Rumor: PS6 Diklaim Akan Gunakan Frame Generation Berbasis AI
Bocoran terbaru menyebut PS6 akan mengandalkan AI, Super Resolution, dan Virtual Frame Interpolation untuk menghadirkan pengalaman 4K 120 FPS.
Semakin mahalnya biaya pengembangan hardware gaming saat ini, terutama untuk console generasi berikutnya, tampaknya tidak lagi hanya bisa mengandalkan pada peningkatan spesifikasi hardware mentah semata. Baik Sony maupun Microsoft kini menghadapi tantangan yang sama, yaitu bagaimana menghadirkan lompatan teknologi yang terasa signifikan tanpa membuat harga perangkat menjadi terlalu mahal bagi konsumen.
Sebuah bocoran terbaru dari Moore’s Law Is Dead memperlihatkan bahwa Sony tampaknya telah menemukan jawabannya. Bukannya hanya mengejar peningkatan performa hardware tradisional, PlayStation 6 (PS6) diklaim akan menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI sebagai salah satu fondasi utama untuk mendorong performanya.

Melalui episode terbaru di podcast Broken Silicon, sang leaker mengungkap sejumlah poin yang disebut berasal dari pertemuan internal Sony terkait arah pengembangan hardware next-gen mereka. Beberapa tema utama yang dibahas antara lain keterbatasan biaya produksi console, pemanfaatan machine learning untuk Super Resolution, dan Virtual Frame Interpolation (VFI), serta fokus terhadap efisiensi daya yang dipicu oleh regulasi baru di Eropa.
Yang paling menarik tentu adalah keberadaan Virtual Frame Interpolation. Teknologi ini pada dasarnya memiliki tujuan yang mirip dengan frame generation modern, yang saat ini populer di dunia PC melalui NVIDIA DLSS maupun AMD FSR. Dengan memanfaatkan AI, sistem dapat menghasilkan frame tambahan di antara frame yang dirender secara asli, menciptakan pengalaman visual yang terasa lebih mulus tanpa harus mengandalkan komponen hardware dengan kemampuan ekstrem, yang pastinya begitu mahal.
Menurut bocoran tersebut, Sony ingin menghadirkan pengalaman yang terasa seperti bermain di resolusi 4K dan 120 FPS tanpa harus membebankan seluruh proses tersebut pada kekuatan hardware. Strategi ini dianggap penting untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali, terutama di tengah melonjaknya harga komponen seperti memory dan chip.
Pendekatan tersebut sebenarnya cukup masuk akal jika melihat kondisi industri saat ini. Harga hardware gaming terus mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan perangkat seperti Steam Machine yang baru diumumkan Valve disebut hadir dengan banderol di atas $1.000. Dalam situasi seperti ini, memanfaatkan AI untuk menutup kesenjangan performa akibat penggunaan hardware yang lebih rendah menjadi solusi yang menarik.
Selain aspek hardware, diskusi dalam podcast tersebut juga menyinggung kemungkinan peningkatan besar pada sisi software. PS6 dikabarkan berpotensi menghadirkan interface UI baru yang lebih modern, lengkap dengan integrasi AI dan sistem pengenalan suara yang jauh lebih canggih dibanding generasi sebelumnya.
Menariknya, muncul pula spekulasi bahwa sebagian fitur AI di PS6 tersebut dapat dihubungkan dengan ekosistem PlayStation Plus. Jika benar, Sony berpotensi menjadikan kemampuan premium tertentu sebagai bagian dari strategi untuk mendorong lebih banyak pengguna PS6 untuk berlangganan tier PlayStation Plus Extra maupun Deluxe.
Tentu saja, seluruh informasi ini masih berada di ranah rumor dan belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Sony. Namun jika bocoran tersebut akurat, PS6 tampaknya akan menjadi console yang lebih mengandalkan kecerdasan buatan dibanding generasi-generasi sebelumnya, sejalan dengan strategi baru Sony untuk merangkul penggunaan AI di PlayStation yang terungkap belum lama ini.
Bagaimana menurut Anda mengenai prediksi dan bocoran mengenai PS6 itu? Apakah Anda merasa frame generation berbasis AI demi memangkas harganya cukup menarik untuk menjadi alasan utama melakukan upgrade ke PS6?









