Review Predator – Hunting Grounds: Eksekusi Tak Sebaik Konsep!

Reading time:
April 30, 2020
Predator Hunting Grounds jagatplay 1

Apakah sebuah game multiplayer asimetris masih bisa disebut sebagai genre yang relevan di industri game saat ini? Jika melihat berapa banyak game yang masih berusaha mendorong genre ini ke pasaran dan jumlah darinya yang berhasil meraih kesuksesan dan popularitas, tidak mengherankan jika banyak dari kita yang mulai meragukannya. Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, game multiplayer asimetris adalah genre yang memuat pertempuran antara dua tim dengan konsep 1 VS (2-4) player, dimana user solo biasnya akan berperan sebagai monster / karakter overpowered yang harus ditundukkan oleh player lain yang harus berkolaborasi sebagai sebuah tim. Salah satu contoh terbaik untuk menyederhanakan konsep ini adalah melihat sistem gameplay yang sempat ditawarkan Evolve atau yang terbaru – Resident Evil Resistance.

Di tengah situasi seperti ini, Illfonic kembali dengan memanfaatkan kekuatan utama mereka – meracik sebuah game multiplayer asimetris berdasarkan franchise film populer yang sudah sempat mereka tempuh dengan Friday the 13th. Kali ini mereka menggunakan film Predator – sebuah seri klasik masa lampau yang memuat pertarungan sebuah Alien pemburu bersenjata mutakhir yang harus berhadapan dengan anggota pasukan tim khusus yang tentu saja menolak mati begitu saja. Di atas kertas, tidak ada lagi konsep sebuah game multiplayer asimetris yang lebih baik. Apalagi seiring dengan lebih banyak lore yang tersedia, sang Predator juga digambarkan sebagai sebuah ras pertarung dan pemburu yang dibagi ke dalam heirarki tersendiri.

Lantas, bagaimana Illfonic mengeksekusi konsep yang satu ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang sayangnya, tidak mampu menawarkan eksekusi sebaik konsep yang hendak ia usung? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Kemenangan “Rancu”

Predator Hunting Grounds jagatplay 137
Mengakar pada versi film tahun 1987-nya, ia memuat pertempuran antara Predator melawan Fireteam berisikan 4 orang.

Seperti kebanyakan game multiplayer asimetris pada umumnya, Predator: Hunting Grounds yang saat ini tersedia untuk Playstation 4 dan PC memang tidak mengusung mode single player campaign sama sekali. Satu-satunya “landasan cerita” yang bisa Anda miliki tentu saja mengakar pada sang film legendaris di tahun 1987 yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, yang temanya kemudian ditranslasikan ke dalam game yang satu ini, baik dari sistem gameplay hingga setting.

Predator: Hunting Grounds memuat sistem pertempuran 1 VS 4. Satu user akan berperan sebagai Predator yang seperti di versi film-nya akan dipersenjatai dengan beragam teknologi mutakhir. Mengadaptasikan filmnya secara akurat, gamer yang menjadi Predator akan memiliki gaya gameplay berbeda dengan misi utama untuk memburu 4 player lainnya yang akan bekerjasama sebagai sebuah Fireteam. Selain beragam senjata mematikan seperti Plasma Cannon dan Stealth Camo, Predator juga memiliki kemampuan untuk bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya sembari kemampuan audio yang lebih sensitif untuk mengetahui dengan lebih baik posisi Fireteam ini.

Predator Hunting Grounds jagatplay 144
Predator = berburu Fireteam.
Predator Hunting Grounds jagatplay 87
Fireteam = menyelesaikan misi yang diminta sembari berusaha bertahan hidup di tengah ancaman Predator. Atau? Mengalahkan langsung si Predator.

Sementara 4 player lainnya akan berfungsi sebagai Fireteam yang seperti bisa diprediksi, juga dibagi ke dalam beragam jenis kelas yang masing-masing darinya akan memiliki buff tertentu. Dengan loadout yang bisa Anda atur, misi utama Fireteam bukanlah memburu Predator. Setiap kali Anda terjun ke lapangan, Anda akan disuguhkan dan dituntut untuk menyelesaikan sebuah sekuens misi acak yang bisa berkutat pada aksi membunuh target, mengirimkan data ke satelit, dan beragam misi lainnya. Fireteam akan dihitung menang jika setidaknya ada satu anggota yang berhasil kabur dari lokasi misi. Selain Predator yang akan terus mengganggu dan memburunya, Fireteam juga harus bertarung melawan pasukan musuh yang dikendalikan AI yang akan menghuni lokasi-lokasi misi.

