Nintendo Tanggapi Ancaman Hacker Yang Klaim Curi Data Karyawan
Nintendo berikan tanggapan terhadap ancaman dari kelompok hacker yang mengklaim telah curi data dan meminta uang sebagai tebusan.
Ancaman keamanan cyber terhadap perusahaan teknologi dan game memang tidak bisa diremehkan, bahkan untuk perusahaan raksasa sekalipun. Ternyata, Nintendo menjadi nama terbaru yang terseret dalam kasus semacam ini, setelah sekelompok hacker mengklaim berhasil memperoleh data internal perusahaan, dan menuntut tebusan sebesar $2 juta.
Kelompok yang menamakan diri ShadowByt3$ mengaku berhasil mencuri sekitar 1 GB data melalui TinyPulse, layanan pihak ketiga yang digunakan Nintendo of America untuk survei internal karyawannya. Menurut klaim mereka, data tersebut mencakup nama dan alamat email karyawan, hasil survei, laporan analitik, hingga dokumen rekening bank.

Menanggapi ancaman tersebut, perusahaan gaming itu memberikan pernyataan resmi via Kotaku, menegaskan bahwa sistem internal mereka tidak mengalami kompromi. Raksasa gaming asal Jepang itu juga menyatakan bahwa tidak ada data pelanggan maupun informasi keuangan yang berhasil diakses. Data yang terdampak disebut hanya terbatas pada konten survei internal dari sebagian kecil karyawan, dengan mayoritas informasi berasal dari beberapa tahun lalu.
Nintendo juga mengungkapkan bahwa mereka tengah bekerja sama dengan TinyPulse untuk menangani insiden ini. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas ancaman tebusan yang sebelumnya diajukan oleh ShadowByt3$, yang meminta pembayaran uang untuk pengembalian data tersebut.
Karena tidak mendapat respons yang memuaskan, kelompok tersebut kemudian mengalihkan tekanannya kepada TinyPulse. Mereka memberikan tenggat waktu hingga 16 Juni, dan mengancam akan membocorkan seluruh data yang dimiliki, termasuk pesan pribadi karyawan Nintendo. Bahkan, para peretas itu mengklaim bahwa sebagian informasi yang mereka peroleh menunjukkan adanya ketidakpuasan sejumlah karyawan terhadap perusahaan.
Bagaimana menurut Anda mengenai respons Nintendo terhadap ancaman ini? Apakah langkah perusahaan itu untuk tidak memenuhi tuntutan tebusan sudah tepat?










