Sony Dituduh Mengelola China Hero Project Dengan Buruk
Sony Divisi China dituduh kelola dengan buruk China Hero Project, hingga sebabkan kerugian finansial salah satu studionya.
Inisiatif Sony Interactive Entertainment (SIE) untuk mendukung studio indie di China supaya bisa merilis gamenya ke pasar global via China Hero Project ternyata tidak semulus yang diduga. Meski telah berhasil bantu game seperti AI Limit dan Lost Soul Aside bersaing di pasar global, nyatanya kini timbul tuduhan mismanagement atau pengelolaan yang buruk dari salah satu studio yang terlibat di sana.
Menurut laporan yang dibuat oleh Noisy Pixel, disebutkan studio Loongforce yang berbasis di Chengdu dan mengembangkan game co-op shooter berjudul Convallaria mengklaim telah menjadi korban dari mismanagement itu. Semenjak pergantian kepemimpinan di SIE China pada 2022, beragam kerja sama menjadi sulit, seperti proses komunikasi terhambat hingga tak digubris, dukungan publishing menjadi tak menentu, dan keputusan penting berulang kali ditunda tanpa alasan.

Bahkan ketika Convallaria telah dapatkan persetujuan internal beta dari Sony pada Januari 2025, proyek mereka seakan diabaikan. Tes yang libatkan pemain tidak dilakukan, halaman store tidak dibuat, dan juga tidak ada aktivitas marketing untuk game mereka. Dari sisi marketing, permintaan server, serta perencanaan rilis game juga tidak diberikan respons dari SIE China.
Akibatnya, Loongforce mengalami kerugian bulanan yang diklaim sebesar lebih dari $230.000, sampai membuat studio mereka hampir bangkrut pada April 2025. Meski demikian, tim developer tetap berikan software builds mingguan dan menyelesaikan tes server untuk region Amerika.
Kemudian, studio itu juga katakan Sony belakangan membatalkan persetujuan pembayaran dana pengembangan, dan berikan persetujuan baru yang dikatakan pihak studio tidak masuk akal, membuat Loongforce alami kerugian sekitar lebih dari $1 juta.
Disebutkan pula SIE China sering kali berikan pekerjaan outsourcing ke Virtuos tanpa minta izin studio dan tanpa ada penawaran harga. Mereka juga mengklaim diharuskan membiayai keamanan IT yang dijalankan oleh perusahaan yang dimiliki oleh mantan pegawai Virtuos.
Puncaknya terjadi pada Juni 2025, ketika kepemimpinan pengembangan Convallaria akan dipindahkan ke “SIE Global Team”, dan penolakan dari studio akan akibatkan game itu tidak akan dirilis. Pihak studio melihat langkah itu sebagai usaha untuk mengambil alih kendali proyek mereka.
Loongforce katakan di laporan bahwa mereka telah usahakan resolusi internal selama setahun tanpa ada jalan keluar, hingga akhirnya mereka putuskan untuk bicara di depan publik. Nah, bagaimana menurut Anda mengenai masalah pelik yang menimpa studio indie ini?










