JagatPlay di E3 2018: Detail Baru Ghost of Tsushima!

Reading time:
June 15, 2018

E3 2018 dan kesempatan lain untuk mendapatkan informasi baru terkait game-game teranyar yang bahkan, belum punya tanggal rilis pasti di pasaran. Walaupun sebagian besar demo dan presentasi tersebut berujung terbatas, namun bagi media, ini masih menjadi event terbaik untuk mencari informasi terkini. JagatPlay hari ini berkesempatan untuk masuk ke dalam presentasi langsung Sucker Punch terkait Ghost of Tsushima. Walaupun tidak memperlihatkan sesuatu yang baru dan berbeda dibandingkan dengan gameplay perdana yang mereka perlihatkan di panggung utama, Sucker Punch membuka ruang bagi pertanyaan dari media Asia, termasuk wartawan dari Asia Tenggara. Pertanyaan yang juga mengarah pada dibukanya beberapa detail baru yang menarik. Nate Fox – Game Director Ghost of Tsushima angkat bicara.

Dari awal, Sucker Punch menegaskan bahwa mereka tidak berusaha “mengejar” akurasi sejarah di Ghost of Tsushima dan memperlakukannya tetap sebagai sebuah game fiksi. Walaupun kejadian di Tsushima memang merupakan bagian sejarah dunia, mereka tidak akan memperlakukan dan mereka ulangnya secara persis. Fox bahkan secara terbuka menyebut bahwa film-film dari Kurosawa menjadi salah satu inspirasi utama dan kualitas yang hendak mereka kejar. Sebagai contoh? Keterlibatan Korea dalam invasi bersama Mongol tidak akan diperlihatkan di sini. Mereka lebih berfokus untuk memproyeksikan betapa mengerikannya pasukan elite Mongol di kala itu, hadir dengan senjata berbasis mesiu, dari senjata api hingga meriam sekalipun. Sesuatu yang bagi penduduk feudal Jepang di tahun 1274, adalah sesuatu yang asing dan menyeramkan.

Nate Fox menyebut bahwa nama “Ghost of Tsushima” dipilih untuk mewakili perjalanan yang akan dilewati oleh sang karakter utama – Jin Sakai. Anda akan mulai sebagai seorang samurai yang memang sudah handal, namun akan terus tumbuh dalam petualangan Anda menghancurkan para pasukan Mongol ini. Pada akhirnya,  Jin muncul sebagai ancaman yang tidak bisa ditangani pasukan Mongol begitu saja. Dimana sekeras apapun mereka mencoba, sosoknya terasa seperti hantu yang sulit diburu, sulit dikejar, dan sulit ditangkap. Oleh karena itu, ia menyandang status sebagai Ghost of Tsushima.

Dengan pendekatan seperti ini, maka sepertinya sudah bisa diprediksi bahwa Ghost of Tsushima juga akan mengusung elemen progression di dalamnya ala game RPG. Sucker Punch memang menyebutnya sebagai game open-world terbesar yang pernah mereka racik, bahkan lebih besar daripada Second Son, namun untuk saat ini, mereka masih belum tahu kira-kira akan seluas apa di versi final. Satu yang pasti, ia akan memberikan ruang eksplorasii untuk para fans, menemukan rangkaian misi sampingan dan sejenisnya. Bahkan, Nate Fox menyebut bahwa adegan epik di trailer gameplay terbaru E3 2018 bukanlah cerita utama, melainkan hanya bagian dari misi sampingan saja. Seiring dengan perjalanan, Jin akan bisa menguat lewat lebih banyak variasi skill, equipment, dan juga senjata. Yang menarik? Fox menyebut bahwa sistem grappling hook yang sempat terlihat di trailer adalah bukti akan hal tersebut. Bahwa perlengkapan yang akan membantu membuka akses untuk ragam alternatif cara membunuh musuh atau menginfiltrasi markas tersebut bukanlah sesuatu yang akan didapatkan gamer sejak awal.

Referensi pada karya kreatif Kurosawa juga mengakar pada pendekatan visual dan presentasi yang hendak dikejar Sucker Punch di sini. Selain lingkungan yang indah, mereka juga akan mengimplementasikan ragam sistem dan efek visual yang lain, seperti cuaca yang dinamis hingga perputaran siang dan malam. Salah satu alasan juga mengapa mereka memilih Tsushima sebagai setting, karena sebagai pulau, mereka bisa memotret sisi visual tersebut dengan lebih baik.

Lantas, bagaimana dengan urusan pengalaman otentik itu sendiri? Walaupun Ghost of Tsushima diperlakukan sebagai sebuah karya fiksi yang tidak mengejar akurasi sejarah, mereka tetap berupaya untuk menghasilkan dan merepresentasikan suasana feudal yang seharusnya. Nate Fox menyebut bahwa mereka cukup beruntung berdiri di bawah bendera Sony, yang notabene merupakan perusahaan Jepang. Mereka secara rutin berdiskusi dengan kantor pusat untuk meminta bimbingan dan referensi untuk menghasilkan “Tsushima yang seharusnya”. Satu yang pasti, berbeda dengan Infamous, Ghost of Tsushima tidak akan mengusung cabang cerita atau ending. Sucker Punch ingin ia menjadi cerita yang mewakili cerita seorang Jin Sakai dengan tepat.

Sayangnya, mereka sendiri masih belum bisa berbicara banyak soal sisi gameplay itu sendiri. Satu yang pasti, mereka mengejar kombinasi dari tiga elemen dasar: MUD, BLOOD, dan STEEL. Mereka tetap ingin membuat sensasi pertarungan ala samurai menjadi fokus. Adegan-adegan sinematik dimana tebasan bisa membunuh secara instan dihadirkan di sini, walaupun tidak mereka jelaskan dengan detail. Katana juga akan diperlakukan dengan istimewa, layaknya seorang samurai yang seharusnya. Mengingat dunia luas yang harus ia lewati, Sucker Punch juga akan memperlakukan kuda yang dinaiki Jin sebagai “karakter kedua” untuk menghasilkan sensasi yang tepat.

Memenuhi permintaan para fans yang ada, Sucker Punch juga hadir dengan berita yang bahkan lebih fantastis lagi. Mereka sadar bahwa banyak gamer di luar sana yang sangat ingin memainkan game ini dengan voice acting bahasa Jepang, namun dengan subtitle Inggris. Mereka mengamini permintaan tersebut dan menjamin hal tersebut akan tersedia di semua region rilis Playstation 4, tentu saja, dengan ekstra bahasa lainnya sesuai dengan region rilis. Nate juga mengakui bahwa untuk saat ini, pergerakan mulut karakter tetap akan didasarkan pada versi bahasa Inggris.

Ghost of Tsushima sendiri masih belum punya tanggal rilis pasti saat ini. Satu yang pasti, ia akan meluncur eksklusif untuk Playstation 4.

Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…