerdas, bahwa sekedar masalah remaja tidak akan jadi “alasan” mengapa kami meminta Anda untuk tidak membaca review ini sebelum Anda mencicipinya.

Doki Doki Literature Club adalah sebuah game penuh kejutan, tidak ada lagi kata yang lebih tepat untuk menjelaskan game yang sebenarnya layak dikategorikan sebagai Visual Novel ini. Anda dibawa pada sebuah cerita romansa remaja yang sebenarnya terhitung klise di awal, namun kemudian berhadapan dengan tema yang semakin berat seiring dengan jalannya cerita. Ia awalnya hadir untuk merefleksikan kompleksitas karakter yang masing-masing, punya masalah personal dengan masalah psikologis yang berat. Kerennya lagi? Alih-alih sekedar dilemparkan secara eksplisit, ia menyeruak implisit lewat tulisan-tulisan puisi yang memang, menjadi tema dari game ini, seperti halnya judul yang ia usung. Tulisan-tulisan yang merefleksikan kegelapan di dalam diri remaja yang terkadang, tak akan bisa Anda terima dan tangani begitu saja. Dan percaya atau tidak, Doki Doki Literature Club membawanya lebih dalam lagi.

Walaupun demikian, terlepas dari puja-pujian yang muncul di sana-sini, sulit rasanya untuk tidak mengomentari beberapa kekurangan yang ada, apalagi mengingat ia adalah sebuah game visual novel yang menitikberatkkan diri pada cerita. Walaupun kami termasuk gamer yang tidak terlalu sering memainkan visual novel, baik yang mengusung tema dewasa eksplisit ataupun tidak, namun cerita yang begitu linear masih menjadi kelemahan utama Doki Doki Literature Club. Ia berakhir menjadi game yang meminta Anda untuk mengikuti satu garis cerita yang sudah definitif, walaupun punya cabang kecil di sana-sini. Respon yang terkadang Anda berikan tidak banyak memberikan hasil yang berbeda. Bahkan, hampir sebagian besar waktu gameplay yang Anda habiskan akan berakhir pasif, dengan sekedar membaca cerita yang muncul di layar kaca.

Namun seperti yang bisa Anda prediksi, kami yakin Anda cukup cerdas, bahwa sekedar masalah remaja tidak akan jadi “alasan” mengapa kami meminta Anda untuk tidak membaca review ini sebelum Anda mencicipinya. Ada sesuatu yang lebih menarik menunggu Anda di Doki Doki Literature Club, dan dipadukan dengan skema distribusinya yang cuma-cuma, tidak ada alasan untuk tidak mencicipinya. Siapkan diri Anda, hati Anda, sistem tata suara yang mumpuni, dan masuklah ke dalam sebuah visual novel yang tidak pernah Anda pikirkan, akan membuat Anda jatuh hati ini.

Kelebihan

  • Artwork yang memanjakan mata
  • Cerita dasar cukup menyentuh, walaupun klise
  • Penuh kejutan yang tidak terprediksi
  • Musik yang riang
  • Desain karakter yang pantas untuk diacungi jempol
  • Deskripsi kepribadian karakter via puisi

Kekurangan

Sayangnya, garis cerita yang ia usung memang terhitung terlalu linear.
Sayangnya, garis cerita yang ia usung memang terhitung terlalu linear.
  • Terlalu linear

Cocok untuk gamer: yang mencari pengalaman gaming yang tidak biasa, ingin mendapatkan tendangan adrenalin dengan cepat

Tidak cocok untuk gamer: yang punya masalah kesehatan terkait jantung, mudah merasa mual

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…