Review House of Ashes: Selangkah Lebih Baik!
Tak Lagi Terlalu Mengandalkan Jump-Scare

Jika Anda termasuk gamer yang seringkali membaca review kami, maka Anda sepertinya tahu bahwa kami punya preferensi yang cukup jelas untuk kata “Jump-Scare”. Kami selalu melihat aksi yang seringkali datang dengan objek yang tiba-tiba muncul di layar atau suara yang tiba-tiba kencang di tengah kesunyian ini adalah resep efektif untuk memunculkan rasa TERKEJUT, bukan TAKUT. Oleh karena itu, kami lebih mengapresiasi game-game yang berhasil membangunnya lewat atmosfer yang lebih intens seperti Little Nightmares atau INSIDE misalnya.
Oleh karena itu, apresiasi untuk cita rasa horror yang ditawarkan oleh Supermassive Games di Man of Medan atau The Little Hope dari kacamata kami memang terhitung rendah. Seperti sebuah rutinitas yang tidak bisa mereka hindari, “jump scare” tetap jadi andalan di House of Ashes. Berita baiknya? Porsinya benar-benar jauh lebih menurun. Salah satu alasannya datang dari cita rasa cerita yang memang lebih condong ke arah action daripada horror. Anda tidak lagi berperan sebagai remaja atau orang tua yang tidak bisa melawan. Berperan sebagai prajurit dengan senjata api yang lengkap dan pengetahuan strategis juga mempengaruhi cara cerita seri ini bekerja. Kami mengapresiasi pendekatan baru seperti ini.


Sementara dari sisi presentasi, kemampuan Supermassive Games untuk menawarkan game dengan visual yang indah memang tidak lagi perlu diragukan. Tata cahaya super dramatis dan model karakter definisi tinggi akan bisa Anda antisipasi dari perjalanan Anda masuk ke dalam kuil Mesopotamia yang satu ini. Salah satu sisi presentasi yang berhasil mereka eksekusi adalah skala sang kuil yang benar-benar dicitrakan megah dan besar, hingga Anda sendiri sulit untuk menalar bahwa kebudayaan seperti sempat eksis di masa lampau dunia. Patung-patung dewa menemani di sisi pintu besar, kolam darah dari para korban ditampung bak sebuah danau kecil, hingga beragam struktur misterius yang akan Anda temukan di akhir. Kesemuanya berhasil membangun atmosfer misteri yang solid.
Walaupun demikian, beberapa masalah klasik The Dark Pictures: Anthology dari beberapa seri yang lalu sayangnya, masih terjadi di sini. Anda masih akan menemukan transisi dialog yang masih terasa kaku di banyak kesempatan, animasi gerak yang masih belum seluwes Anda inginkan pada saat cut-scene, hingga pergerakan karakter yang terhenti untuk alasan yang tidak jelas pada saat Anda mengendalikan mereka. Model karakter terlepas dari detail yang memesona untuk proporsi tubuh dan wajah, juga masih sayangnya, masih kurang optimal untuk berekspresi. Ada beberapa situasi dimana reaksi wajah sang karakter justru terasa absurd daripada cocok.

Lantas, bagaimana dengan sisi audio? Untuk urusan game yang menjual kesunyian dan cerita, musik tentu tidak banyak berperan. Pada akhirnya, penilaian diambil dari seberapa baik Voice Acting yang ia usung. Berita baiknya? Segala sesuatu dipresentasikan dalam kualitas yang seharusnya, dimana ekspresi karakter tercemin cukup baik lewat intonasi dan pilihan kata dalam dialog. Semua VA terasa cukup natural, tanpa jatuh pada sensasi seolah-olah mereka tengah membaca script dengan datar. Hal ini juga berlaku untuk karakter-karakter pendukung yang kini ikut membaca narasi untuk jurnal-jurnal yang akan Anda temukan sepanjang eksplorasi.
Formula yang Sama

Untuk sisi gameplay, The Dark Pictures: House of Ashes memang masih mengusung formula gameplay yang sama dengan seri-seri sebelumnya. Bahwa terlepas dari fakta Anda kini berperan sebagai prajurit professional, Anda tetap akan dihadapkan pada banyak situasi dimana ia bisa berujung menentukan hidup dan mati Anda secara instan. Maka seperti “keajaiban” game Supermassive Games yang lain pula lah, cerita akan terus berlanjut dan beradaptasi dengan konsekuensi dari pilihan yang Anda ambil. Sang Curator sebagai “pembawa acara” juga akan memberikan sedikit wejangan di tengah permainan, termasuk clue dan informasi soal karakter penting mana saja yang berhasil hidup atau berujung tewas permanen.
House of Ashes juga masih mengikuti pakem dari The Little Hope yang lebih adil, dimana alih-alih langsung melemparkan kepada Anda ragam QTE dalam waktu super singkat yang butuh reaksi manusia super untuk ditekan, mereka akan memberikan peringatan lebih dahulu lewat sebuah ikon dan suara sebelum segala sesuatunya terjadi. Dengan waktu tekan yang juga rasional, ini akan memberikan Anda cukup banyak ruang untuk merespon apapun tombol yang muncul di layar untuk memastikan karakter Anda melakukan apa yang Anda inginkan.


Satu yang menarik dan terhitung baru adalah bagaimana opsi untuk “tidak melakukan apapun” justru bisa jadi solusi untuk memastikan semua karakter bisa bertahan hidup. Karena seolah jadi menjadi semacam pakem di dua seri sebelumnya bahwa Anda harus menekan tombol apapun yang ditawarkan kepada Anda dan biasanya, ia selalu berujung pada konsekuensi yang positif. Di House of Ashes, tidak sedikit momen dimana tidak menekan apapun, tidak memberikan reaksi apapun, justru jadi kunci untuk memastikan semua karakter bisa bertahan hidup. Ini menuntut Anda untuk memerhatikan situasi yang ada dan berpikir, alih-alih merespon semua tombol apapun yang disajikan kepada Anda.

Sementara dari sistem yang lain, House of Ashes berbagi formula yang benar-benar sama. Anda akan merepson beragam situasi dengan opsi 3 pilihan yang mungkin mempengaruhi jalan cerita. Anda akan dihadapkan pada ragam situasi genting yang juga akan berujung meminta Anda memilih respon,yang biasanya berpengaruh signifikan pada cabang cerita yang tercipta. Anda juga akan bertemu dengan ragam collectibles yang salah satu diantaranya akan memberikan Anda sekelibat potongan scene untuk konsekuensi terfatal yang bisa terjadi, hingga Anda bisa sedikit berjaga-jaga. Anda yang sudah sempat mencicipi The Dark Pictures sebelumnya tidak akan asing dengan pendekatan yang ditawarkan oleh House of Ashes ini.