Satu yang menarik dari Predator: Hunting Grounds sebagai game multiplayer asimetris adalah bagaimana ia juga mengusung sistem cerita yang beradaptasi tergantung pada situasi pertempuran yang Anda alami. Tidak seperti Evolve dimana pihak yang menang hanyalah yang sekedar menghabisi pihak lainnya, yang juga diusung oleh konsep seperti Resident Evil Resistance, Predator: Hunting Grounds menawarkan beberapa kondisi yang berbeda, beradaptasi dengan jalannya pertempuran yang ada. Kerennya lagi? Beberapa situasi ini juga didesain secara rancu. Illfonic tidak menyediakan kata “WIN” atau “LOSE” di bagian akhir pertempuran, sehingga memberikan Anda kesempatan untuk menentukan sendiri apakah Anda berada di pihak yang kalah atau menang.

Sebagai contoh? Ketika Fireteam berhasil mengalahkan Predator sebelum mereka menyelesaikan misi utama mereka misalnya. Alih-alih tetap meminta Anda untuk melanjutkan misi yang seharusnya, misi akan langsung berganti – melindungi dan mengamankan mayat Predator yang baru saja dihabisi agar bisa diteliti oleh pemerintah. Kondisi menang kini menuntut Anda untuk bertahan hidup dalam kurun waktu tertentu sembari mengamankan mayat Predator yang satu ini, bertempur melawan gelombang musuh demi gelombang musuh hingga batas waktu selesai. Game langsung beradaptasi. Sementara untuk sang Predator misalnya, masih ada kesempatan untuk menghancurkan diri sendiri dan berharap bahwa ledakan masif ini akan menyeret anggota Fireteam manapun yang berada di sekitar. Menariknya lagi? Dengan resiko tewas yang tinggi, anggota Fireteam bisa berjuang untuk mematikan peledak ini, membuat mayat ini tidak lagi berbahaya, dan melakukan proses ekstraksi seperti yang kita bicarakan sebelumnya. Jika gagal? Konsekuensinya jelas – mati.

Predator Hunting Grounds jagatplay 89
Misi Fireteam bisa berbeda bergantung pada kondisi pertarungan.
Predator Hunting Grounds jagatplay 42
Keputusan untuk tidak menyertakan tulisan Win dan Lose secara definitif meninggalkan kepuasan bermain tersendiri.

Sistem kemenangan yang rancu memang membuat Predator: Hunting Grounds tampil cukup menarik. Dengan tidak adanya tulisan “Win” atau “Lose” di akhir, Anda sendirilah yang menentukan apakah Anda menang atau kalah. Memang ada beberapa situasi yang tentu sangat jelas ketika kita bicara soal siapa yang menang atau kalah – seperti saat Fireteam berhasil membunuh Predator dan mengamankan mayatnya atau ketika Predator menghabisi semua anggota Fireteam begitu saja. Tetapi ada beberapa situasi lain yang lebih rancu.

Sebagai contoh? Ketika Anda berperan sebagai Predator, berusaha memburu 4 anggota Fireteam ini hingga di akhir misi mereka – dimana mereka mulai memanggil helikopter untuk melarikan diri. Jika Anda berhasil membunuh 3 dari 4 Fireteam dan 1-nya berhasil kabur, apakah si Predator menang atau kalah? Atau di situasi yang lebih genting, jika Anda berperan sebagai Predator yang berakhir tunduk dan berhasil memicu sistem peledakan diri Anda. Karena satu atau sedikit alasan, ledakan ini ternyata berhasil membunuh 3 dari 4 anggota Fireteam dan menyisakan 1 yang cukup beruntung untuk berdiri di luar radius ledakan. Apakah Anda bisa dihitung menang? Situasi soal menang-kalah rancu ini uniknya membuat Predator: Hunting Grounds ini menjadi bisa lebih dinikmati. Anda tidak perlu memikirkan hal ini di akhir pertempuran dan sekadar menikmati jumlah EXP ataupun mata uang in-game yang berhasil Anda kumpulkan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…