10 Waifu Video Game Terbaik di 2022!
-
Alette (Atelier Sophie 2)

Dengan kesuksesan luar biasa yang diraih Ryza, yang bahkan tak pernah terprediksi oleh Gust dan Koei Tecmo sekalipun, berusaha kembali ke seri Sophie alih-alih Ryza tentu saja beresiko tinggi. Jelas bahwa di luar karakter Sophie dengan pakaian yang begitu tertutup dan tak sensual, Gust butuh memperkenalkan karakter baru yang setidaknya bisa “mengisi” rasa haus tanpa hadirnya sosok sekelas Ryza. Dari sisi desain, sepertinya jelas bahwa tanggung jawab tersebut diisi oleh Alette. Namun alih-alih montoknya bagian tubuh bawah, desainnya jelas menonjolkan bagian dada dengan kostum yang terhitung memiliki desain absurd. Dengan peran cukup efektif di pertempuran dan sudut-sudut kamera yang jelas hendak menjual sesuatu, Alette memainkan perannya dengan baik di seri ini.
-
Bayonetta (Bayonetta 3)

Anda tentu tidak bisa tidak memasukkan seorang Bayonetta ketika sebuah judul terbarunya dirilis di tahun yang sama list ini dibuat. Bahwa terlepas dari rasa tidak setuju kami pada beberapa desain gameplay dan juga cerita, pada akhirnya ia tetaplah seorang Bayonetta yang kita kenal. Dengan pakaian yang bahkan terhitung absurd untuk beberapa universe yang ia singgahi, ini masihlah seorang penyihir elegan dengan rasa percaya diri yang siap untuk menundukkan ancaman manapun yang hendak mengakhiri dunia dan semesta. Energi ini masih tercermin jelas di Bayonetta 3 terlepas dari ancaman kelas baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Ini tetap tante penyihir yang tak segan membiarkan rambut yang juga jadi pakaiannya “berkibar bebas” dengan tampilan minim atas nama memanggil monster-monster neraka yang ada.
-
Elena (Star Ocean: The Divine Force)

Pernahkah Anda menemukan sebuah seri game yang sisi desain dan visualnya benar-benar “terselamatkan” oleh satu karakter saja? Tanpa bermaksud berlebihan, inilah yang berhasil dilakukan oleh seorang Elena di pengalaman bermain kami dengan Star Ocean: The Divine Force. Ketika hampir semua karakter, terlepas dari beragam level peradaban yang mereka miliki, datang dengan kostum yang aneh, Elena terlihat begitu cocok untuk memproyeksikan seorang cyborg dari masa depan yang efektif, pintar, dan elegan di saat yang sama. Dengan sebuah game yang kebanyakan menyediakan dialog dengan membiarkan dua atau lebih karakter berdiri dan berbicara dengan tempo yang lambat, kehadiran Elena adalah sebuah penyelamat untuk telinga dan mata. Telinga juga? Iya karena setidaknya tempo lambat dialog yang ia miliki bisa dirasionalisasi mengingat ia adalah seorang cyborg. Kesetiaannya sebagai teman dan kepintarannya yang menyediakan banyak solusi saat masalah terjadi juga memberikan nilai plus ekstra untuk si karakter.
-
Melina (Elden Ring)

Dunia boleh berbeda, pendekatan gameplay dan dunia boleh unik, namun hampir semua seri Soulsbourne racikan From Software selalu berbagi satu elemen yang sama – seorang karakter wanita yang selalu setia hadir untuk memastikan aksi leveling up Anda bisa dilakukan atas nama mempersiapkan diri melawan dunia yang lebih gila. Untuk Elden Ring, posisi tersebut diisi oleh Melina yang juga menawarkan kepada Anda seekor kuda gesit untuk ditunggangi. Karakter sama yang akhirnya mengangkat derajat Anda sebagai seseorang dengan predikat “Maidenless” yang sempat muncul sebagai lelucon di awal. Rasa hangat dan aman yang ditawarkan oleh seorang Melina uniknya di Elden Ring, juga diikuti dengan peran dalam plot yang cukup definitif. Sesuatu yang sedikit mengingatkan Anda pada Emma dari Sekiro.










